[MOJOK.CO] “Duo setan, Manchester United dan AC Milan menunjukkan kedewasaan taktik untuk mengalahkan Chelsea dan AS Roma. Dua klub yang ingin mengurung setan.”

Sebuah pendekatan menarik diambil Jose Mourinho untuk Manchester United ketika membalikkan prediksi Mojok Institue dan mengalahkan Chelsea. Sementara itu, AS Roma dibuat menderita di kandang oleh AC Milan.

Manchester United vs Chelsea (2-1)

Sungguh berani, Jose Mourinho menurunkan Scott McTominay untuk bermain sejak menit awal menggantikan Jese Lingard. Dengan turunnya McTominay, maka Manchester United bermain dengan pola dasar tiga gelandang, yaitu diisi Nemanja Matic, McTominay, dan Paul Pogba. Keberanian ini sekaligus menjadi jawaban atas permintaan Paul Pogba yang ingin bermain sebagai gelandang serang dalam bentuk tiga gelandang.

Padahal sebelumnya, Mourinho menunjukkan sikap tak peduli dengan permintaan Pogba tersebut. Bahkan, di depan para jurnalis, manajer asal Portugal tersebut menegaskan bahwa dirinya tak akan menuruti permintaan Pogba. Namun, seperti (seharusnya) kita ketahui, Mourinho adalah satu dari sedikit pelatih yang jago memainkan perasaan.

Bermainnya McTominay seperti membuka belenggu di kaki Pogba. Pemain asal Prancis tersebut lebih banyak terlibat di sepertiga akhir lapangan. Ia tak lagi terbebani dengan keharusan terlibat dalam proses membangun serangan dari bawah. Matic dan McTominay bisa melakukannya dengan baik.

Bentuk tiga gelandang ini, pada awalnya, seperti tertatih menghadapi kecepatan gelandang sentral dan gelandang sayap Chelsea. Terbukti, lemahnya koordinasi pertahanan Manchester United, seperti yang Mojok Institute prediksi di tulisan sebelumnya, berhasil dimanfaatkan pemain-pemain Chelsea untuk memaksimalkan serangan balik.

Willian, yang rajin mencetak gol di dua pertandingan sebelumnya, berhasil merusak jebakan offside United, sebelum melepas tembakan keras ke sudut sempit yang gagal diantisipasi David De Gea.

Meski tertinggal, United bisa memperbaiki diri. Seiring perkembangan pertandingan, tiga gelandang United mulai menemukan pijakan yang lebih stabil. Mampu meladeni pertarungan di lapangan tengah, Setan Merah lebih nyaman untuk menguasai bola.

Yang dimaksud dengan pijakan yang lebih nyaman adalah ketika tak bisa melakukan serangan dari sisi lapangan, Manchester United dapat melakukan penetrasi dari tengah. Keberadaan Matic dan McTominay kembali menunjukkan potensinya. Dua penyerang sayap dalam diri Anthony Martial dan Alexis Sanchez banyak bergerak ke tengah, sementara sisi lapangan diisi dua bek sayap yang melakukan overlap.

Dengan begitu, United hampir selalu unggul jumlah pemain di depan kotak penalti Chelsea. Jarak umpan yang lebih dekat membuat progresi serangan menjadi lebih terasa enak. Gol penyama kedudukan dari Romelu Lukaku menjadi puncaknya.

Baca juga:  Manchester United Mencari Pemain yang Rendah Hati Sekaligus Arogan, Bingung?

Penyerang asal Belgia ini sangat cerdik memanfaatkan fisiknya yang kekar. Hampir selalu, Lukaku menempatkan bola di depan dirinya, sementara bek lawan “dijaga” tetap di belakangnya. Teknik tempel pungung dan jaga menggunakan tangan yang menjulur ke belakang ditunjukan dengan manis. Akibatnya, bola terlindungi oleh badannya yang kokoh dan sulit diambil lawan.

Setelah gol, United lebih nyaman menguasai bola, lebih berani meladeni pressing intensitas menengah Chelsea di lapangan tengah. Sementara itu, perubahan drastis terjadi. Chelsea justru kehilangan referensi serangan. Gol Lukaku terjadi ketika Chelsea masih sedikit lebih unggul dalam hal penguasaan bola.

Sedikit banyak, gol penyama kedudukan tersebut berpengaruh kepada psikologis pemain. Pemain-pemain Chelsea menjadi lebih ragu untuk secepatnya menyelesaikan proses serangan karena takut serangan balik dan memilih bermain aman dengan penguasaan bola yang sedikit lebih banyak. Tanpa aksi tegas, apalagi ketika Eden Hazard diganti, Chelsea tak lagi membahayakan gawang De Gea.

