MOJOK.COMenyebarkan kebahagiaan dengan berbagi hiburan itu berkahnya besar di surga. Terima kasih, Ustaz Tengku Zulkarnain.

Beberapa minggu yang lalu sempat ramai tagar #KembaliKeTwitter. Tagar itu dipakai banyak orang untuk menggambarkan kebahagiaan mereka setelah selesai beraktivitas atau sebagai penanda menyambut hari libur. Twitter menjadi jujugan, menjadi stress release setelah capek seharian bekerja.

Tapi saya tahu, kok, kalau tujuan sebenarnya orang-orang itu kembali ke Twitter cuma buat nyari Ustaz Tengku Zulkarnain. Beliau adalah oase di tengah padang gurun. Setetes embun yang membuat pagi semakin sejuk. Seperti pecahan ray of light di ujung senja yang romantis. Seperti puisi tentang cinta yang dilagukan oleh Kunto Aji.

Ustaz Tengku Zulkarnain adalah terjemahan paling sempurna akan kerinduan-kerinduan yang diteriakan oleh Didi Kempot lewat “Stasiun Balapan”. Seperti “Pantai Klayar” yang meninggalkan kenangan. Oleh sebab itu, dear netizen, mari sambut Ustaz Tengku Zulkarnain, duta Twitter paling menghibur.

Saya nggak follow Ustaz Tengku Zulkarnain di Twitter. Tapi, entah bagaimana caranya, cuitan beliau rajin wira-wiri di lini masa saya. Apakah karena Twitter tahu kalau saya sering breakdown karena kecapekan kerja dan sedang menjalani tirakat LDR sehingga butuh hiburan? Twitter sungguh memahami penggunanya.

Hiburan yang ditawarkan oleh Ustaz Tengku Zulkarnain sangat orisinal. Namun sayang, cuitannya yang sungguh menggugah itu malah membuat namanya tercoreng. Beliau dianggap tukang bikin dan sebar hoaks. Bahkan pernah disebut sebagai penebar rasa takut. Saya curiga, sebetulnya cuitan Ustaz Tengku Zulkarnain itu bernada satire. Sebuah sindiran halus buat para pemangku jabatan dan penyusun peraturan.

Mari kita dedah beberapa cuitan Ustaz Tengku Zulkarnain yang bikin gaduh itu.

Pertama, soal cuitan Ustaz Tengku Zulkarnain yang dianggap merendahkan harkat pembantu. Beliau bilang begini:

“…Dan rata-rata orang pintar berpendidikan bukan pembantu…Alhamdulillah…” Kalimat penutup ini bikin medsos gaduh. Beliau dianggap nggak menghormati profesi asisten rumah tangga atau pembantu. Namun, pernahkah kamu berpikir kalau profesi pembantu memang pada kenyataannya sering direndahkan? Bahkan, TKI banyak disiksa dan diperlakukan tidak manusiawi.

Ada berapa banyak pembantu yang berpendidikan? Setidaknya pernah menempuh bangku kuliah? Jangan-jangan cuma sedikit atau tidak ada. Menyampaikan maksud secara normatif, dengan imbauan misalnya, sering tidak sampai ke pemangku kebijakan. Sering terjadi, masalah-masalah elementer seperti pendidikan baru di-notice sama pemerintah setelah viral.

Saya yakin Ustaz Tengku Zulkarnain paham betul dengan fakta ini. Makanya, beliau menyindir secara halus lewat akun pribadinya. Ada berapa dari kita yang berhasil membaca maksud mulia tersebut? Yang terjadi kita malah meledek beliau. Memang, seorang filsuf belum jadi filsuf yang orisinal kalau kata-katanya mudah dipahami. Contohnya Rocky Gerung, Bapak Filsuf Twitter.

Baca juga:  Akui Saja, Sejak Kecil Kita Memang Dididik untuk Rasis

Ha mbok yakin, kalau Ustaz Tengku Zulkarnain collab sama Rocky Gerung, Plato akan memikirkan ulang usahanya membangun Akademi Platonik. Plato pasti bakal memilih bikin usaha pecel lele atau jualan bubble tea, ketimbang repot-repot menerjemahkan sebuah gagasan, mendahului konsep fisik. “Buku itu bukan buku, tetapi gagasan manusia akan sebuah konsep bernama buku.” Dasar cinta platonik, ribet betul.

Lewat keribetan dan kegoblokan yang terlihat orisinal itulah Ustaz Tengku Zulkarnain menyampaikan gagasannya. Cuma orang yang pernah mengalami aufklarung yang bisa memahaminya.

