• 205
    Shares

MOJOK.COTanggal 5 September, PSIM Yogyakarta berulang tahun. Usia 89 tahun adalah usia yang panjang. Menjaganya “tetap biru” adalah tanggung jawab kita semua.

Eyang Kakung saya penonton sepak bola yang tekun. Segala jenis pertandingan sepak bola, mau sepak bola Eropa atau Indonesia, akan beliau tonton.

Pakaian kebesarannya ketika menonton bola saya ingat lamat-lamat. Kakung mengenakan sarung berwarna krem motif kotak-kotak, kaos oblong warna putih, mengenakan kaca mata dengan lensa yang tebal, kadang merokok cangklong kadang Dji Sam Soe, duduk di kursi rotan, kaki disilangkan, beliau tekun menonton tayangan sepak bola.

Tidak ada klub sepak bola Eropa yang ia dukung secara spesifik. Ia menikmati segala tayangan. Televisi berwarna yang mulai menjamur di tahun 1990an membuatnya semakin sering menonton sepak bola. Namun, ketika berbicara hasrat, ia akan mengarahkan telunjuknya ke arah barat, ke arah Stadion Mandala Krida. Ia fans PSIM Yogyakarta yang menyenangkan.

Bapak pernah bercerita. Ketika kecil, ia dipunji di atas pundak Kakung untuk berangkat ke Mandala Krida untuk nonton PSIM. Kakung bekerja di sebuah jawatan transportasi di Semarang. Namun, ketika ia pulang ke “rumah”, yang ia maksud adalah Mandala Krida. Dengan blazer berwarna cokelat dan celana kain berwarna hitam, ia sangat tertib datang ke stadion.

Kakung pula yang mengenalkan PSIM Yogyakarta kepada kakak-kakak saya. Kakung, bapak, kakak-kakak saya, secara de facto adalah fans PSIM. Tinggal berdekatan dengan Stadion Mandala Krida membuatmu secara otomatis terpapar gairah dan hasrat mendukung Parang Biru. Tetangga kami adalah fans fanatik, mencetak bendera-bendera besar, mencetak banyak kaos untuk mendukung, dan tenti saja mendirikan laskar. Saya masih ingat namanya: Laskar Surogento. Saya suka pilihan nama itu.

Kedekatan dengan PSIM sudah terbangun sejak saya mulai mengenal sepak bola, mungkin sekitar kelas tiga bangku sekolah dasar. Bapak saya berkawan baik dengan beberapa penggawa Parang Biru. Dua persona yang masih membekas dalam sanubari saya adalah Bambang Sumantri dan tentu saja, the one and only (bagi saya), Rofik Ismanto.

Bambang adalah sosok yang hangat, terbuka, dan senyumnya tegas di tengah wajah semi-kotaknya. Beliau murah hati, pernah menghadiahi saya setelan jersey PSIM dengan cetakan nomor 25. Setelan itu harta karun saya, meskipun sayang, sekarang raib entah ke mana pasca-gempa Jogja sekian tahun lalu.

Lain Bambang, lain Rofik Ismanto. Striker tajam dengan torehan bekas operasi di lututnya adalah seorang person yang menarik. Tawa yang khas dan renyah selalu tersemat ketika kami bertemu dan senyum bak Al Pacino yang sering ia umbar menghiasi wajahnya masih membekas dalam kotak ingatan saya soal PSIM.

Ingatan soal klub ini semakin menguat menjelang tanggal 5 September, ketika PSIM berulang tahun. Tahun 2018 ini, Parang Biru akan berulang tahun ke-89. Usia yang panjang, bahkan lebih tua ketimbang Indonesia. Bersama beberapa klub klasik Nusantara, PSIM memang membidani lahirnya PSSI beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka.

Baca juga:  Tiga Hal Baru di Mandiri ArtJog 9

Ia memang sebetul-betulnya warisan. Dilahirkan, dirawat, dan diteruskan kepada generasi selanjutnya. Ia adalah warisane simbah, sebuah julukan yang termanifestasikan secara nyata di kehidupan saya. Ulang tahun bukan sekadar perayaan semata, apalagi untuk sebuah harta yang perlu diwariskan.

Artinya, generasi saat ini punya tanggung jawab moral untuk meneruskannya kepada generasi mendatang. Saya rasa, ini tanggung jawab mulia dengan tingkat beban yang besar. Bagaimana cara kita menjaganya?

Satu tungku, tiga batu untuk langgengnya nama PSIM

Cara menjaga PSIM disajikan dengan begitu apik lewat analogi dalam buku Melawat ke Timur karya Kardono Setyorakhmadi, seorang jurnalis jempolan.

Di dalam bukunya, Kardono menyajikan fakta-fakta menyenangkan bahwa di daerah yang selama ini dianggap “penuh kekerasan” justru mempunyai penawar mujarab untuk, mungkin, hampir semua konflik horizontal di Indonesia. Penawar yang mujarab tersebut bernama “satu tungku, tiga batu” yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Fakfak.

Konsep “tiga batu” merujuk pada pemeluk agama (Islam, Kristen, dan Katolik) yang sama-sama menunjukkan niat menjaga kerukukan beragama dan kehidupan sehari-hari. Konsep ini sifatnya harga mati dan begitu dihayati.