Mourinho merespons perubahan tersebut dengan cerdik. Bukannya menggantikan McTominay, Mourinho justru menarik keluar Martial dan menggantikannya dengan Lingard. Artinya, Manchester United tetap bermain dengan tiga gelandang. Sebuah usaha mempertahankan keseimbangan, sekaligus memanfaatkan garis pertahanan Chelsea yang sedikit naik.

Dengan situasi bek Chelsea yang lebih renggang inilah, Lukaku semakin banyak bergerak ke sisi lapangan. Pergerakan ini merupakan sinyal bagi dua penyerang sayap untuk bergerak ke dalam kotak penalti dan mencari ruang di antara bek lawan. Lingard dan Alexis jago untuk jenis pergerakan seperti ini.

Begitulah gol kedua berawal. Umpan diagonal Lukaku mampir di kepala Lingard sebelum dibelokkan ke gawang Chelsea. Setelah tertinggal pun, meski sudah memasukkan Olivier Giroud, Chelsea tak bisa lagi membangunkan “referensi serangan” seperti di awal babak pertama.

Sebuah kemanangan yang tak hanya berbicara soal betapa jitunya Mourinho menggelar taktik untuk Manchester United. Kemenangan ini juga kembali menegaskan bahwa psywar Mourinho justru yang paling berbahaya.

AS Roma vs AC Milan (0-2)

Kedua tim menyimpan masalah yang sama, terutama di babak pertama. Baik Roma maupun Milan selalu kesulitan untuk bersikap ketika sudah sampai di sepertiga akhir lapangan. Kedua tim banyak mengandalkan umpan silang, lantaran hampir selalu terdorong ke sisi lapangan karena ketiadaan solusi untuk melakukan penetrasi dari depan kotak penalti.

Di sinilah, kedua tim bermasalah. Mulai dari umpan silang yang jauh dari kata akurat, hingga penerima umpan silang yang tidak memuaskan. Baik Patrick Cutrone dari Milan, maupun Patrik Schick milik Roma belum menemukan timing yang tepat untuk menyambut umpan silang.

Baca juga:  Bayern Pecat Pelatih, Mana yang Nyusul Kemudian: Arsenal, Barcelona, MU?

Situasi berubah di babak awal kedua.

Satu momen serangan balik, Frank Kessie menjadi pemain Milan yang berdiri paling tinggi, mendekati dua bek tengah Roma. Ketika bola lambung diarahkan kepada Kessie, dua bek tengah Roma justru tidak dalam posisi yang mantab untuk memperebutkan bola lambung. Posisi keduanya terlalu dekat.

Oleh sebab itu, Kessie bisa memenangi bola jauh dan menjadi pemantul. Mendapat akses ke depan kotak penalti, Milan memilih Suso yang bergerak ke kanan sebagai referensi serangan. Berada di posisi idealnya (inverted winger di sisi kanan), Suso melepas bola diagonal masuk ke depan mulut gawang, sesuatu yang cukup jarang terjadi di babak pertama.

Cutrone sangat jeli melihat gelagat Suso yang akan melepas umpan diagonal ke depan gawang. Penyerang belia asal Italia tersebut menyelinap di belakang bek Roma untuk menyongsong umpan diagonal Suso. Gol! Proses yang cantik, dari dua pemain cerdik.

Setelah gol Cutrone, serangan Roma justru lebih sporadis, nampak tidak disiapkan dengan matang. Setelah Edin Dzeko masuk, niat Roma makin mudah terbaca, yaitu sebisa mungkin mengirim umpan silang ke depan mulut gawang. Untuk melakukannya, dua bek sayap dan penyerang sayap Roma harus punya ruang di sisi lapangan. Dengan situasi demikian, kerja bertahan Milan menjadi lebih ringan.

Pun, setelah unggul, Milan bermain dengan urgensi dan perencanaan yang lebih nyata. Sadar akan mendapatkan banyak ruang di belakang bek sayap Roma yang naik menyerang, Milan menggunakan Hakan Calhanoglu dan Suso di masing-masing sisi lapangan sebagai akses. Dari sisi lapangan pula Milan menambah keunggulan menjadi 0-2 lewat Davide Calabria.

Tertinggal dua gol, bentuk permainan Roma justru makin kabur, tak lagi berbentuk. Sebuah situasi yang tentu menguntungkan bagi Milan. Hingga pertandingan selesai, pergantian pemain yang dilakukan Roma tak banyak membantu. Milan menang dengan gemilang.

Kemenangan Manchester United dan AC Milan menegaskan bahwa iman harus tebal jika ingin mengalahkan setan. Sudah, ibadah dulu sana.

PS: Selamat bagi Manchester City yang baru saja menjadi juara turnamen pra-musim, Piala Gubernur London, yang untungnya tidak membuat liga tertunda, setelah mengalahkan tim semi-amatir dari London Utara.