[MOJOK.CO] “Juventus yang kehilangan fokus dan Real Madrid yang siap menyambut “final Liga Champions kepagian” di Bernabeu.”

Liga Champions, kompetisi antar-klub paling mewah itu akhirnya dimulai lagi. Babak 16 besar diawali oleh pemandangan yang tentu akan membuat mulas banyak Juventini ketika anak-anak asuh Max Allegri gagal mempertahankan keunggulan.

Sementara itu, hari Kamis (15/2) dini hari esok, Real Madrid, bisa jadi, akan menghadapi ujian terbesar mereka musim ini. Sebuah ujian untuk menegaskan bahwa mereka masih penguasa mutlak Liga Champions.

Analisis Juventus vs Tottenham Hotspur (skor akhir 2-2)

Juventus mengawali laga dengan sangat sempurna. Tegas, yang mereka lakukan adalah melakukan banyak penetrasi langsung lewat tengah lapangan menuju kotak penalti Tottenham Hotspur. Baik ketika membangun serangan dari bawah, atau ketika melakukan serangan balik, di 15 menit babak pertama, Si Nyonya Tua nampak segar dan penuh vitalitas.

Dua gol mereka petik hanya dalam rentang waktu sekitar tujuh menit. Gol pertama adalah sebuah seni di atas lapangan hijau. Free kick cungkil dari Miralem Pjanic berhasil dieksekusi oleh Gonzalo Higuain menjadi gol lewat sepakan voli meski harus membalikkan badan untuk membidik gawang. Gol kedua, masih dari kaki Higuain, adalah hasil eksekusi penalti yang sebenarnya tak terlalu mulus.

Striker asal Argentina itu punya peluang untuk “membunuh laga” dengan gol ketiga di penghujung babak pertama. Serge Aurier, bek kanan Spurs, dengan sangat ceroboh melakukan tekel di dalam kotak penalti ketika sudah kalah adu lari dengan Douglas Costa. Sungguh pedih, eksekusi penalti Higuan terlalu polos. Sepakannya justru menghajar mistar gawang.

Spurs sadar bahwa mereka harus berani menekan untuk mencuri gol tandang yang sangat penting di ajang Liga Champions ini. Setelah tertinggal dua gol, Spurs menaikkan intensitas pressing dan mencegah gelandang serang dan striker Juventus untuk dapat mendekati gawang Lloris dengan mudah.

Pressing intensitas tinggi yang menjadi khas Tottenham sungguh berguna di kandang Juventus. Gol Harry Kane di babak pertama berawal dari tekanan yang konstan dari lini depan Spurs kepada lini pertahanan Juventus yang tengah menginisiasi serangan.

Di babak kedua, situasi menguntungkan ini berhasil diteruskan oleh Spurs. Juventus seperti kehabisan opsi ketika Douglas Costa (outlet serangan di sisi lapangan) dan Mario Mandzukic (kanal serangan menggunakan bola-bola direct) tak mendapatkan bola dan ruang yang mereka butuhkan. Kembali, mesin pressing Spurs bekerja sangat optimal.

Sudah tertekan, Juventus kehilangan fokus pula. Juventus beberapa kali melakukan pelanggaran ceroboh. Salah satunya adalah pelanggaran kepada Dele Alli di depan kotak penalti.

Kehilangan fokus juga ditunjukkan oleh Gianluigi Buffon yang bergerak terlalu banyak ke sisi tiang jauh kiper. Christian Erikson menyadari gerak-gerik antisipasi Buffon ini. Pemain asal Denmark tersebut dengan cerdik mengarahkan bola ke tiang dekat kiper dengan bola mendatar, di mana awalan teknik ini akan tersamarkan oleh pagar betis Juventus sendiri. Gol, dan Spurs berhasil menyamakan kedudukan.

BACA JUGA:  Percakapan Rahasia Zidane dan Simeone Jelang Final Liga Champions

Hari Valentine yang nampak kelabu untuk Juventus. Si Nyonya Tua justru nampak lelah dan terlelap di momen-momen penting laga. Mereka merindukan senyum nakal Paolo Dybala dan tawa riang Buffon di bawah mistar gawang.

Juventus memang tidak kalah. Namun, kebobolan dua gol di bawah sendiri membuat leg kedua di rumah Spurs akan terasa begitu berat. Dilan saja belum tentu kuat.

Prediksi Real Madrid vs Paris Saint-Germain (15 Februari 2018)

Ada yang menyebutnya final kepagian. Ada pula yang melabeli laga kelas berat antara Real Madrid menjamu Paris Saint-Germain (PSG) sebagai pertarungan dua generasi Galacticos.

Real Madrid pernah menyandang label itu, Galacticos, ketika membakar banyak dana untuk mendatangkan deretan pemain mega-bintang. Dimulai dari Zinedine Zidane, Luis Figo, David Beckham, hingga Michael Owen.

Musim panas yang lalu, PSG mulai meniti jalan yang sama, ketika “uang minyak” melicinkan kedatangan Neymar dari Barcelona dan Kylian Mbappe dari AS Monaco. Neymar menjadi pemain termahal dunia dengan nilai transfer mencapai 222 juta euro. Sementara itu, Mbappe, sang remaja sensasional, didatangkan lewat model peminjaman dengan klausul pembelian permanen senilai 121 juta euro.

