MOJOK.COJangan sampai kebahagiaan dan kelegaan Piala Menpora, tidak menjadi kabar baik tapi kesedihan karena meminta “tumbal”.

Kemarin, Kamis (18/2), kabar “turnamen pra-musim” untuk sepak bola Indonesia datang juga. Akhirnya, kepolisian memberi izin keramaian supaya kompetisi balbalan Indonesia bisa bergeliat lagi. Kabar ini disambut dengan kelegaan yang luar biasa oleh banyak klub Indonesia.

Akun-akun media sosial, terutama dengan corak sepak bola, bahkan menyebutnya sebagai “kabar baik”. Membaca dua kata, “kabar” dan “baik”, bersanding untuk merespons kompetisi pra-musim yang disebut Piala Menpora ini membuat saya tertawa.

Pertama, tolong maafkan saya yang selalu pesimis dengan sepak bola Indonesia. Apalagi sepak bola atau kompetisi seperti Piala Menpora ini yang digelar di tengah pandemi. Kedua, syarat dari kepolisian kepada PT Liga Indonesia Bersatu (LIB) sebagai penyelenggara juga tidak kalah lucu, yaitu menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Mengapa saya tertawa? Silakan jelajahi kolom komentar dari unggahan akun-akun Twitter sepak bola Indonesia. Sudah ada beberapa akun yang bilang siap “nyetadion” ketika Piala Menpora berlangsung. Padahal, kita tahu, salah satu syarat kompetisi ini berjalan adalah tanpa kerumunan alias tanpa penonton.

Ini semua masalah mental kebanyakan orang Indonesia. Dan, tentu saja, suporter sepak bola adalah bagian dari orang Indonesia, bukan? Mental untuk disiplin saja masih sangat sulit untuk terwujud, bagaimana mungkin mau membuat acara yang akan menyedot atensi ratusan ribu pecinta sepak bola?

Lha wong, sinetron Ikatan Cinta saja ada yang bikin nonton bareng. Mana mungkin kompetisi yang nama Piala Menpora ini bakal berbeda. Kenapa saya curiga seperti ini? Ya karena kita masih dalam pandemi dan vaksinasi belum merata. Bahkan di beberapa daerah, vaksinasi terhambat karena kepala daerahnya belum sempat hadir untuk “seremonial”. Goblok betul.

Saya tahu, kantong-kantong suporter dan akun-akun media sosial sepak bola Indonesia bakal menggelar kampanye tidak perlu datang ke stadion. Banyak yang akan patuh. Namun, saya kok curiga, ada banyak juga yang tetap bebal dengan berkerumun di sekitar stadion atau memadati tempat nonton bareng tidak resmi.

Bagaimana cara organisasi suporter resmi dan akun-akun sepak bola Indonesia yang menyebut Piala Menpora ini sebagai “kabar baik” menjamin tidak ada kerumunan? Bagaimana klub dan LIB bisa menjamin hal yang sama? Apakah dengan meminta kepolisian mengusir dan membubarkan kerumunan itu? Berani?

Ingat, pemerintah asyik mengganti istilah dari PSBB ke PPKM, tetapi isinya sama saja. Tidak ada ketegasan dari penegak aturan dan tidak ada kesadaran dari masyarakat. Butuh bukti? Silakan tengok pasar dan pusat perbelanjaan. Silakan tengok lagi kawasan-kawasan wisata. Ukur kepadatannya dengan akal sehatmu sendiri.

Lalu ada Kabupaten Sleman, bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta, yang disebut menjadi salah satu tuan rumah Piala Menpora. Saya tidak ingin menjelaskan terlalu panjang. Silakan pembaca memasukkan kata kunci ini di mesin pencarian: “corona DIY tirto.id”.

Lewat kata pencarian itu kamu akan menemukan betapa penanganan corona di DIY masih diselimuti oleh “misteri”. Bahkan DIY sudah kewalahan menangani pandemi setelah pintu pariwisata dibuka per Natal 2020 kemarin. Nah, bagaimana LIB, klub, dan para suporter menjamin tidak ada kerumunan selama Piala Menpora?

Saya tidak membenci sepak bola Indonesia. Saya hanya kesal dan lelah dengan segala drama dan kebusukan yang selalu mengikuti. Saya juga ingin menjadi bagian dari teman-teman akun sepak bola Indonesia yang mengingatkan kamu semua untuk jangan datang ke stadion atau tempat nonton bareng.

Istilah “protokol kesehatan” yang digaungkan pemerintah itu sudah tidak jelas maknanya. Orang bikin istilah itu memang selalu lebih gampang ketimbang melaksanakan perintah dari istilah tersebut.

Jangan sampai Piala Menpora menjadi klaster baru. Jangan sampai sepak bola Indonesia terekam oleh sejarah sebagai salah satu “pesta” yang menuntut tumbal nyawa demi kebahagiaan segelintir orang. Risikonya terlalu mahal untuk kebahagiaan yang dipaksakan.

BACA JUGA PSSI dan Indra Sjafri Mencoreng Arang ke Kening Sendiri dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Dengan atau Tanpa Pandemi, di Masa Depan, Pembelajaran Jarak Jauh Memang Bakal Menjadi Tren Baru