Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

Dodik Suprayogi oleh Dodik Suprayogi
6 Agustus 2026
A A
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pindah dari kota ke desa, seringkali membawa ekspektasi romantis tentang udara segar dan hidup tenang. Sayang, kenyataannya tak seindah itu. Warga baru wajib menguasai satu pelajaran agar mental tidak hancur. Ukurannya bukan seberapa akrab dengan Pak RT, melainkan seberapa cepat kaki melangkah begitu bendera putih berkibar di depan rumah tetangga.

Di desa, kematian adalah acara komunal yang melibatkan seluruh warga sekampung. Pengumuman duka dari toa masjid sering berbarengan dengan jam krusial persiapan kerja. Di sini dilema dimulai, ketika alasan kesibukan kantor sama sekali tidak ada harganya dibandingkan urgensi melayat dan mengantar jenazah.

ADVERTISEMENT

Bagi saya yang pernah hidup di desa, izin telat masuk kantor karena takziah adalah pertaruhan besar. Mangkir melayat demi dalih deadline siap menghancurkan reputasi sosial dalam sekejap mata di tengah lingkungan perkampungan yang menuntut solidaritas tinggi.

Izin telat jadi pertaruhan karier

Setiap kali pengumuman duka berkumandang di pagi hari, keringat dingin saya langsung bercampur dengan kepanikan administratif kantor. Saya harus merangkai pesan WhatsApp paling sopan kepada atasan, menjelaskan bahwa saya harus melayat tetangga terlebih dahulu sebelum membuka laptop. 

Celakanya, prosesi takziah di desa tidak pernah berjalan kilat layaknya di kota. Di sana bisa memakan waktu berjam-jam mulai dari tahlilan singkat hingga menunggu keranda diangkat.

Sementara saya duduk bersila di antara para bapak-bapak sambil menatap nanar jam tangan, notifikasi grup kantor mulai bergemuruh menagih progress pekerjaan. Rasanya ingin sekali ngibrit pulang demi menyelamatkan karier dari teguran atasan. 

Akan tetapi, akal sehat langsung memperingatkan konsekuensi sosial yang jauh lebih mengerikan jika nekat kabur sebelum jenazah benar-benar diberangkatkan ke pemakaman.

Hidup di desa wajib waspada dengan gibahan pos ronda 

Konsekuensi paling nyata dari mangkir takziah adalah dinobatkannya sebagai warga paling egois sekecamatan. Gosip di desa menyebar jauh lebih cepat daripada internet, biasanya bermula dari obrolan santai di pos ronda atau warung kopi langganan warga. Jika ada nama yang tidak terlihat batang hidungnya di barisan pengantar jenazah sampai liang lahat, ia pasti masuk daftar hitam perbincangan hangat.

Baca Juga:

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya 

Label sebagai orang asing yang antisosial tentu bukan hal enak untuk disandang selama tinggal di desa. Pernah suatu hari saya nekat pulang demi mengejar rapat penting sesaat setelah salat jenazah selesai. 

Baru setengah jam duduk di depan layar, tetangga sebelah sudah mampir menyindir kenapa saya tidak ikut rombongan jalan kaki mengantar tetangga.

Harga mahal sebuah kesiapan mental

Ritual sosial desa mengajarkan bahwa urusan melayat bukan sekadar empati, melainkan tiket mutlak diterima tidaknya kita sebagai warga sah. Menolak ikut mengantar ke kuburan sama artinya dengan membeli tiket diasingkan secara perlahan oleh sistem adat lokal yang tidak tertulis. Kita dipaksa untuk belajar ikhlas merelakan performa kerja hancur demi menjaga keharmonisan hubungan horizontal dengan tetangga sekitar.

Bagi para pekerja kantoran modern yang terbiasa hidup individualis, tekanan kultural semacam ini sering kali terasa sangat menguras emosi dan tenaga. Namun, pilihan untuk bertahan di desa menuntut harga bayar yang mahal berupa kesiapan mental menghadapi julukan miring. Pada akhirnya, urusan liang lahat tetangga memang terkadang jauh lebih menentukan nasib sosial ketimbang prestasi kerja di tempat mencari uang.

Pada akhirnya, tinggal di desa mengajarkan saya bahwa hidup bermasyarakat menuntut elastisitas mental di luar batas nalar pekerja kantoran. Urusan perut memang penting, tetapi reputasi di kampung juga krusial agar kita tidak dikucilkan secara perlahan. Menjadi warga desa berarti siap memeluk kenyataan pahit bahwa urusan sosial lokal jauh lebih menentukan nasib ketimbang prestasi kerja.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2026 oleh

Tags: Desahidup di desakuburanlayatmelayattakziah
Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Penggiat pertanian yang sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti Jakarta.

ArtikelTerkait

Mengulik Lebih Dalam Desa Wisata di Jogja supaya Orang Tidak Salah Kaprah Mojok.co

Mengulik Lebih Dalam Desa Wisata di Jogja supaya Orang Tidak Salah Kaprah

15 Desember 2024
Sisi Gelap Pernikahan di Desa, Sudah Menggadaikan Sawah Demi Biaya Hajatan, Masih Aja Jadi Omongan Tetangga Mojok.co

Sisi Gelap Pernikahan di Desa, Sudah Gadaikan Sawah Demi Biaya Hajatan, Masih Aja Jadi Omongan Tetangga

24 Juli 2025
Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga Mojok.co

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga

12 Agustus 2026
Pesan buat yang Pelihara Ayam di Rumah: Jaga Baik-baik Ayam Kalian, Jangan Sampai Keluyuran di Tengah Jalan. Bikin Orang Lain Kecelakaan, lho!

Pesan buat yang Pelihara Ayam di Rumah: Jaga Baik-baik Ayam Kalian, Jangan Sampai Keluyuran di Tengah Jalan. Bikin Orang Lain Kecelakaan, lho!

19 November 2023
5 Drama Korea yang Bikin Orang Kota Pengin Hidup di Desa Mojok.co

5 Drama Korea yang Bikin Orang Kota Pengin Hidup di Desa

4 Juni 2024
4 Skill Karang Taruna di Desa yang Sulit Disaingi oleh Warga Kota Mojok.co

4 Skill Karang Taruna di Desa yang Sulit Disaingi oleh Warga Kota

25 Maret 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini Mojok.co

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini 

22 Agustus 2026
Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang Mojok.co

Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang

24 Agustus 2026
Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya Mojok.co

Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya

24 Agustus 2026
Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar Terminal

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

21 Agustus 2026
Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.