Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Dakwah di Diskotik: Apakah Indonesia Kekurangan Masjid?

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
27 Juli 2019
A A
diskotik

diskotik

Share on FacebookShare on Twitter

Pertanyaan menggelikan ini mengganggu pikiran saya sejak beberapa waktu yang lalu. Belum lagi diiringi dengan asumsi bahwa memindahkan tempat dakwah dari masjid ke diskotik atau klub malam ialah salah satu penurunan harga diri seorang pendakwah. Menurut saya, ada proses berfikir yang belum selesai dalam argumen tersebut.

Tren berdakwah di lingkungan yang terkesan “kotor” bagi sebagian besar kaum yang merasa suci ini telah dimulai sejak beberapa dekade silam oleh seorang kiai bernama lengkap Hamim Thohari Djazuli atau biasa disapa oleh anak-anak dan para santrinya dengan sebutan Gus Miek, beliau ialah pendiri pondok pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo, Kediri. Dakwah beliau dari satu klub ke klub yang lain banyak menuai kritik pada masa itu karena dianggap tidak mu’tabarah (berkesinambungan sanad dengan ilmu-ilmu kiai NU), namun justru menjadi sejarah manis hingga hari ini dengan meninggalkan sebuah gerakan bernama dzikrul ghafilin (pengingat bagi orang-orang lupa) yang awalnya digelar untuk orang-orang di bar dan diskotik saja namun kemudian dikembangkan di tempat—tempat terbuka menjadi sebuah majelis rutin.

Baru-baru ini, ada pula Gus Miftah yang ramai menjadi bahan perbincangan karena gaya dakwah yang beliau lakukan mirip dengan Alm. Gus Miek  yaitu di klub malam, bar, dan lain-lain. Tapi, perdebatannya kini semakin dangkal yaitu menganggap bahwa dakwah hendaknya dilaksanakan di masjid bukan tempat-tempat kotor yang bahkan tidak pantas untuk para pendakwah menginjakkan kaki tersebut.

Tapi ingatkah kita bagaimana kondisi bangsa Arab (yang di elu-elukan itu) pra Islam? Mereka barbar, menggunakan hukum rimba dalam peradabannya, mabuk-mabukan dan menghalalkan pertumpahan darah demi kekuasaan dan segala yang diinginkannya. Bagaimana jadinya jika saat itu, Muhammad (yang diutus untuk menyempurnakan akhlak [QS. 21:7]) memaksa semua masyarakat barbar itu mengikuti nilai yang beliau anut dan memaksa membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala? Mungkin yang terjadi hanya penolakan dan cibiran atau bahkan pertumpahan darah sehingga cerita tentang Islam hanya menjadi sejarah peradaban yang tak pernah tersampaikan. Tapi untunglah Tuhan tidak salah memilih, Muhammad bukan seorang pendakwah yang pemarah dan gengsian untuk sekedar berbaur dan menyapa duluan kepada Kaum Kafir Quraisy yang belum paham Islam. Ia juga tidak menyumpah serapahi orang-orang kafir itu dengan ucapan “celakalah kau ahli neraka”. Seandainya Muhammad memilih untuk jaga harga dirinya sebagai makhluk terbaik utusan Tuhan dengan tidak melibatkan diri pada peradaban barbar itu, mungkin Islam hanya akan menjadi dongeng penghantar tidur.

Kembali pada pernyataan soal dakwah di masjid (yang suci) atau diskotik (yang kotor), menurut saya penyataan dikotomis ini perlu diuji kembali. Benarkah bahwa masjid ialah satu-satunya tempat yang layak untuk berdakwah? Kalau memang demikian, kenapa dulu Rasulullah Muhammad tidak menyeret saja orang-orang Kafir Quraisy menuju masjid? Karena tidak adanya masjid? Menurut saya bukan itu jawabannya, tapi karena Islam diturunkan sebagai bentuk rahmat Allah (cinta kasihnya) kepada alam semesta sehingga siapapun di manapun layak merasakan rahmat itu.

Perkara masjid sebagai tempat ibadah, sudah pernah baca hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Taimiyah yang berbunyi “bahwasannya setiap jengkal muka bumi ini ialah masjid, kecuali kuburan dan WC” ? Apa maksudnya? Mereduksi makna masjid yang secara harfiah merupakan tempat untuk bersujud, memanjatkan puja puji dan merasakan cinta kasih menjadi sebuah bangunan kokoh dengan segala arogansinya untuk menolak makhluk Tuhan ialah bentuk lain dari kesombongan.  Selain bentuk lebih kecilnya ialah membangun banyak masjid megah sebagai kebanggaan, kemudian  membiarkannya sepi jamaah dengan berbekal aturan jam malam seperti yang tertulis dalam artikel Surat Terbuka Untuk Takmir Masjid Jelang Berakhirnya Bulan Ramadan, lha gimana orang-orang klub malam mau mampir kalau jam 9 aja udah digembok?

