Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

Redaksi oleh Redaksi
26 Maret 2026
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setiap jengkal tanah di Pulau Jawa bukan cuma soal tempat berpijak, tapi juga ruang yang dipercaya punya “isi”. Orang Jawa sejak lama membagi wilayah ke dalam yang profan dan sakral—yang bisa ditinggali manusia, dan yang sebaiknya dibiarkan sendiri.

Dari situlah muncul istilah seperti lemah sangar, tanah yang dianggap angker, penuh makhluk tak kasatmata. Dalam naskah kuno seperti Kidung Sudamala dari akhir Majapahit, diceritakan Setra Gandamayu—tempat berkumpulnya raksasa dan hantu, termasuk Ranini, jelmaan Dewi Uma yang kena kutukan.

Imajinasi tentang makhluk-makhluk itu bahkan dipahat di relief candi, seolah jadi pengingat bahwa dunia manusia tak pernah benar-benar sendirian.

Hantu Jawa dalam Cerita

Cerita tentang hantu Jawa bukan satu dua. Dalam Arjunawiwaha, ada istilah hanja-hanja untuk menyebut makhluk halus.

Dalam prasasti-prasasti kuno, muncul nama banaspati, penguasa hutan yang juga jadi penjaga wilayah larangan. Di kisah Kakawin Sena, Bima bahkan digambarkan masuk hutan angker dan menghadapi hantu dengan bentuk yang aneh-aneh—dari yang cuma kepala sampai yang tubuhnya tinggal usus.

Masuk ke era Jawa Baru, muncul kidung-kidung seperti Rumekso Ing Wengi yang dipercaya bisa jadi “tameng” dari gangguan makhluk halus.

Bahkan sampai abad ke-19, para peneliti Barat pun ikut-ikutan mendata jenis-jenis hantu Jawa, saking banyak dan kompleksnya.

Perubahan Zaman

Tapi zaman berubah. Apa yang dulu dianggap hantu, pelan-pelan dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Banaspati yang katanya kepala berapi, misalnya, kini sering dikaitkan dengan gas rawa yang terbakar.

Gangguan panen yang dulu disebut ulah makhluk halus, ternyata bisa dijelaskan sebagai hama atau jamur. Meski begitu, rasa takjub pada yang mistis tidak pernah benar-benar hilang.

Barangkali, hantu-hantu itu sejak awal bukan sekadar untuk ditakuti, tapi cara orang Jawa menjaga alam—membuat hutan tetap dihormati, sungai tidak sembarangan dirusak.

Kalau dipikir-pikir, mungkin yang hilang bukan hantunya, tapi cara kita menghargai lingkungan.

Tags: hantu jawajasmerahsejarah hantu jawa kunotempat-tempat sakral

Terpopuler Sepekan

Kucing, hewan peliharaan

Memelihara Kucing Membuat Saya Menjadi Manusia: Tak Saling Bicara, tapi Lebih Memahami ketimbang Sesama Manusia

26 Maret 2026
Tabungan soft saving ala gen Z

Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda

25 Maret 2026
Pintu timur Stasiun Tugu Jogja, titik keberangkatan kereta api terbaik dibandingkan Stasiun Lempuyangan

Dibanding Stasiun Lempuyangan, Saya Lebih Pilih Stasiun Tugu Jogja yang Mahal dan Ramai asal Tak Harus Menahan Emosi Menunggu Jemputan

27 Maret 2026
4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026
Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit MOJOK.CO

Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot

26 Maret 2026
Jalan rusak di Taniwel, Maluku. MOJOK.CO

Ratusan Anak Sekolah di Kabupaten Seram Bagian Barat Dibiarkan Menderita dari Tahun ke Tahun oleh Maluku

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.