Simak juga pemikiran Ustaz Tengku Zulkarnain atau yang mesra disapa Papa Nain soal kecurangan dalam demokrasi berikut:

“…Kecurangan dlm Demokrasi. Demokrasi Curang. Curang adalah Demokrasi…?” kamu merasa akrab dengan teknik pengulangan seperti yang digunakan Papa Nain? Ya, cuitan Papa Nain itu adalah mimik dari ungkapan terkenal Biksu Tong; “Kosong adalah isi, isi adalah kosong.”

Maka, sindiran Ustaz Tengku Zulkarnain soal kecurangan yang biasa ada di demokrasi itu bukan betul-betul soal kecurangan. Ini semua adalah konsep saja, sebuah gagasan, seperti cinta platonik ala Plato. Yang ingin disampaikan oleh Papa Nain adalah ajakan kepada kita semua untuk nonton Kera Sakti lagi. Dengan sangat cerdas Papa Nain menyamarkan gagasannya lewat sebuah sindiran. Ini teknik tinggi yang Ivan Lanin pun akan berlutut menyerah, memikirkan ulang teknik penulisan dan teknik bikin wording di Twitter.

Yang terbaru, kamu sudah menyisihkan waktu untuk memikirkan cuitan Ustaz Tengku Zulkarnain soal bahayanya ibu kota pindah ke Kalimantan Timur?

Beliau mengungkapkan kekhawatirannya. Ibukota di Kalimantan Timur itu sangat bahaya karena mudah dijangkau oleh rudal Cina. Bahkan Ustaz Tengku Zulkarnain sampai repot-repot menambahkan garis lurus dari Beijing ke Kalimantan Timur. Makna implisit apa yang terkandung di dalam cuitan Papa Nain?

Apakah Papa Naik sebodoh itu dengan menganggap Indonesia nggak punya sistem anti-rudal? Wah, kamu jahat betul kalau berkesimpulan seperti itu. Meremehkan pengetahuan militer beliau.

Baca juga:  Cerita Seorang Cina dan Obrolan Sekolah Paket C

Dengan sangat cerdik, Ustaz Tengku Zulkarnain mengalihkan perhatian netizen dengan garis biru. Yang perlu kamu perhatikan adalah daerah mana saja yang dilewati oleh garis tersebut. Betul, garis itu melewat Laut Cina Selatan!

Papa Nain, yang selama ini sudah menahan diri akhirnya buka suara kalau di Laut Cina Selatan itulah bersemayam Atlantis! Saya curiga Papa Nain itu temen sekolahnya Poseidon.

Ingat lagi pelajaran zaman SMP, wabil khusus pelajaran sejarah. Majapahit itu bisa menyatukan Nusantara. Wilayahnya juga meliputi Laut Cina Selatan. Apa? Kamu bilang saya bohong? Sudah, ikuti saja analisis ini biar Papa Nain senang.

Mengapa Majapahit ingin menguasai Laut Cina Selatan? Karena mereka sudah menemukan keberadaan Atlantis! Mapatih Gajah Mada pasti sudah menemukan sebuah sonar yang advance melebihi zamannya. Sebuah sonar canggih dari buah maja yang fermentasikan dan diwariskan ke Papa Nain. Jadi, Papa Naik keturunan Gajah Mada? Sstt…tolong jangan sebarkan rahasia ini. Beliau itu pemersatu.

Betul, beliau adalah pemersatu bangsa lewat ciutannya yang sangat menghibur dan penuh muatan bijak. Akal kita saja yang terbatas untuk menerjemahkan kegoblokan-keglobokan beliau.

Kalau belum bisa memahami makna luhur di balik cuitan Papa Nain, posisikan diri kamu untuk menerima berkah dalam bentuk hiburan. Misalnya begini:

Saya yakin Pak Burhanuddin Muhtadi dan lainnya juga masih belum bisa menyingkap makna luhur cuitan Papa Nain. Maka, beliau menempatkan cuitan garis imajiner Papa Nain sebagai hiburan. Papa Nain juga ahli rudal! Betul-betul versatile, bisa banyak ilmu. Contohlah beliau.

Menyebarkan kebahagiaan dengan berbagi hiburan itu berkahnya besar di surga. Terima kasih, Ustaz Tengku Zulkarnain, duta Twitter paling menghibur.

BACA JUGA Bukan Cuma Tengku Zulkarnain Saja yang Suka Rendahkan Profesi Pembantu atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles