• 16
    Shares

MOJOK.COBellerin dan Bale perlu melaksanakan perintah Edy Rahmayadi perihal gaya rambut. Gaya rambut ala Bapak Edy adalah gaya petarung. Camkan itu!

Arsenal dan Real Madrid sama-sama memulai musim 2018/2019 dengan kepemimpinan pelatih baru. Unai Emery menggantikan Arsene Wenger untuk melatih The Gunners. Sementara itu, Julen Lopetegui meneruskan tongkat estafet dari Zinedine Zidane untuk memimpin Los Blancos. Masing-masing tentu punya tingkat kesulitan yang berbeda.

Meski punya tingkat kesulitan yang berbeda, keduanya punya satu masalah yang sama, yaitu konsisten pemain. Jika lebih spesifik, bagi Emery, konsistensi bek kanan dalam diri Hector Bellerin perlu segera diperbaiki. Bagi Lopetegui, konsistensi Bale berkaitan langsung dengan kebugaran si pemain.

Setelah debut menggantikan Mathieu Debuchy yang cedera, Bellerin dikenal sebagai salah satu bek kanan muda terbaik di dunia. Punya akselerasi kelas elite, Bellerin sampai dijuluki “The Flash”. Jago melakukan sleding dan berani menusuk ke kotak penalti, Bellerin disebut punya potensi untuk menjadi Dani Alves kedua. Pokoknya, sebagai bek kanan, Bellerin muda adalah bek yang komplet.

Sementara itu, ketika masih memperkuat Tottenham Hotspur, Bale menjelma menjadi pemain serba bisa. Pemain asal Wales ini dulunya adalah bek kiri, lalu sukses sebagai sayap kiri. Di penghujung kariernya bersama Spurs, Bale bermain lebih ke depan, bahkan menjadi second striker di timnas Wales.

Karier Bale masih bermandikan tropi ketika sudah berseragam Madrid, berbeda dengan Bellerin yang sudah bagus dapat Piala FA. Namun, meskipun bergelimang piala, performa Bale jauh di bawah ketika ia masih membela Spurs. Sama juga seperti Bellerin, terutama di dua musim terakhir. Performanya turun drastis. Mengapa bisa terjadi?

Mojok Institute punya asumsi sendiri. Penurunan performa kedua pemain terasa ketika keduanya mengubah gaya rambut. Dahulu, Bellerin dan Bale sama-sama berambut pendek dengan sedikit jambul di depan.

Lebih terlihat “polos”, Bellerin bermain sangat konsisten. Ketika Mathieu Debuchy kembali dari cedera, pos bek kanan sudah paten berada di dalam genggaman Bellerin. Bale? Seperti kereta cepat, pemain asal Wales itu sulit dihentikan lawan. Tajam, dalam sekejap, Bale menjadi pemain terpenting bagi Spurs.

Situasi berubah ketika keduanya mengubah gaya rambut (dan gaya hidup). Bellerin membiarkan rambutnya terurai panjang. Ia menguncir rambutnya ketika bermain. Tidak berbeda, Bale juga jadi “kunciran” ketika bermain untuk Madrid, terutama akhir-akhir ini. Bagaimana dengan gaya hidup?

Baca juga:  5 Hal Sepele yang Membuat Liverpool Kalah

Ini sih khusus untuk Bellerin. Setelah namanya lebih dikenal, Bellerin sangat tertib hadir di pagelaran peragaan busana. Pemberitaan di media lebih banyak soal pilihan pakaikan Bellerin ketika menghadiri pagelaran busana, bukan soal perkembangannya sebagai atlet. Bale? Setelah cedera, ia sangat sulit mengembalikan performa terbaiknya

Bale masih memberi kontribusi di momen-momen penting. Namun, ia kehilangan konsistensi yang membuat namanya begitu ditakuti bek-bek di Liga Inggris. Sebentar, soal preferensi busana dan gaya hidup memang urusan pribadi. Namun, ketika performanya di atas lapangan tidak sesuai ekspektasi, banyak orang pasti menggerutu karena ia dikenal sebagai pesepakbola pertama-tama, bukan pemerhati busana.

Oleh sebab itu, demi performa yang lebih konsisten dan memudahkan kerja Emery/Lopetegui, Mojok Institute menyerankan Bellerin dan Bale untuk melaksanakan perintah Edy Rahmayadi. Ini dia, kalian pasti sudah menunggu bagian ini.

