Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Punya Kawan Marbot Masjid Adalah Kemewahan Paling Mudah, Murah, plus Berkah

Adi Sutakwa oleh Adi Sutakwa
30 Januari 2021
A A
Punya Kawan Marbot Masjid Adalah Kemewahan Paling Mudah, Murah, plus Berkah terminal mojok.co

Punya Kawan Marbot Masjid Adalah Kemewahan Paling Mudah, Murah, plus Berkah terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak kuliah di Solo, pun setelah pindah ke Jogja, saya punya banyak jejaring marbot masjid yang sangat berharga. Saya sendiri bukan marbot, dan sampai menikah akhirnya nggak pernah jadi marbot, tapi semua privilege marbot telah saya rasakan secara menyeluruh. Jadi, saya ini kira-kira bisa dikategorikan dalam ikhwan yang beruntung lah ya, beda tipis sama nggak tahu malu sih. Lha wong nggak ikut bersihin masjid, malah selalu kebagian berkah jasmani dan rohani dari kegemaran ngerusuhin para marbot.

Persinggungan pertama saya dengan marbot terjadi di Solo, salah satu senior di organisasi kampus yang saya ikuti adalah marbot masjid di kawasan belakang UNS. Di sana ada tiga kamar khusus untuk marbot, tentunya gratis mereka tempati selama menjadi marbot. Setahu saya sih mereka tidak dibayar, hanya saja diizinkan menggunakan seluruh fasilitas yang ada di lingkungan masjid.

Masjid di daerah belakang kampus Kentingan itulah yang sering kali jadi tempat pelarian saya kalau lagi males banget sama sumpeknya kos binaan. FYI, saya memang salah satu mantan penghuni kos binaan yang kayaknya sih nggak di UNS doang, tapi di seluruh kampus besar berbagai kota Indonesia sangat lumrah dan menjamur konsep kos terprogram semacam ini. Lain kali akan saya ceritakan bagaimana kos binaan menguasai peta perpolitikan kampus.

Kembali pada bahasan marbot, selain bebas tinggal barang satu dua malam, keuntungan lainnya yang saya dapat tentu saja bisa puas membaca koleksi buku beraneka tema milik senior saya itu. Beberapa kejadian lucu pernah dituturkan senior saya itu, misalnya tentang betapa aman kendaraan motor yang terparkir di dalam masjid, meskipun gerbang nggak digembok, motor nggak dikunci porok.

Pernah suatu kali tetangga samping masjid kecurian kendaraan, padahal gerbang rumahnya tertutup, motornya terkunci. Sementara ini motor-motor para marbot yang jelas-jelas pasang badan nggak dikunci stang, malahan nggak disentuh sama sekali dan tetap aman sampai subuh menjelang. Subhanallah, antum memang dilindungi Allah, Akh!

Setelah pindah ke Jogja demi melanjutkan studi, saya bahkan lebih sering berinteraksi dengan marbot masjid. Alasannya sederhana, marbot yang mendiami masjid di daerah Baciro dekat Stadion Mandala Krida itu, adalah kawan seperjuangan saya ketika masih jadi anggota rohis unyu-unyu di SMA dulu. Di sana buku bacaan saya lebih banyak lagi, tiga sisi dinding kamar marbot isinya rak tinggi menjulang, buku semua, wong ini marbot nyambi jualan buku dari penerbit.

Kemewahan lainnya yang saya dapatkan kurang lebih sama lah ya, dengan kenalan marbot di Solo. Tidur gratis, kalau sumuk di kamar bisa pindah ke masjid, di atas permadani empuk, dilengkapi AC alami dari banyaknya ventilasi masjid. Apalagi sepanjang tidur dibarengi dengan kegiatan berpahala sampai pagi, bersedekah darah pada nyamuk-nyamuk yang dengan setia menemani malam-malam saya.

Keuntungan lainnya, tentu saja seperti masjid-masjid pada umumnya di Jogja, selalu ada sajian berbuka puasa gratis. Bedanya, di masjid tempat kawan saya bermukim ini, makanannya selalu yang turah-turah, cukuplah sampai waktu makan sahur nanti. Pasalnya, masjid yang satu ini letaknya memang agak menjorok ke dalam, kalau tidak mau disebut terpencil. Meskipun demikian, nggak jarang dapat nasi kotak sisa pelatihan anak-anak lulusan IPDN yang lokasi pusdiklatnya nggak jauh dari sana.

