Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Terlalu Banyak Ustaz, Bukannya Maslahat, Malah Membuat Ribet Umat

Misbahudin oleh Misbahudin
7 Juli 2020
A A
terlalu banyak ustaz MOJOK.CO

terlalu banyak ustaz MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Sosok pemimpin agama tentu krusial kehadirannya, terutama kala umat menghadapi permasalahan amaliah keagamaan. Namun apa jadinya ketika jumlah ustaz di tengah masyarakat melebihi takaran yang dibutuhkan umat? Mungkin kejadian nyata yang saya saksikan sendiri ini, bisa menjadi gambaran.

Suatu ketika, seorang tetangga yang juga kerabat dekat saya meninggal dunia karena sakit yang telah lama ia derita. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, tatkala tanda-tanda kematian telah nampak, buru-buru saja salah seorang anggota keluarganya menemui tokoh agama setempat. Katakanlah ustaz A.

ADVERTISEMENT

Beliau bergegas menuju rumah duka dan langsung mentalkin (membisikkan kalimat syahadat pada orang yang akan meninggal dunia) si tetangga yang ajalnya kian mendekat. Sampai akhirnya ia benar-benar dinyatakan meninggal. Innalillahi wainna ilahi rojiun. Kemudian ustaz A menenangkan sanak keluarga yang hadir saat itu. Saya telat datang karena baru dikabari setelah kepastian berpulangnya.

Saya langsung menuju rumah duka. Terihat ada ustaz A sedang memberi pengarahan pada keluarga mengenai proses pemandian dan pengafanan jenazahnya. Tak lama berselang, datanglah ustaz B. Nampaknya ia telah bersiap untuk ikut dalam prosesi pemandian jenazah. Terlihat dari pakaiannya yang hanya memakai kaos lengan pendek dan celana komprang. Saya pun ikut dalam prosesi pemandian jenazah itu.

Jenazah diangkat ke meja pemandian. Ustaz A dan B sama-sama hadir waktu itu. Ustaz B langsung mengambil alih jenazah dan langsung mengguyurkan air ke tubuh jenazah. Ustaz A tak mau ketinggalan. Sambil ikut memandikan, beliau terlihat banyak mengoreksi cara pemandian Ustaz B.

Seperti yang sedang beradu pemahaman mengenai hukum fikih. “Itu, masukan dulu air ke mulutnya. Naaah gitu yang bener,” Ustaz A mengoreksi. Yang B manggut-manggut saja. Dua-duanya hampir seperti orang yang sedang berebut memandikan.

Saat proses pengeluaran (maaf) kotoran jenazah, Ustaz A yang mengambil alih. Entah karena saya yang mungkin salah menangkap sasmita, saya perhatikan air muka ustaz A terlihat kurang berkenan dengan kehadiran ustaz B. Tensi menghangat.

Lalu, di tengah proses pemandian, tiba-tiba terdengar suara dari balik hijab pemandian, “Waaah…ternyata udah ada A dan B yang ngurus. Sudahlah.” Saya kenal dengan suara itu. Ia ustaz C, tokoh agama kampung ini juga. Tetapi ia datang telat, makanya tidak kebagian “jatah.”

Baca Juga:

5 kebiasaan buruk saat ada orang meninggal, salah satunya bikin malu saja

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

Di ruang tamu, telah tergelar kain kafan. Yang menyiapkan ternyata adalah ustaz yang lain lagi. Ia adalah ustaz D yang mengambil bagian pengafanan jenazah. Makin ketat saja perebutan “lapak” ini.

Singkat cerita, esok harinya jenazah akan disalatkan di mesjid terdekat. Sebelum digelar salat jenazah, seperti biasa dibuka terlebih dahulu dengan tausiah dan ikrar bagi kebaikan almarhum yang meninggal. Tausiah itu diampu oleh ustaz E. Nambah lagi!

Selesai memberikan tausiah, salat jenazah dilaksanakan. Salat jenazah ini diimami oleh ustaz D yang semalam terlihat membantu menyiapkan proses pengafanan jenazah.

Seusai salat jenazah, jenazah langsung dibawa ke TPU setempat. Kembali, ustaz E memainkan perannya. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada para warga sekitar, sebagai perwakilan dari pihak keluarga almarhum. Setelahnya ia langsung mempersilahkan ustaz C yang semalam tak kebagian “jatah,” untuk memimpin talkin kubur dan doa. Selesailah pengurusan jenazah.

***

Berdasarkan cerita di atas, terbilang ada lima ustaz yang telah turun tangan. Cukup mengharukan untuk sebuah kebiasaan yang memang sudah berlangsung sejak lama di kampung saya. Betapa besar rasa kepedulian tokoh-tokoh agama sekitar terhadap duka yang dialami umat.

Sampai-sampai, 1 jenazah dikeroyok 5 orang tokoh agama. Amazing!

Di satu sisi, banyaknya pemimpin agama memang sangat membantu. Namun, tak jarang kehadiran mereka malah membuat umat resah. Contoh kecilnya ya seperti peristiwa pengurusan jenazah semalam itu.

Sudah barang tentu, tak enak hati rasanya jika keluarga almarhum hanya memberi kata “terima kasih” saja kepada yang telah membantu itu. Sebagai salah seorang kerabat dekat, di belakang sana, keluarga almarhum yang notabene berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah, saya lihat lumayan kerepotan mengurusi “amplop” untuk kelima ustaz tadi.

Isi amplopnya mana pantas disamakan dengan amplop tukang gali kubur. Meskipun mereka tidak meminta, ngarep sih iya…hehehe.