Tahun 2017 yang lalu, dan tidak mungkin tidak segar dalam ingatan, ketika Edy Rahmayadi melakukan inspeksi mendadak ke pemusatan latihan timnas Indonesia U-19 di Depok, Jawa Barat. Sambil sedikit bercanda, Bapak Edy Rahmayadi menjambaki rambut pemain U-19 yang sedikit panjang dan belah tengah.

Di depan banyak orang, Edy Rahmayadi mungkin bercanda, namun tak tau isi hatinya. Aksi ini beliau lakukan untuk memberikan semangat kepada anak-anak U-19. Maklum, jiwa tantara di dalam dirinya sungguh sundul langit. Bahkan sampai gaya rambut pun harus ditiru oleh pesepakbola. Ya kalian jangan heran. Betul itu kata Bapak Edy Rahmayadi. Pesepakbola juga harus punya sifat petarung di dalam dirinya.

Jadi, begini kira-kira kalimat Edy Rahmayadi. “Ini rambut kalian semua kok aneh belah tengah begitu, seperti penyanyi dangdut. Ikut Rhoma Irama saja, terlalu. Ayo semua dirapikan. Model begini juga nggak apa-apa (sambil mencontohkan model rambutnya sendiri). Model ini adalah petarung. Kalau belah tengah kayak penyanyi saja,” tegas Bapak Edy.

Meski sambil dijambaki dan dimarahi, anak-anak U-19 justru tertawa riang. Pun begitu juga dengan para pelatih dan orang-orang yang menonton di sekitar lapangan. Untung tidak ada SJW pembela kebebasan bergaya rambut di sana.

Baca juga:  Berkaca dari Kegagalan Emery dan Arsenal, Mempelajari Bahasa Asing Itu Penting

Kalau ada, pasti sudah direkam, diunggah ke Youtube dan Instagram sambil diberi judul, “Viral! Edy Rahmayadi melakukan kekerasan kepada pesepakbola muda” atau “Tidak menghargai kebebasan berekspresi, apalagi prestasi”. Untung saja, ya pak. SJW itu terkadang begitu. Enggak tau cara orang memotivasi. Sambil jambak rambut ya tidak mengapa, asal sambil bercanda.

Gaya rambut memang sangat penting di dunia olahraga. Latihan dan perkembangan pemain muda itu soal lain. Nanti dulu lah. Yang perlu untuk ikut dibahas tentu saja model rambut. Itu coba lihat Ronaldo Nazario jadi juara dunia bareng timnas Brasil. Lalu ada Fabio Cannavaro bareng Italia. Ronaldinho dan Andrea Pirlo kan bukan pemain penting. Rambut gondrong itu aneh-aneh saja. Tidak “petarung” banget.

Bellerin perlu patuh dengan perintah Edy Rahmayadi. Ingat, ia harus bertarung dengan Stephan Lichtsteiner, bek kanan berpengalaman. Ketika proses adaptasi Stephan sudah selesai, bukan tidak mungkin Emery akan memilih pemain yang lebih bisa memberikan kepastian.

Bagi Bale, musim ini akan menjadi musim pembuktian. Tidak ada lagi Cristiano Ronaldo membuat dirinya dan Karim Benzema menjadi andalan Lopetegui di lini depan. Percikan-percikan performa apik itu sudah terlihat. Tinggal mencapai level konsistensi yang dibutuhkan. Semuanya bisa dengan mengubah gaya rambut menjadi lebih “biasa saja”.

Mengubah gaya rambut bisa menjadi bukti devosi pemain kepada kariernya, kepada kontrak profesional sebagai pesepakbola, dan kepada suporter.

Long hair, don’t care!” Kata Bellerin suatu kali. Don’t care, ndiasmu! Boleh kamu sombong kalau mainnya sudah lebih becus, sudah bisa crossing dengan benar dan konsisten.  Makanya, supaya jiwa petarung itu kembali muncul, Bale sebaiknya ganti gaya rambut jadi cepak berjambul seperti dulu. Bellerin juga, potong sudah itu rambut.

Bale bertarung dengan kebugaran dan Bellerin bertarung dengan inkonsistensi dirinya. Semuanya berkat rambut petarung ala Edy Rahmayadi. Makanya, kalian ini jangan ngata-ngatain Bapak Edy terus. Hidup Edy Rahmayadi! Sosok visioner, Ketum PSSI, Gubernur Sumatera Utara, sekaligus pemerhati gaya rambut. Tinggal satu lagi, nih: pengamat kuliner!

Ingat, rambut cepak bikin Edy Rahmayadi punya energi lebih untuk rangkap jabatan. Ingat itu baik-baik. “Rambut cepak, prestasi pepak! Horas!”