Baca Juga:

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

4 Perbedaan Ibadah di Masjid Indonesia dan Turki, Salah Satunya Pakai Sepatu ke Tempat Wudu

Selain tiga kamar yang memang disediakan untuk menunjang kehidupan marbot, terdapat pula satu dapur lengkap dengan kompor dan kulkasnya. Buat saya yang selama di Solo nggak pernah masuk ke kos-kosan elit berfasilitas lemari pendingin, adanya refrigerator di dapur marbot kawan saya ini sungguh surga dunia. Apalagi buat saya yang memang peminum berat air dingin. Kulkas gratis ini sangat menyehatkan keadaan finansial saya yang sebelumnya selalu terkuras karena membeli es sehari lebih dari tiga kali di warmindo.

Saya pernah tinggal berbulan-bulan di masjid dekat Stasiun Lempuyangan ini, bukan untuk itikaf ya, tetapi karena kos-kosan saya di daerah Pogung sudah habis masa berlakunya. Dasarnya memang ikhwan gadungan, bukannya bantu-bantu kegiatan dakwah dan membersihkan masjid, saya malah ikut enak-enaknya saja.

Terakhir, karena memang lokasinya hanya berjarak tiga menit dari stasiun, sudah nggak terhitung lagi frekuensi titip motor yang saya lakukan di masjid ini. Demi menghindari biaya parkir inap tiga ribu rupiah per hari di lokasi penitipan motor depan Lempuyangan. Kebetulan waktu itu saya memang kerap bolak balik Jogja–Solo–Pemalang.

Kini, kedua marbot yang sudah saya anggap sebagai saudara itu telah hidup di kontrakan masing-masing. Mereka sama-sama telah menikah dan hidup bahagia dengan istri dan anaknya. Uniknya, bisnis yang hingga kini menopang dan menyambung hidup mereka adalah jualan buku online. Usaha mulia sebagai penyambung ilmu yang saya yakin kelak akan jadi wasilah di akhirat sana.

BACA JUGA Pengalaman Nggak Enak Saat Kerja Jadi Marbot Masjid dan tulisan Adi Sutakwa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2021 oleh

Tags: ikhwanMasjid
Adi Sutakwa

Adi Sutakwa

Kelas pekerja dari Pemalang yang menghabiskan separuh hidupnya sebagai perantau di Solo, Jogja, Jakarta, dan Serang. Kritis pada isu pangan, industri, pendidikan, politik, sepakbola, seni, hingga animanga.

ArtikelTerkait

9 Masjid di Jogja yang Sediakan Menu Takjil Gratis Terminal Mojok.co

9 Masjid di Jogja yang Sediakan Menu Takjil Gratis

5 April 2022
donasi infak masjid infaq saweran dangdut urunan dangdutan konser dangdut mojok.co

Alasan Sebagian Orang Desa Saya Lebih Nyah-Nyoh Iuran Konser Dangdut ketimbang Infak Masjid

1 Juni 2020
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan

10 Mei 2020
Menyoal Larangan Tidur di Atas Karpet Masjid, tarawih

Mengenang Asyiknya Tarawih dari Satu Masjid ke Masjid Lainnya

15 Mei 2020
Anak Kos Nggak Usah Khawatir, Ini 5 Masjid di Malang yang Nyediain Makanan Gratis terminal mojok

5 Masjid di Malang yang Nyediain Makanan Gratis, Anak Kos Nggak Usah Khawatir!

5 November 2021
batita Nyuruh Anak Kecil ke Masjid Itu Bagus, tapi Ajari Juga Adabnya terminal mojok

Nyuruh Anak Kecil ke Masjid Itu Bagus, tapi Ajari Juga Adabnya

27 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game Terminal

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game

20 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

3 Alasan Kuliah di Jatinangor Adalah Training Ground sebelum Masuk Dunia Kerja

18 Mei 2026
Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026
Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

19 Mei 2026
Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.