Sebagai gambaran, selama bulan Ramadan, angka kejahatan di Fakfak hampir nol. Semua menghormati bulan penuh berkah ini. Jika Anda tak percaya, silakan berkunjung ketika bulan Ramadan tiba. Anda akan mendapati budaya sungkan yang begitu dalam.

Ketika bulan Ramadan, orang Kristen tidak akan pernah makan, minum, atau merokok di depan orang Islam. Mereka akan menyingkir, misalnya masuk ke dalam rumah apabila ingin minum atau makan. Warung-warung akan tutup dengan iklas dan sendirinya tanpa ada paksaan dan razia yang kekanan-kananakan.

Ketika Lebaran tiba, orang-orang Kristen akan datang ke tempat salat Ied dilaksanakan. Mereka akan mengenakan peci dan sarung, jadi Anda akan susah membedakan mana yang Muslim, mana yang Kristiani. Mereka akan duduk mendengarkan khotbah, lalu memberi salam, bersalam-salaman selepas salat Ied usai.

Begitu pula ketika Natal menjelang. Saudara-saudara Muslim akan menjadi panitia gelaran Natal, mulai dari mengurus keamanan hingga berpartisipasi ketika misa atau kebaktian berlangsung. Mereka akan duduk di dalam gereja dan mengikuti ibadah dengan iklas, tanpa mempermasalahkan soal iman.

Bahkan tak jarang pula, saudara Kristiani akan menjadi panitia pembangunan masjid. Pada intinya, kesadaran akan perbedaan begitu tinggi, namun semuanya itu adalah bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang perlu dirayakan. Saling menghormati adalah perkara mudah.

Baca juga:  Terus Terang Saja, Warisan adalah Tahi

Tiga agama merupakan “tiga batu” yang menopang “satu tungku”. Sebuah analogi manis bahwa semua manusia yang hidup beranak-pinak di tengah masyarakat memerlukan suasana damai dan kondusif.

Supaya tungku tersebut mengasilkan masakan yang lezat, dibutuhkan bumbu yang tepat, dan terutama penyangga yang kokoh. Masalah iman adalah masalah sepele. Kekerasan dengan latar belakang agama dan dinamika sosial di Pulau Jawa menjadi terlihat seperti masalah anak kecil saja.

Masyarakat di Fakfak juga dengan sadar harus meredam potensi konflik yang disebabkan oleh biang eksternal. Misalnya ketika pecah kerusuhan Ambon, ada beberapa usaha provokasi untuk membuat Fakfak menjadi medan perang selanjutnya.

Namun, para tokoh agama dan adat bersatu padu, saling meneguhkan dan menjaga. Hasilnya, provokasi brengsek tersebut berhasil ditepis. Fakfak tetap aman, dan “tungku” tersebut terus mengepulkan aroma masakan yang tak hanya lezat, namun juga bergizi.

Tiga batu untuk menopang satu tungku bernama PSIM Yogyakarta. Tiga batu yang menopang klub bersejarah ini adalah klub itu sendiri, manajemen, dan suporter. Tiga aspek yang menjunjung tinggi nilai setali tiga uang. Tiga hal ini harus selalu bersepakat.

Klub bisa menjadi representasi sebuah daerah. Prestasi bisa menjadi tolok ukur, namun yang paling penting adalah eksistensi itu sendiri. Keberadaannya harus tetap langgeng karena memengaruhi dua aspek lainnya, yaitu manajemen dan suporter.

Manajemen menjadi penyeimbang. Kerja mulianya “satu tangan”-nya adalah menjaga nama klub tetap sehat, transparan, dan profesional. Sementara “satu tangan” lainnya adalah menjaga kedekatan dengan suporter. Ikut menjaga, mengayomi, dan membesarkan suporter jelas kudu dilakukan. Ketika suporter menjadi besar, manajemen dan klub juga yang akan diuntungkan.

Suporter adalah batu yang kokoh. Ia ada untuk memperjuangkan klub, tentu dengan cara yang bersih dan sejuk. Ketika ia justru merepotkan, seperti batu yang lapuk, tungku itu akan koyak. Ibunda tak akan bisa memasak. PSIM punya basis pendukung yang besar. Sebuah kekuatan untuk kemajuan yang tiada tara. Untuk maju bersama, tanpa merugikan satu sama lain. Seperti “satu tungku tiga batu” di kebudayaan Fakfak.

Delapan puluh sembilan tahun PSIM. Sudah banyak dinamika yang ia lewati. Untuk mencapai usia 90, 100, atau 150 tahun, tiga batu dalam wujud klub, manajemen, dan suporter harus tetap dekat, duduk bersama, berdiang di depan api bernama PSIM. Saling menguatkan, terutama di masa-masa susah. Klub ini kuat, ketika semuanya bersatu.

Bagi saya, PSIM adalah sebenar-benarnya warisan. Warisan tiga generasi yang kelak pasti saya turunkan kepada anak dan cucu. Pada akhrirnya, usaha menjaga PSIM adalah usaha untuk berlutut di depan kerja mulia menjaga sebuah warisan. Selamat ulang tahun PSIM. Sehat dan bahagia selalu.

  • 205
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles