Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

Budi oleh Budi
10 September 2025
A A
Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Orang sering bilang tinggal di dekat masjid atau musala penuh berkah. Ada rasa damai karena ibadah terasa dekat, dan ada rasa bangga karena lingkungan sekitar dianggap religius. Namun di balik itu semua, saya justru punya keresahan sendiri. Bukan soal ibadahnya, melainkan hal kecil yang sering terabaikan, yakni pengeras suara yang kadang dipakai tanpa kendali.

Akan tetapi jangan buru-buru menuduh saya orang yang anti-agama atau anti-ritual. Justru sebaliknya. Saya paham bahwa toa atau pengeras suara ini bukan sekadar tanda waktu salat, melainkan juga pengingat bahwa hidup ini fana dan kita dipanggil untuk menundukkan diri pada yang lebih tinggi. Dalam konteks itu, saya tak pernah merasa terganggu dengan azan. Bahkan saya bisa bilang bahwa suara azan, meski keras, punya nuansa yang menenangkan.

Hal yang membuat saya sering menghela napas panjang adalah hal yang datang setelah azan, sebelum azan, atau bahkan jauh dari momen azan. Di tempat saya tinggal, speaker luar masjid atau musala tak hanya dipakai untuk panggilan salat. Ada murotal panjang dengan volume tinggi, ada ceramah yang dipancarkan sampai radius dua kampung, ada pula tadarusan yang berlangsung sampai tengah malam.

Sekali lagi, saya tidak menafikan nilai kebaikan dari praktik itu. Membaca Al-Qur’an jelas ibadah. Memberi ceramah itu amal. Mengumandangkan selawat pun bagian dari tradisi yang punya akar panjang. Tetapi yang jadi problem bukan substansi, melainkan medium dalam hal ini speaker luar yang tidak mengenal batas ruang privat.

Hidup di antara toa masjid

Coba bayangkan suasana rumah ketika sedang bekerja atau apa pun. Laptop terbuka, tenggat waktu sudah mepet, kepala penuh dengan kalimat yang harus ditulis. Konsentrasi mulai terbangun, tapi tiba-tiba terdengar suara murotal dari toa luar masjid. Suaranya tak bisa diabaikan, tak bisa dikecilkan. Saya terhenti. Tak ada pilihan selain menelan rasa serba salah.

Menutup telinga dengan headset seolah menolak kebaikan. Tetapi membiarkannya masuk ke telinga membuat fokus saya buyar dan kepala pening.

Atau di malam hari, ketika tubuh sudah lelah dan mata hampir terpejam, tepat pukul 11 malam, ada sekelompok remaja yang semangat melanjutkan selawat lewat toa masjid. Suara mereka keras, agak fals, tapi penuh energi. Saya terbangung. Begadang tanpa kehendak.

Inilah yang membuat saya pribadi merasa kurang nyaman tinggal dekat masjid atau musala. Masalahnya bukan soal kedekatan dengan Tuhan, tetapi soal ritme hidup yang seakan harus mengikuti jadwal dan intensitas pengeras suara.

Baca Juga:

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

UIN Adalah Universitas Paling Nanggung: Menjadi Sumber Rasa Malu, Serba Salah, dan Tidak Pernah Dipahami

Antara amal baik dan hak bertetangga

Satu hal yang bikin situasi ini lebih rumit adalah perasaan serba salah. Semua kegiatan yang disiarkan lewat toa masjid atau musala itu jelas bernilai ibadah. Membaca Al-Qur’an adalah amal. Memberi ceramah adalah kebaikan. Mengumandangkan selawat juga punya tradisi panjang yang pahalanya teramat besar. Tetapi medium yang dipakai membuat ibadah itu seolah merampas ruang privat orang lain.

Saya sering merasa rumah saya tiba-tiba menjadi bagian dari ruang publik. Hak saya untuk menikmati hening terampas. Padahal hening itu bagi saya bukan sekadar kebutuhan, tetapi hak dasar.

Masalahnya, sulit sekali menyampaikan keberatan. Kalau bilang “suaranya terlalu keras”, nanti saya dianggap menghalangi syiar Islam. Kalau bilang “mohon dikurangi volumenya”, bisa-bisa dituduh tidak suka dengan Al-Qur’an. Padahal bukan isinya yang jadi masalah, melainkan cara dan sejauh mana ia diperdengarkan.

Saya yakin keresahan ini bukan hanya milik saya. Banyak orang mungkin merasakannya, tapi mereka diam karena sungkan. Mereka menahan diri karena takut dicap tidak religius. Akhirnya masalah ini terus berlangsung seolah sudah wajar.

Aturan mengenai pengeras suara masjid dan musala sebenarnya sudah ada

Menariknya, keresahan seperti ini bukan hal baru. Negara sebenarnya sudah mengantisipasi persoalan ini sejak lama. Pada 1978, Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama sudah mengeluarkan surat edaran tentang penggunaan pengeras suara di rumah ibadah. Kemudian aturan itu diperbarui melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

Isinya cukup jelas. Pengeras suara luar hanya dipakai untuk azan, iqamah, dan takbir pada hari raya. Pengeras suara dalam dipakai untuk kegiatan lain seperti ceramah, tadarusan, atau pengajian. Volume suara juga harus diatur secara wajar, maksimal 100 dB, disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar. Intinya, penggunaan pengeras suara dilakukan dengan penuh hikmah agar tidak menimbulkan gangguan.

