Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Fahira Idris, Sahur on the Road, dan Penyakit Lupa Kambuhan

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
19 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tahun ini Jakarta kembali melarang sahur on the road, membuat netizen mendesak Fahira Idris menunjukkan sikapnya. Dulu Ahok melarang, Uni marah. Kok sekarang beda?

Setelah enggan berkomentar selama beberapa waktu karena alasan kesibukan, akhirnya Uni Fahira Idris kultwit lagi. Sungguh, sudah kita semua nanti-nantikan kultwit yang selalu beliau buka dengan salam yang aduhai lembutnya itu.

Jadi, Uni Fahira butuh 18 twit untuk menjelaskan sikapnya yang dianggap “berbeda” terkait kebijakan Gubernur DKI Jakarta yang lalu, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dengan gubernur yang sekarang, Anies Baswedan, terkait pelarangan acara sahur on the road atau sahur on the streat. Biar keren, kasih tagar #SOTR dan #SOTS.

Dulu, ketika Ahok melarang warga Jakarta melakukan sahur di jalanan, Uni Fahira Idris terusik hatinya. Meradang. Marah. Yang ia tumpahkan lewat Twitter. Saat itu senator berusia 50 tahun ini berjanji bahwa jika sahur di jalan dilarang, Ahok harus berhadapan dengan dirinya.

Saya bayangkan saat itu dua jempol Uni Fahira bergerak dengan cepat di atas layar ponsel pintar saking marahnya untuk membuat satu twit yang terasa menggugah itu. Lagian Ahok ini aneh juga. Mau sahur di jalan kok dilarang. Kan itu bentuk niat ibadah, yaitu berbagi dengan sesama. Pahalanya besar.

Nah, yang dilarang oleh Ahok adalah akibat yang ditimbulkan oleh sebagian besar anak muda, yang menggelar sahur on the road. Memang, mereka ini membagikan makanan kepada yang membutuhkan. Namun, setelah berbagi, yang terjadi justru pada tawuran. “Bacok-bacokan,” kalau mengutip kata-kata Ahok 2014 silam.

Lantaran lebih banyah mudaratnya, Ahok melarang sahur on the road. Sebuah kebijakan yang dikecam banyak orang, salah satunya oleh Uni Fahira yang meski pernah berfoto menggunakan senjata laras panjang, namun masih terlihat sejuk itu.

Nah, berbeda dengan 2014 lalu, sikap Uni Fahira berubah ketika Anies Baswedan dan Sandiaga Uno juga melarang acara sahur on the road.

“Kami juga imbau jangan lagi ada sahur on the road yang konvoi-konvoi. Itu mengganggu ketertiban masyarakat,” kata Pak Sandiaga di Balai Kota, Selasa kemarin.

Bukankah kebijakan Anies-Sandi ini sama saja dengan kebijakan Ahok-Djarot dulu? Mengapa Uni Fahira nggak ngamuk lagi? Sudah ingat bahayanya tensi terlalu tinggi?

Berdasarkan kultwit Uni Fahira, kebijakan pelarangan sahur on the road yang sekarang dengan yang Ahok dulu sangat berbeda. Menurutnya, pemerintah DKI yang sekarang sudah memberi solusi ketika membuat sebuah larangan. Saya tunjukkan dua twit Uni saja supaya jelas, lalu kita analisis satu per satu.

Saya kasih sedikit latar belakang. Di twit nomor 8 dan 9, Uni mengapresiasi ide Pemprov DKI terkait solusi ketika sahur on the road dilarang. Nah, solusi dari Pemprov adalah mengadakan acara sahur bersama di tempat-tempat yang ideal, misalnya masjid.

Di twit nomor 10, Uni memberi penegasan bahwa sahurnya bukan on the road, tapi on the spot. Menurut Uni, ini adalah kebijakan yang baru dan cemerlang. Tidak seperti Ahok yang Uni sebut sebagai melarang tapi “TANPA ADA SOLUSI”.

Iklan

Benarkah demikian? Apakah Ahok tidak memberi solusi? Ini bukannya membela Ahok ya. Cuma, makin sering, karena kebencian dan preferensi politik, akal sehat itu menjadi barang langka. Yang seperti ini bakal makin banyak menjelang Piala Dunia 2018. Eh, maksud saya pemilu nanti.

Jadi, pada 2014, sesuai yang dikutip oleh situsweb wartakota.tribunnews.com, Ahok sudah memberi solusi ketika membuat kebijakan pelarangan sahur on the road. Jadi Ahok bilang begini, saya kutip utuh.

“Kalau Anda mau sahur bersama di masjid juga bisa. Enggak perlu kebut-kebutan. Anda ngajarin anak-anak jalanan sambil salat subuh kenapa gitu? Sambil sahur di masjid gitu. Kenapa sih mesti dibuat di jalanan sampai kebut-kebutan dan bacok-bacokan,” ujar pria yang akrab disapa Ahok itu di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (21/7/2014).

Sudah jelas ya. Ahok memberi solusi. Sahur lebih baik dilakukan di masjid saja ketimbang di jalanan yang ujungnya berakhir kisruh.

Ya, saya sih mencoba memaklumi, usia Uni sudah setengah abad. Jika lupa sedikit yang masih bisa dimaklumi. Cuma, usul saja, selain untuk bikin kultwit, ponsel pintarnya juga buat cek data. Googling saja, apakah dulu Ahok pernah membuat larangan sahur on the road sekaligus memberi solusi, atau tidak. Lha wong saya saja bisa, masak seorang senator tidak mampu.

Lalu kamu bertanya, “Kok kayaknya Mojok ini mencari-cari kesalahan Uni Fahira Idris saja, sih? Mbok beli takjil saja buat buka puasa!”

Ya memang, Mojok memang mencari-cari kesalahan. Mengapa? Ya biar yang seperti Uni lakukan ini tidak terjadi lagi. Menuduh, tapi ternyata salah. Kalau ponsel pintarnya hanya untuk menebar kebencian, ha mending dijual, lalu uangnya dibelikan kolak buat buka puasa saja.

Saya tutup tulisan ini dengan:

Baca juga: “Pejah Gesang Nderek KaFah, Hidup Mati Ikut Ridwan Kamil-Fahira Idris“

Terakhir diperbarui pada 22 September 2018 oleh

Tags: ahokAnies BaswedanFahira IdrisjakartakultwitSahur on The Roadtwitter
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO
Cuan

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.