Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Para Pengendara Motor di Jogja Itu Terkenal dengan Santainya, kecuali Orang Bantul Selatan

Supriyadi oleh Supriyadi
9 Juni 2026
A A
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pengendara di Jogja itu rata-rata santai. Tapi, Bantul Selatan adalah anomalinya. Ngebut? Ah, biasa itu

Ada satu stereotipe tentang Jogja yang menurut saya cukup sulit dibantah: orang-orangnya kalau berkendara cenderung tidak terburu-buru. Kalau lampu merah masih beberapa detik lagi hijau, ya ditunggu. Kalau ada orang menyeberang, ya dipersilakan. Jika ada kendaraan depan jalan pelan, ya disalip kalau memang bisa, bukan sambil marah-marah seperti sedang mengejar warisan keluarga.

Ada satu lagi yang menonjol, yaitu klakson tidak dibunyikan semena-mena. Pokoknya hidup santai. Sampai suatu hari saya sadar ada satu anomali kecil yang mungkin luput dari pembahasan para peneliti sosial maupun pembuat konten wisata: orang Bantul bagian selatan, tempat masa kecil saya.

Entah kenapa, ada semacam energi yang berbeda ketika melihat motor melaju dari arah sana. Bukan ugal-ugalan, bukan juga balapan liar. Hanya saja, ritme yang terasa lebih cepat. Tarikan gasnya lebih mantap. Tatapan pengendaranya lebih fokus. Seolah-olah mereka bukan sedang pergi kerja atau kuliah, tapi sedang menjalankan misi penyelamatan dunia.

Saya punya penjelasan yang cukup masuk akal terkait hal ini.

Orang Bantul selatan kalau tidak berangkat cepat, bisa terlambat

Kalau diperhatikan, banyak orang Bantul Selatan sebenarnya menjalani kehidupan yang agak melelahkan secara geografis. Meskipun banyak masyarakatnya yang berprofesi sebagai petani, tapi tak jarang juga kerjanya kantoran di bagian utara. Kayak di Sleman dan Jogja Kota.

Letak geografis seakan memberikan mereka handicap. Mereka itu punya rumah di bagian selatan. Bertetangga dengan Nyi Roro Kidul atau bule Australia. Sementara itu, sekolah di utara, kuliah di kota, kerja di Jogja. Setiap hari mereka melakukan ritual yang sama, menyusuri jalan ke utara.

Yang tinggal di pusat kota mungkin tidak terlalu merasakan hype seperti ini. Tapi buat orang yang rumahnya jauh di Bantul bawah, tambahan lima belas menit bisa berarti terlambat absen. Tambahan satu lampu merah bisa berarti kehilangan jam masuk. Akhirnya lahirlah satu kemampuan yang tidak tertulis dalam kurikulum sekolah mana pun: kemampuan menghitung waktu sambil menarik gas.

Baca Juga:

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

Saatnya Warga Bantul Berbangga dengan Embung Potorono yang Bisa Membuat Warga Sleman Iri

Saya mulai curiga bahwa banyak orang Bantul Selatan sebenarnya tidak suka ngebut. Mereka hanya terlalu sering dihukum oleh jarak. Kalau setiap pagi hidupmu diukur oleh jarak dan waktu, pelan-pelan tangan kanan akan belajar mengambil keputusan yang lebih berani.

Yang demikian ini mungkin juga menjadi pembeda antara orang Bantul yang menganggap Sleman itu dekat, sementara orang Sleman menganggap Bantul itu jauh.

Jalan lurus seperti Shirathal Mustaqim

Kalau faktor pertama adalah kebutuhan, faktor kedua adalah fasilitas.

Coba lihat jalurnya. Ada Jalan Parangtritis dari selatan sampai pol utara ketemu Jokteng Wetan. Ada Jalan Imogiri Barat dan Jalan Imogiri Timur. Lalu, Jalan Samas yang nyambung ke Jalan Bantul hingga Jokteng Kulon.

Jalan-jalan ini punya karakter yang khas, panjang dan terasa lurus seperti jalan yang sudah dibuatkan untuk orang yang sedang buru-buru. Ingat, itu seperti shirathal mustaqim; tergelincir sedikit saja bisa menjatuhkan ke siksa neraka.

Kalau orang lain melihat jalan lurus sebagai infrastruktur, pengendara motor kadang melihatnya sebagai ajakan. Masalahnya, jalan lurus punya efek psikologis yang aneh. Begitu depan kosong dan pandangan jauh, otak mulai berbisik: “Tambah lagi gasnya.”