Artinya, negara paham bahwa persoalan ini nyata. Negara juga sudah membuat panduan untuk menyeimbangkan hak beribadah dengan hak warga atas ketenangan. Masalahnya, implementasi aturan itu masih sangat bergantung pada kesadaran masyarakat, dan kesadaran itu masih jauh dari ideal.

Harapan yang sederhana

Saya tidak menuntut banyak. Saya tidak meminta masjid atau musala berhenti menggunakan toa. Pun saya tidak meminta suara azan dipelankan. Saya hanya berharap ada kesadaran untuk menempatkan pengeras suara sesuai fungsinya yang paling esensial. Azan tetap harus terdengar jelas sebagai panggilan ibadah. Tetapi ceramah, murotal, atau selawat sebaiknya cukup diperdengarkan lewat pengeras suara dalam.

Jika aturan yang ada benar-benar dijalankan, keresahan seperti yang saya rasakan bisa berkurang. Orang yang ingin beribadah tetap bisa beribadah dengan khusyuk. Orang yang ingin tidur bisa tidur dengan tenang. Dan orang yang bekerja bisa fokus tanpa harus mengorbankan hak untuk hening.

Toh, agama juga mengajarkan kita untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga. Nabi sendiri pernah menekankan bahwa tanda kesalehan salah satunya adalah menghormati hak orang sekitar. Maka, rasanya ironis kalau ibadah justru berubah menjadi sumber kegaduhan.

Tinggal dekat masjid atau musala seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan ketegangan. Tetapi bagi sebagian orang seperti saya, pengalaman itu sering kali menimbulkan dilema. Antara ingin menghormati praktik ibadah dan ingin mempertahankan hak atas ruang privat.

Aturan soal pengeras suara sudah ada. Tinggal bagaimana masyarakat mau membicarakannya tanpa rasa sungkan, dan mau menaatinya dengan rendah hati. Dengan begitu, kita bukan hanya mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi juga menjaga harmoni dengan sesama manusia. Dan menjaga harmoni dengan sesama, pada akhirnya, juga bagian dari ibadah.

Penulis: Budi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Beberapa Hal yang Bikin Nggak Enak Tinggal di Rumah Dekat Masjid.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 September 2025 oleh

Tags: islamMasjidmusalamuslimrumah dekat masjidsalattoa masjid
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

Adanya Aplikasi Poligami Online, Bisa Jadi Alasan Suami Pinjem Hape Istri!

Benarkah Islam Memperbolehkan Suami Memukul Istri?

14 September 2020
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan

11 Mei 2020
Benarkah Salat Jumat Bikin Ganteng dan Wudu Bikin Wajah Glowing?

Lima Karakteristik Jamaah Salat Tarawih yang Pernah Saya Temui

2 Mei 2020
Menyoal Larangan Tidur di Atas Karpet Masjid, tarawih

Mengenang Asyiknya Tarawih dari Satu Masjid ke Masjid Lainnya

15 Mei 2020
Tempat Duduk Saat Tahlilan Bisa Digunakan untuk Memetakan Status Sosial Seseorang terminal mojok.co

Islam Ramah Itu Kayak Gimana Sih?

30 November 2019
Vandalisme Jari Bekas Lipstik di Tembok Musala

Vandalisme Jari Bekas Lipstik di Tembok Musala

25 Februari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Indomaret Tutup, Orang Dewasa Depresi Bakal Makin Stres (Unsplash)

Membayangkan Semua Gerai Indomaret Tutup: Ibu-Ibu Merana Kehilangan Promo Minyak Goreng, Orang Dewasa Stres Makin Depresi Kehilangan Kursi Besi Andalan

1 Juni 2026
Di Balik Solo yang Syahdu Sehabis Hujan, Ada Ancaman yang Mengintai Pengguna Jalan Terminal

Di Balik Solo yang Syahdu Sehabis Hujan, Ada Ancaman yang Mengintai Pengguna Jalan

31 Mei 2026
Naik Bus Rosalia Indah Kelas Super Top Double Decker Bikin Saya Betah Berlama-lama di Dalam Bus Mojok.co

Naik Bus Rosalia Indah Kelas Super Top Double Decker Bikin Saya Betah Berlama-lama di Dalam Bus

31 Mei 2026
Tips Belanja di Warung Madura supaya Menjadi Pelanggan Kesayangan Pemilik Tokonya Mojok.co

Tips Belanja di Warung Madura supaya Menjadi Pelanggan Kesayangan Pemilik Tokonya

31 Mei 2026
Korupsi Mandala Krida Bunuh Marwah Jogja Kota Budaya (Wikimedia Commons)

Kasus Korupsi Mandala Krida Membuat Jogja Kehilangan Marwahnya Sebagai Kota Beradab

29 Mei 2026
Ditolak Universitas Trunojoyo Bukan Akhir dari Segalanya, Masih Ada 3 Kampus di Madura Lain yang Layak Jadi Plan B Terminal

Ditolak Universitas Trunojoyo Bukan Akhir dari Segalanya, Masih Ada 3 Kampus di Madura Lain yang Layak Jadi Plan B

27 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.