Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Belajar dari Kolor Perdamaian Gus Dur

Adib Khairil Musthafa oleh Adib Khairil Musthafa
31 Mei 2019
A A
gus dur

gus dur

Share on FacebookShare on Twitter

Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur adalah salah satu tokoh yang sering menyatakan pernyataan-pernyataan kontroversial—selain mengeluarkan ide-ide cerdas tentang kemanusiaan, keberagaman dan toleransi Gus Dur adalah sosok yang suka berkelakar. Di tengah ketegangan bangsa, banyak orang bertanya kenapa sih beliau ini malah melucu? Sulit dipahami dan rumit untuk dijelaskan tapi yang jelas yang saya tangkap mungkin baginya lelucon adalah tanda keseriusannya.

“Ngapain kita serius melawan Soeharto. Lha wong dia saja ndak serius ngurus negara ini.”

Begitulah sepenggal kalimat lelucon cerdas yang pernah dicelotehkan Gus Dur. Jika kita perhatikan, lelucon semacam ini adalah cara protes terselubung di tengah sulitnya menyatakan pendapat di negeri kita saat jaman orde baru. Walaupun sejenak terkesan lucu dan ngawur, tetapi ada pesan yang sebenarnya sedang disampaikan.

Di suatu malam, tahun 2001 lelucon paling bersejarah membuat heboh sejagad Indonesia—ketika sang presiden ketiga RI keluar dari Istana Negara dengan hanya menggunakan kolor dan kaos oblong. Ia melambaikan tangannya lalu disambut riuh para simpatisan di depan Istana Negara. Setelah lama bersengketa dengan Amien Rais, malam itu adalah malam di mana Gus Dur dilengserkan secara paksa melalui sidang MPR RI.

Perilaku Gus Dur itu, tentu mengundang banyak reaksi dari berbagai pihak—dianggap perilaku tidak pantas, tidak senonoh, memalukan dan menjatuhkan harkat martabat dan wibawa seorang kepala Negara.

“Ya kali, Gus. Sampean iki presiden kok yo….”

Namun, hal itu ditanggapinya dengan lelucon lagi.

“Lha ya itu supaya saya ndak dianggap Presiden,” ujar Gus Dur.

Baca Juga:

Seandainya Masih Hidup, Mungkin Begini Tanggapan Gus Dur terhadap Pengibaran Bendera One Piece

4 Pertanyaan yang Sebaiknya Jangan Ditanyakan ke Orang Jombang, Bikin Kesal!

Saya jadi berpikir lagi—ada benarnya juga sih.

Selain lihai berpolitik, Gus Dur juga lihai memainkan lelucon dalam rangka mencairkan suasana politik yang sedang tegang dan meradang. Waktu itu di sepanjang Juni-Juli 2001 lawan-lawan politiknya terus menyerang dengan beberapa isu lewat MPR dan DPR. Suasana semakin memenas akibat para pendukung belliau tidak terima.

Beberapa manuver dilakukannya seperti kebijakan Dekrit Presiden yang ia keluarkan—salah satu poinnya yang agak ngawur adalah melakukan kebijakan pembekuan DPR dan MPR.

Namun apalah daya Gus Dur yang semakin hari kehilangan kekuatan politiknya akhirnya ditentang oleh berbagai pihak dan institusi negara sendiri termasuk MA yang bahkan langsung mengeluarkan fatwa bahwa kebijakan tersebut melanggar hukum.

Siangnya, Gus Dur sempat menentang pernyataan MA tersebut—tetapi percuma. Kekuatan beliau semakin lemah sehingga mau tidak mau pada akhirnya sang Bapak Pluralisme harus mundur dari tampuk kekuasaan. Pada akhirnya peristiwa paling bersejarah itupun terlihat di seluruh penjuru negeri—sang presiden RI ke 3 keluar dari Istana Negara dengan hanya memakai kaos oblong dan kolor.