Awalnya dari empat puluh. Lalu lima puluh. Tiba-tiba sadar sudah seperti sedang dikejar tenggat hidup.

BACA JUGA: Bantul Memang Daerah yang Penuh dengan Kejadian (dan Orang) Aneh, Selalu Saja Ada Hal Baru (dan Aneh) di Bantul

Aspal halus adalah ujian yang tidak semua orang kuat menghadapinya

Saya punya teori lain. Jalanan di Bantul Selatan itu banyak yang enak. Aspalnya relatif halus. Tidak terlalu sering dilewati kendaraan berat. Lubangnya tidak sebanyak jalan yang terlalu sibuk.

Kalau ditambah suasana sekitar yang cenderung lebih lapang dan sepi, hasilnya cukup berbahaya bagi kestabilan emosi tangan kanan. Karena jalan halus itu seperti teman yang berkata, “Gasss.”

Pengendara motor adalah manusia biasa. Ada kepuasan yang sulit dijelaskan ketika motor terasa ringan, jalan terbuka, angin mulai terasa, lalu jarum speedometer bergerak lebih jauh dari niat awal.

Tapi di titik ini saya sadar satu hal. Mungkin orang Bantul Selatan memang terlihat lebih cepat di jalan. Hanya saja, itu bukan karena mereka sedang menolak filosofi hidup santai ala Jogja. Mereka hanya sedang berusaha tetap bisa hidup santai, tapi setelah sampai tujuan tepat waktu.

Sebab, hidup pelan itu ada syaratnya: jangan terlalu jauh dari tempat kerja. Dan kalau rumahmu di Bantul Selatan, kadang jalan menuju slow living memang harus ditempuh dengan sedikit lebih cepat.

Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Juni 2026 oleh

Tags: Bantulbantul selatanjalan di bantuljalan parangtritis
Supriyadi

Supriyadi

Seorang yang lahir di Bantul bagian selatan, berdomisili di Bantul bagian utara, dan ber-KTP Cirebon.

ArtikelTerkait

Kuliah Merantau di Jogja, eh Dikira Klitih karena Pakai Scoopy (Unsplash)

Pengalaman Pahit Menjadi Mahasiswa Rantau di Jogja ketika Motor Scoopy Saya Disangka Motornya Pelaku Klitih

3 November 2025
Saatnya Warga Bantul Berbangga dengan Embung Potorono yang Bisa Membuat Warga Sleman Iri

Saatnya Warga Bantul Berbangga dengan Embung Potorono yang Bisa Membuat Warga Sleman Iri

6 Mei 2026
Jalan Bibis Raya Bantul, Jalan Vital yang Kondisinya Nggak Masuk Akal: Penuh Lubang, padahal Akses ke Banyak Tempat Wisata

Jalan Bibis Raya Bantul, Jalan Vital yang Kondisinya Nggak Masuk Akal: Penuh Lubang, padahal Akses ke Banyak Tempat Wisata

3 September 2024
4 Jalan Berbahaya di Bantul yang Nggak Disadari Banyak Pengendara

4 Jalan Berbahaya di Bantul yang Nggak Disadari Banyak Pengendara

25 Juni 2024
Circle K Sedayu Bantul Enak untuk Nongkrong dan Nugas, Nggak Kalah dari Kafe Mojok.co

Circle K Sedayu Bantul Enak untuk Nongkrong dan Nugas, Nggak Kalah dari Kafe

4 Oktober 2024
3 Alasan Tinggal di Bangunjiwo Bantul Semakin Tidak Nyaman Mojok.co

3 Alasan Tinggal di Bangunjiwo Bantul Semakin Tidak Nyaman

10 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Saya Kira Orang Bilang Suzuki Burgman Jelek Itu Cuma Lebay, ternyata Memang Sejelek Itu

9 Juni 2026
6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang Terminal

6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang

8 Juni 2026
Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan Mojok.co

Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan

5 Juni 2026
Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

4 Juni 2026
5 Rahasia yang Perlu Diketahui sebelum Membuka Warung Madura, Eksklusif dari Juragannya Langsung usaha warung

Punya Usaha Warung di Desa Harus Siap dengan Risiko Banyak Orang Ngutang yang Entah Kapan Dibayarnya

9 Juni 2026
5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total Mojok.co

5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total

3 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.