Menjaga Muria: Ketika Konservasi Bertemu Kebutuhan Hidup
Bagi masyarakat lereng Muria, konservasi bukan sekedar urusan pemerintah atau program formal semata. Ia adalah soal kehidupan sehari-hari. Air untuk minum, tanah untuk ditanami dan hutan yang menyelamatkan generasi.
Prinsip inilah yang dipegang oleh Peka Muria, sebuah gerakan dengan tujuan sederhana tapi tidak mudah, yaitu menjaga kelestarian Muria tanpa memutus mata pencaharian warga yang tinggal di sekitarnya.
Tidak Bisa Mengabaikan Ekonomi
Bagi Peka Muria melarang warga menebang atau memperluas kebun tanpa solusi ekonomi justru akan memicu konflik. Karena itu pendekatan yang dilakukan dimulai dari perhitungan kebutuhan para petani.
Dari situ semua petani diajak untuk berpikir. Jika kebun terus diperluas, mata air bisa mati. Kopi dan uang mungkin masih ada, tetapi semuanya kehilangan makna.
Maka solusinya bukan menghilangkan perkebunan, melainkan menata ulang cara bertani para petani.
Kopi Bukan Tanaman Konservasi
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa kopi adalah tanaman konservasi. Tapi kenyataannya kopi tak memiliki akar tunggang yang cukup untuk menyimpan air.
Jika lereng Muria hanya ditanami kopi, krisis air hanya tinggal menunggu waktu saja.
Karena itu, Kopi perlu ditanam bersama tanaman pendamping. Dengan sistem tumpang sari yang dikelola dengan benar, hasil ekonomi akan meningkat dan fungsi ekologis tetap berjalan.
Menanam Hari Ini, Menuai Lima Tahun Lagi
Melalui program penanaman bersama Djarum Foundation, lebih dari 60.000 bibit tanaman buah dan tanaman konservasi ditanam di lima desa lereng Muria. Hasilnya memang tidak instan, mungkin baru bisa dinikmati sekitar lima tahun ke depan.
Namun justru di situlah maknanya. Ketika ekonomi petani menguat, dorongan untuk merambah hutan akan berkurang. Hutan diberi kesempatan pulih, mata air diharapkan kembali muncul, dan lereng tetap menjadi penyangga kehidupan di Pulau Jawa.
Merawat Muria, Bukan Melarang
Bagi Peka Muria, konservasi bukan tentang larangan keras, melainkan ajakan merawat. Ia bukan milik segelintir orang, melainkan warisan bersama—untuk anak, cucu, dan generasi yang belum lahir.
Menjaga Muria berarti menjaga masa depan. Dan itu hanya mungkin jika alam dan manusia berjalan beriringan.