Apakah investasi raksasa yang sudah dilakukan PSG akan membantu mereka mewujudkan mimpi semua klub di Eropa yaitu memenangi gelar Liga Champions? Inilah pertarungan dua klub yang sejauh ini paling sulit “dielus” oleh Mojok Institute.

Real Madrid adalah juara bertahan, yang musim lalu berhasil mencatatkan rekor sebagai klub pertama yang berhasil memenangi Liga Champions dua kali berturut-turut. Dengan total 12 piala, Liga Champions sudah seperti “taman bermain” untuk Real Madrid. Mereka mengenal alur dan cara mengatasi tekanan di kompetisi antar-klub paling mewah di dunia ini.

Los Blancos boleh tampil begitu buruk di La Liga Spanyol. Namun, ketika mentas di Liga Champions, klub asuhan Zidane ini berubah wajah. Musim lalu adalah pembuktian kekuatan besar Madrid di ajang ini.

Musim lalu, Madrid diragukan untuk bisa melaju lebih jauh, alih-alih sampai babak final, apalagi mempertahankan gelar juara. Madrid, yang tergabung di Grup F, hanya mampu duduk di posisi dua, di bawah Borussia Dortmund. Bahkan, Madrid kalah produktif ketimbang Dortmund. Madrid hanya mampu mencetak 16 gol, sementara Dortmund mencapai 21.

Namun raksasa itu bangkit ketika masuk fase sistem gugur. Madrid meninggalkan “pakem bermain indah”, dan beralih ke pola pikir mematikan, yaitu seefisien mungkin memanfaatkan peluang dan bermain solid ketika bertahan.

BACA JUGA:  Lima Klub Sepak Bola yang Suporternya Selalu Menyebalkan

Di final Liga Champions tahun lalu, Real Madrid bertemu Juventus. Final dua raksasa ini diprediksi alot dan tak akan banyak gol tercipta. Salah satu alasannya adalah lini belakang Juventus hanya kebobolan satu kali setelah masuk babak sistem gugur.

Kejutan terjadi, antiklimaks tersaji. Juventus hanya mampu memberi perlawan hingga babak pertama saja. Di babak kedua, Madrid menemukan ritme yang mereka cari, sementara Juventus kehilangan pijakan. Lini belakang yang tersohor itu bobol empat kali. Skor akhir 4-1 dan Madrid menjadi juara!

Geliat raksasa itu berpeluang terjadi lagi musim ini. Salah satu pertanyaan besar bagi skuat Madrid adalah apakah pemain-pemain yang menjadi kunci keberhasilan musim lalu bisa menduplikasi performa apik yang dibutuhkan?

Mulai dari Isco Alarcon, hingga Marco Asensio tak lagi berada di level performa yang diharapkan. Sementara itu, dua bek sayap mereka, Marcelo dan Dani Carvajal, kehilangan konsisten. Nama terakhir bahkan sempat absen lama karena cedera. Lalu, yang paling penting, apakah Ronaldo bisa menemukan kembali efektivitas di depan gawang lawan seperti musim lalu?

Mengubah suasana hati dan level performa adalah syarat dasar ketika menjamu PSG.

Raksasa Prancis ini menjelma menjadi salah satu tim paling atraktif dan tajam di Eropa. Tentu saja, keberadaan Neymar dan Mbappe sebagai komplementer keberadaan Edinson Cavani berbicara banyak.

Namun, yang sering dilupakan adalah mengintegrasikan Neymar dan Mbappe ke dalam skuat PSG bukan pekerjaan mudah. Dan Unai Emery, sejauh ini berhasil melakukannya.

Bertandang ke rumah Madrid membutuhkan pendekatan yang spesifik. Salah satu opsi yang masuk akal adalah memaksimalkan serangan balik dari kanal-kanal di sisi lapangan, yang akan diisi Neymar di kiri dan Mbappe di kanan.

Seperti yang Mojok Institute singgung di atas, dua bek sayap Madrid tidak sekonsisten musim lalu. Kecepatan, kreativitas, dan ketajaman PSG di sisi lapangan akan sangat berguna untuk membongkar pertahanan Madrid, yang celakanya, juga tak sesolid musim lalu.

Sudah terbukti di musim ini, Madrid hampir selalu kesulitan dan kehilangan arah ketika tim lawan bertahan dengan kedisiplinan tinggi dan bisa memaksimalkan serangan balik. Kekalahan di El Clasico dari Barcelona dengan skor 0-3 menjadi contohnya. Pertandingan ini adalah modal belajar yang baik untuk PSG.

Satu kelemahan PSG adalah catatan laga tandang melawan tim besar yang tidak bersahabat.

Prediksi Mojok Institute: Real Madrid 2-2 PSG

 

Hasil Liga Champions Rabu, 14 Februari 2018:

Juventus 2-2 Tottenham Hotspur

FC Basel 0-4 Manchester City

 

Jadwal Liga Champions pekan ini (15 Februari 2018):

Real Madrid vs Paris Saint-Germain (02.45 WIB)

FC Porto vs Liverpool (02.45 WIB)

Komentar
Add Friend
No more articles