Kata dakwah sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti panggilan atau seruan. Dakwah memiliki dua metode yang secara umum dijelaskan dalam Alquran dengan kalimat bil- hikmah wa mauidzotil hasanah (dengan kalimat-kalimat dan contoh-contoh yang baik). Sementara pengejawantahannya baik ceramah, seminar, menulis, dan sebagainya tidak mengurangi esensi dakwah sebagai sebuah panggilan dan ajakan selama dilakukan dengan cara-cara yang baik. Dalam perbincangan ini sebenarnya tidak ada masalah dengan dakwah di diskotik yang justru merupakan seni “memanggil” yang sangat sopan.

Senangkah kita jika didatangi di rumah kemudian diajak mengenal sesuatu yang mungkin baru dan menyegarkan? Atau lebih nyaman jika diteriaki dari jauh untuk keluar dari “rumah” yang nyaman itu sekedar untuk berbincang? Memaksakan diri menyeru orang-orang di klub malam, bar dan diskotik dengan speaker masjid yang bahkan  tak pernah mereka dengar gaungnya? Logika sebercanda apa ini?

Baca Juga:

Nasi Jangkrik, Makanan Khas Kudus yang Jadi Media Dakwah Sunan Kudus

Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Terjebak Stereotip, Kuliah Jadi Makin Berat

Perdebatan terakhir ialah terkait khawatiran akan harga diri para pendakwah atau harga diri (muruah) agama akan runtuh ketika berdakwah di tempat “kotor”. Hati saya runtuh mendengar ini, betapa arogannya kita sehingga sanggup melabeli bahwa orang-orang yang berada di lokalisasi ialah pasti orang yang jauh lebih buruk di banding kita. Masih terngiang di kepala saya sebuah nasihat, “beribadah dan istiqamah memang berat, tapi godaan yang lebih berat ialah untuk tidak menyombongkan diri sebagai ahli ibadah dengan menganggap bahwa diri kita ialah pribadi yang lebih baik dibanding orang lain.”

Jika uang seratus ribu rupiah saja tidak kehilangan nilainya hanya karena berkubang lumpur, apalagi Islam, agama yang Allah janjikan menjadi rahmat bagi semesta. Lalu, apakah Indonesia kekurangan masjid untuk berdakwah? Tidak, kita hanya perlu meluaskan hati untuk menyadari bahwa rahmat Tuhan tidak terbatas pada jenis bangunan.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: dakwahdiskotikhidup beragamaUstaz
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Emang Bener Ulama itu Pewaris Para Nabi MOJOK.CO

Emang Bener Ulama Itu Pewaris Para Nabi?

17 Juli 2020
memaafkan ustaz MOJOK.CO

Ustaz yang Tidak Memiliki Kapasitas Keilmuan Harusnya Belajar, Bukan Asal Dakwah

9 Juli 2020
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Terjebak Stereotip, Kuliah Jadi Makin Berat Mojok.co

Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Terjebak Stereotip, Kuliah Jadi Makin Berat

4 November 2023
uztaz MOJOK

6 Tipe Ustaz yang Harus Kamu Hindari Ceramahnya

4 Juli 2020
Bukan Ibadah Salat Saya yang Kecepetan, tapi Salat Anda yang Kelamaan mojok.co/terminal

Pak Ustaz, Ayo Dong Bikin Contoh Dakwah yang Berbasis Kelestarian Alam

21 Februari 2021
Model Dakwah Ala Kultum Pemuda Tersesat Sudah Ada Sejak Zaman Rasulullah terminal mojok.co

Model Dakwah ala Kultum Pemuda Tersesat Sudah Ada Sejak Zaman Rasulullah

11 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku Mojok.co

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

20 April 2026
Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita Mojok.co

Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita

16 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-Sama Terlupakan  Mojok.co

Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-sama Terlupakan 

17 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Warga Depok Habiskan Hampir 2 Juta Rupiah per Bulan Cuma buat Kerja di Kawasan Senayan, Dedikasinya Tinggi!

16 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur
  • Pengguna iPhone Ingin “Naik Kelas” Bikin Muak, Gaya Elite padahal Dompet Sulit
  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.