Saya tidak habis pikir, kok di kampung saya ini jumlah ustaz bisa overload begini? Asumsi awal saya, mungkin karena banyaknya lulusan pesantren. Maklum, suasana dogmatik keagamaan masih begitu kental di sini.

Pesantren menjadi primadona bagi para orang tua demi mencetak anak-anaknya menjadi generasi sholeh dan sholehah. Pendidikan formal tak ada kaitannya dengan kehidupan setelah kematian. Pokonya, gak mondok, gak sholeh. Titik!

Akibatnya, jumlah lulusan pesantren begitu melimpah di sini. Sedangkan, paradigma di masyarakat (awam) meyakini bahwa semua anak lulusan pesantren adalah layak menyandang gelar ustaz. Padahal, ya gak gitu juga. Alhasil, ya seperti kejadian pengeroyokan satu jenazah oleh lima ustaz tadi.
Yang juga membuat umat resah atas overload-nya jumlah ustaz, yaitu ketika mereka kembali ke kampung asal dengan membawa bendera pemahaman masing-masing secara kaku. Tak jarang di antara mereka ada yang saling menyalah-nyalahkan praktik keagamaan yang diajarkan.

Kalau hanya si ustaznya saja yang saling menyalahkan, mungkin tak akan begitu berdampak serius. Lha, kalau sudah bawa-bawa umat? Misalnya lagi. Ini masih di kampung saya. Duh, jadi buka aib kampung sendiri. Jangan tanya alamatnya. Hahaha.

Di sini ada dua masjid besar yang berdiri cukup megah. Lokasinya sangat berdekatan. Katakanlah masjid A dan B. Sama-sama di pinggir jalan pula. Saya cek di Google Maps, jaraknya hanya 128 meter.

Untuk ukuran kampung yang jumlah penduduknya tak begitu padat, letak dua masjid ini tentu terlalu berdekatan. Padahal satu masjid saja sudah bisa menampung jamaah ketika salat Jumat digelar. Meskipun sebagian jamaah harus salat di teras mesjidnya.

Saking dekatnya, dari masjid yang satu, saya sampai bisa dadah-dadah dan saling sapa pada jamaah masjid yang satunya lagi, karena berada di jalan besar yang lurus.

Masjid A sudah berdiri lama, dan jamaah sekitar masjid B yang baru itu, sebelumnya melakukan salat Jumat di masjid A. Kini, dualisme jamaah terjadi di sini. Siapa lagi aktor utama di balik terpecahnya jamaah ini kalau bukan sang ustaz penggiring umat? Ah, saya tak mau berpanjang-panjang lagi soal kampung saya. Isin!

***

Dalam konteks yang lebih besar cakupannya, kejadian yang kemarin viral di jagad maya mengenai pernyataan seorang ustaz yang lagi hits lewat gaya eksentriknya. Katakanlah namanya Evie Efendi. Pernyataannya tak usah saya sebutkan karena sudah pada tahu. Pokoknya ada yang tersinggung dengan pernyataan tersebut.

Kita saksikan betapa reaktifnya “ustaz muda” terhadap pernyataan yang dianggap telah menabrak praktik ibadah yang biasa dijalankan kelompok ormas Islam tertentu. Ada yang mengajak berdebat, ada yang melayangkan surat terbuka, bahkan tak sedikit yang sampai melayangkan cacian. Pemimpin agama yang sejatinya bertugas meredam tensi umat, ini malah jadi tukang ngomporin umat? Tobaaaaat!!

Lagi-lagi ini menjadi bukti, bahwa umat tidak begitu butuh banyak ustaz. Terlalu banyak ustaz bukannya jadi maslahat, justru malah membingungkan umat. Cukup satu saja, tetapi mampu membimbing umat agar maslahat serta selamat dunia dan akhirat.

BACA JUGA Belajar dari Kolor Perdamaian Gus Dur dan tulisan-tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Juli 2020 oleh

Tags: Masjidmemandikan jenazahUstazustaz muda
Misbahudin

Misbahudin

Masyarakat khalayak.

ArtikelTerkait

Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Terjebak Stereotip, Kuliah Jadi Makin Berat Mojok.co

Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Terjebak Stereotip, Kuliah Jadi Makin Berat

4 November 2023
ahli ibadah ustaz kiai MOJOK.CO

Ahli Ibadah yang Sombong, Merasa Lebih Dekat dengan Allah

10 Juli 2020
mungkin memang sudah sebaiknya kita berhenti berinfak di masjid mojok.co

Mungkin Memang Sebaiknya Kita Berhenti Berinfak di Masjid

5 September 2020
3 Masjid di Jember yang Menyediakan Takjil Gratis

3 Masjid di Jember yang Menyediakan Takjil Gratis

25 Maret 2023
masjid di ciputat

3 Masjid di Ciputat yang Tarawihnya Nggak Biasa

1 Mei 2020
donasi infak masjid infaq saweran dangdut urunan dangdutan konser dangdut mojok.co

Alasan Sebagian Orang Desa Saya Lebih Nyah-Nyoh Iuran Konser Dangdut ketimbang Infak Masjid

1 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
Ironi Puncak Pulek Cilacap: Ramai Dikunjungi karena Viral, padahal Area Privat

Ironi Puncak Pulek Cilacap: ramai dikunjungi karena viral, padahal area privat

15 Juli 2026
Terminal Bungurasih Momok bagi Pengguna Jalan Raya Waru Sidoarjo, Macet Ora Umum! Mojok terminal bungurasih surabaya

Waru Sidoarjo, kecamatan penuh keistimewaan dan kemudahan, paling top di Sidoarjo!

17 Juli 2026
Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

19 Juli 2026
Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg, padahal tahu gudeg yang enak, gurih, dan murah?

19 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.