Surat Terbuka Untuk Takmir Masjid Jelang Berakhirnya Bulan Ramadan – Terminal Mojok

Surat Terbuka Untuk Takmir Masjid Jelang Berakhirnya Bulan Ramadan

Artikel

Fatimatuz Zahra

Salam ta’dhim kepada seluruh takmir dan jajaran pengurus serta semua orang yang bersama-sama berupaya memakmurkan masjid..

Gema takbir segera berkumandang, menandakan hari baru telah datang—menandai pula akhir dari bulan Ramadan.

 

Saya—selaku pengguna masjid yang menikmati fasilitas yang disediakan di sana—mengucapkan banyak terimakasih kepada para takmir masjid yang telah berkomitmen untuk menjada kebersihan tempat serta fasilitas ibadah. Begitu pula saya juga berterimakasih kepada para takmir yang mengabaikan kebersihan karpet, mukena serta kamar mandi sehingga saya bisa belajar sesuatu, apa itu? Ya jelas, untuk tidak kembali dan merekomendasikan kepada teman untuk tidak mengunjungi. Biar saya saja yang ngempet dan jangan lagi yang lain.

Salah satu bagian favorit saya saat jalan-jalan—ya main ke masjidnya. Dengan ekspektasi yang selalu tinggi bahwa masjid adalah tempat ngadem dan berteduh yang gratis dan nyaman—tapi nyatanya nggak jarang saya mendapati masjid yang tidak lebih nyaman dibanding halte bus. Sebut saja inisialnya masjid Istiqlal yang ikonik atau masjid Raya Bandung yang juga tersohor, tidak semegah namanya serta tampak luarnya (kalau di-shoot pake drone) kondisi kebersihannya—menurut saya sudah sampai pada tahap lumayan menyedihkan.

Toilet yang kurang memadai untuk mengimbangi kapasitas masjid dalam menampung jamaah, bahkan serambi masjid Raya Bandung yang sanggup membuat saya berjanji untuk tidak datang lagi. Bagi kawan-kawan yang pernah istirahat atau sekedar berteduh menunggu hujan reda di sana, pasti paham bagaimana kondisi serambi yang digunakan juga oleh para pedagang asongan untuk bersembunyi dari Satpol PP.

Tapi ada juga masjid-masjid yang selalu saya rekomendasikan pada siapapun yang berkunjung, masjid UIN Jakarta, Masjid UNJ dan masjid-masjid atau musala kecil tidak terkenal namun kebersihannya patut diacungi jempol—musala Gasibu Bandung misalnya, atau masjid di pertigaan menuju Warung Kopi Klotok, dan banyak lagi lainnya. Oleh karenanya atas nama jamaah, saya mengucapkan terimakasih pada para takmir.

Baca Juga:  Bagaimana Jadinya Jika Generasi Z Jadi Orang Tua?

Tidak hanya itu, menyambut Ramdan biasanya masjid-masjid memiliki program tertentu seperti buka puasa gratis, takjil gratis serta membuka masjid 24 jam untuk i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Saya juga termasuk satu di antara banyak orang yang menikmati takjil dan buka puasa gratis yang disediakan di masjid-masjid—sekali lagi terimakasih takmir. Mungkin untuk program yang satu ini memang cocok untuk dijadikan endemik program saat puasa mengingat bahwa semarak puasa yang paling besar ya memang saat bulan Ramadan—bulan lain mah boro-boro puasa, nggak telat ngampus dan ngantor aja cakep.

Tapi pak takmir, saya punya satu pertanyaan terpendam dari semua uneg-uneg di atas. Kenapa masjid dibuka 24 jam untuk menampung orang tidur i’tikaf hanya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan? Saya juga tahu kalau pada hari-hari itu orang akan mengejar malam yang lebih berharga dari seribu bulan—lailatul qadr—tapi apakah kita lupa apa sesungguhnya esensi Ramadan? Bulan untuk melatih diri mengendalikan hawa nafsu. Namanya latihan pasti untuk mempersiapkan sesuatu kan ? Menurut saya, justru “praktik” nyata pasca pelatihan ini ialah sebelas bulan di luar Ramadan, lantas kalau di saat latihan kami semua difasilitasi untuk i’tikaf namun bulan-bulan selanjutnya tidak—lha mau praktiknya gimana? Apa iya kami harus nunggu setahun sekali untuk latihan lagi—dan begitu seterusnya?

Halah, paling kalau nggak Ramadan orang ke masjid cuma numpang tidur. Iya memang—sekedar melepas penat dari perjalanan jauh, numpang berteduh, berdiskusi sejenak dan hal lain yang nampaknya tidak bernilai ibadah. Tapi apa kita semua tidak ingat bagaimana makmurnya masjid pada zaman Rasulullah? Masjid nggak cuma dipake salat dan baca Alquran yang tampak seperti ibadah, tapi juga buat latihan memanah, tempat diskusi bahkan menampung para sufi yang homeless di serambi masjidnya. Supaya apa? Ya supaya masyarakatnya jamaahnya merasa nyaman untuk berlama-lama di masjid,

Baca Juga:  Bagi Saya, Sandal Selop Karet Adalah Alas Kaki Terbaik Sedunia

Lama-lama kalau sudah kerasan tanpa harus diminta pasti akan datang sendiri—ikut merawat karena merasa memiliki. Oleh karena itu, kepada para takmir yang saya ta’dhimi, selepas Ramadan ini tolong jangan ada lagi pengusiran kepada kami yang terlihat tidak beribadah untuk masuk ke masjid. Biarkan kami menjemput suka cita hingga hati kami terpaut dengan sendirinya kepada masjid. Supaya makmurnya masjid tidak hanya karena takjil, tapi karena kerasan.

---
12


Komentar

Comments are closed.