Bagi saya, di balik kekacauan penampilan Gus Dur ada nilai-nilai filosofis yang sebenarnya ingin disampaikan—bahwa ada yang lebih penting dari sekedar pakaian kenegaraan yaitu celana kolor dan perdamaian.

Kenapa orang-orang berambisi sekali dengan bungkus berupa penampilan dan pakaian kenegaraan? Padahal ada yang jauh lebih penting yaitu kolor dan celana dalam.

Kenapa orang-orang begitu berambisi terhadap sebuah jabatan? Padahal ada yang jauh lebih penting dari sekedar kekuasaan yaitu menjaga kerukunan dan perdamaian.

“Tingginya apa sih Presiden itu? Sehingga harus mengorbankan perdamaian dan menumpahkan darah rakyat Indonesia?”
ujar Gus Dur.

Bagi beliau tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian. Orang boleh menilai celana kolor sebagai sesuatu yang tidak pantas ditampilkan oleh seorang kepala negara, tapi ada sesuatu yang lebih bermakna dari sekedar bungkus dan harga diri.

Setelah lengser jadi presiden, Gus Dur pun tidak ngambek—dia tetap saja melucu, jalan-jalan ke daerah dan kampung-kampung untuk melucu. Dari peristiwa tersebut sebenarnya kita bisa belajar dari Gus Dur dengan kondisi bangsa yang akhir-akhir ini sedang berada di puncak kekacauan—bahwa tidak ada yang lebih berharga dari menjaga kerukunan dan kedamaian bangsa.

Jika saja beliau masih hidup, barangkali dia tidak akan menangis seperti Bung Karno yang pernah saya tulis dalam artikel saya sebelumnya—tetapi dia akan tertawa cengar cengir melihat kondisi bangsa yang dipenuhi kekacauan dan makian karena terlalu miskin lelucon dan lupa tertawa. Saya bayangkan lalu Gus Dur akan berkata dan melucu lagi.
“Orang hindu merasa dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, manggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’, lha orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai TOA.”

Saya pun tertawa terbahak-bahak sendiri di kamar mendengar dan menikmati lelucon beliau di YouTube. Di benak saya jadi muncul pertanyaan semacam ini—jika Gus Dur saja bisa melambangkan kolor sebagai simbol perdamaian, apa kabar para elite kita?

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: Bapak PluralismeGus DurIstana NegaraPresiden Indonesia
Adib Khairil Musthafa

Adib Khairil Musthafa

Saya adalah seorang yang suka tidur, menganggur, ngopi, dan bermimpi.

ArtikelTerkait

Persamaan Ormas Islam Indonesia dan Klub Liga Inggris MOJOK.CO

Persamaan Ormas Islam Indonesia dan Klub Liga Inggris, Liverpool Adalah NU dan Arsenal Itu HTI

25 Juli 2020
3 Persamaan Kozuki Oden dengan Gus Dur yang Bikin Mereka Layak Dikagumi terminal mojok.co

3 Persamaan Kozuki Oden dengan Gus Dur yang Bikin Mereka Layak Dikagumi

18 Februari 2021
Woodstock

Gelaran Woodstock-nya Indonesia Itu Penghinaan Terhadap Ruh Woodstock

4 Oktober 2019
gaya rambut trump

Persoalan Trump Ganti Gaya Rambut, Semoga Jokowi Nggak Ikutin

10 Juni 2019
gus baha' mazhab humor mencintai gus dur, humor

Terlambat Mencintai Gus Dur

19 Juni 2020
Lupakan Sejenak Mas Bechi, Ini 6 Fakta tentang Kota Jombang yang Perlu Kalian Tahu

Lupakan Sejenak Mas Bechi, Ini 6 Fakta tentang Kota Jombang yang Perlu Kalian Tahu

16 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

1 Agustus 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Setelah akad KPR rumah, saya baru sadar bahwa beli rumah bukannya jadi solusi, tapi justru jadi masalah baru

1 Agustus 2026
Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026
Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026
Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua Mojok.co

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

7 Agustus 2026
Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.