MOJOK.COArsenal tersesat di dalam labirin yang diciptakan Emery. Sementara itu Liverpool menunjukkan bentuk paripurna dari istilah Jurgen Klopp bernama “mental monster”.

Ada satu catatan menarik dari kemenangan dramatis Liverpool atas Aston Villa. Gol Sadio Mane di menit ke-94 menjadi golnya yang ke-35, yang dicetak selepas menit 90. Apa yang bisa kamu sarikan dari catatan ini?

Ada sebuah kekuatan kehendak yang sangat besar di dalam diri Sadio Mane, bahkan sejak sebelum ia berseragam Liverpool. Kekuatan kehendak itu yang akan menggerakkan kaki-kaki berat pesepak bola di menit akhir demi sebuah gol kemenangan. Jurgen Klopp menyebutnya sebagai “mental monster”.

Sadio Mane bergerak lebih cepat ketimbang semua pemain di atas lapangan. Keinginan untuk menang, tidak menyerah sampai laga usai, yang membuatnya bisa mencetak gol krusial itu. Sadio Mane, menjadi perwakilan dari sebuah skuat yang semakin matang. Sebuah skuat yang saya rasa layak untuk menjadi kampiun musim 2018/2019.

Saya masih ingat betul komentar Klopp musim lalu, setelah Liverpool menang susah payah atas Fulham. Klopp menyebutnya sebagai kemenangan yang sensasional.

Rumus menjadi juara di sebuah kompetisi yang panjang seperti Liga Inggris itu sangat sederhana, yaitu tidak kalah, membuat gol lebih banyak ketimbang rival, dan mengumpulkan poin lebih banyak. Jika syarat sederhana itu bisa dipenuhi, sebuah klub bisa menentukan nasib sendiri, tidak bergantung kepada hasil minor rival.

Dan terkadang, tidak dibutuhkan permainan cantik dan memukau untuk membungkus tiga poin. Sebuah klub, akan sangat sering berada dalam situasi sulit, ketika sebuah pertandingan menjadi begitu kompleks. Ketika sebuah tim bermain dalam performa terburuk, tetapi harus tetap menang. Saya menyebutnya sebagai “bermain di kubangan lumpur”.

Baca juga:  Kalau Arsenal, Liverpool, dan Klub Liga Inggris Dukung LGBT, Kamu Mau Apa?

Menang dengan cara paling buruk–-bukan tidak sportif–-tidak selalu bermakna negatif. Bagi kamu yang aktif bermain sepak bola, jangankan melakukan sprint, mengontrol dan mengumpan bola di menit-menit akhir saja sudah susah payah. Stamina anjlok, tekanan semakin berat, pun diburu waktu pertandingan yang semakin tipis.

Saat itu, meski hanya mengandalkan bola mati dan umpan lambung, sebuah tim akan menemukan jalannya sendiri. Seperti yang dilakukan Sadio Mane ketika menanduk umpan sepak pojok Trent Alexander-Arnold. Cara menang seperti ini mungkin akan dicibir. Fans rival bakal menang adu bacot, tetapi faktanya, Liverpool menang di atas lapangan.

Liverpool yang semakin “dewasa dan matang” membuat saya percaya diri untuk mengatakan bahwa mereka punya modal untuk mengejar rekor Arsenal. Sebuah rekor yang akan berbuah piala bersepuh emas jika Liverpool bisa melakukannya. Arsenal musim 2003/2004 bukan hanya cantik dari cara bermain. Mereka juga siap “berkubang lumpur” demi menghindari kekalahan.

Determinasi, rasa saling percaya antara semua pemain, kepercayaan penuh kepada kemampuan sendiri, dan pelatih dengan optimisme yang meluap. Hal-hal dasar yang ditunjukkan Arsenal 2003/2004 itu tampak di raut wajah Klopp dan anak-anak asuhnya.

Sebuah pemandangan kontras justru ditunjukkan Arsenal 2019/2020. Melawan Wolves, Arsenal seperti bermain di dalam labirin yang mereka bikin sendiri. Saya sudah lelah menghitung. Mungkin ini ke-746373 kali Unai Emery melalukan kesalahan bodoh. Kesalahan yang tidak seharusnya ditunjukkan pelatih berpengalaman.

Emery membuat Arsenal bermain dengan skema 4-1-2-1-2 di awal laga. Ketika babak kedua menyisakan 20 menit, dia mengubahnya menjadi 4-3-3. Tidak lama kemudian, skema berubah lagi menjadi 4-2-3-1. Perubahan-perubahan itu tidak terjadi dalam konteks positif. Perubahan tersebut membuat Arsenal kehilangan keseimbangan yang sebetulnya juga fana itu.

Baca juga:  Naby Keita, Riyad Mahrez, Torreira, Jorginho, dan Fred: Para Debutan Liga Inggris

Emery memasukan Bukayo Saka untuk menambah jumlah pemain di sisi kiri. Saka bermain penuh ketika melawan Liverpool. Kelelahan terlihat dan gerakannya sangat tumpul. Kalau memang ingin menambah jumlah winger, mengapa bukan Nicolas Pepe yang digunakan? Pepe tidak bermain ketika melawan The Reds.

Jika ingin melindungi sisi kiri, kenapa tidak memasukan Hector Bellerin dan membuat konsep double wing back di sisi kiri? Arsene Wenger pernah melakukannya untuk mengamankan kemenangan dan itu hal yang bijak. Dani Ceballos sudah kepayahan di menit akhir. Ingat, stamina yang jatuh di menit akhir akan membelenggu pemain, mencegah mereka bergerak sesuka hati.

Wolves berhasil menyamakan kedudukan ketika Ceballos gagal melindungi Kieran Tierney di sisi kiri. Peduli setan dengan anggapan Emery gagal membuat Arsenal bisa bermain cantik. Pada kenyataannya, Emery mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali. Kalau bukan bebal dan bingung, istilah apa lagi yang cocok untuk menggambarkan Arsenal?

Peduli setan dengan permainan cantik. Liverpool mengajarkan Arsenal bahwa bermain cantik bukan segalanya. Klopp membuat The Reds menjadi sebuah unit yang sadar tujuan. Kalau mau juara, pada awalnya, adalah tidak kalah. Sangat sederhana. Konsep yang pasti bisa dipahami anak-anak di bawah usia 10 tahun yang bermain di Liga Campina.

Arsenal tersesat di bawah arahan Emery. Tersesat di dalam labirin yang mereka bangun sendiri. Liverpool sudah melihat cahaya itu. Kualitas diri yang disadari dilambari dengan kekuatan mental seperti yang disajikan Sadio Mane. Saya rasa hanya kemalangan yang akan membuat Liverpool gagal juara untuk kesekian kali.

BACA JUGA Liverpool X Manchester City: Seperti “Babi”, Liverpool Mulai Menikmati Main Lumpur atau tulisan YAMADIPATI SENO lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles