Orang-orang Di Desa Saya Nggak Butuh Kelas Fitness agar Badannya Terbentuk – Terminal Mojok

Orang-orang Di Desa Saya Nggak Butuh Kelas Fitness agar Badannya Terbentuk

Artikel

Kebugaran fisik adalah salah satu anugerah yang patut disyukuri. Dengannya, pekerjaan seberat apa pun, pasti akan mudah dilewati. Beban besar seperti apa pun, akan mampu ia pikul. Mau dibanting seperti apa pun, dengan badan yang bugar, ia akan tetap kembali berdiri. Saking pentingnya perihal kebugaran fisik, banyak saya lihat, penawaran agar tubuh lebih fit dan lebih jos lagi. Bahkan ada yang menawarkan, agar tubuh bisa dibentuk, sesuai kemauan sendiri. Biasanya, yang menawarkan hal ini adalah tempat pusat kebugaran, yang kemudian dikenal dengan sebutan gym agar orang-orang mengikuti kelas fitness.

Di dalamnya, tersedia banyak alat yang masing-masing punya kegunaannya sendiri. Ada yang untuk membentuk otot trisep, bisep, asep, dan sep sep yang lain. Ada yang untuk memperbaiki posisi punggung agar tidak selalu membungkuk. Dan ada pula alat yang digunakan untuk bikin perut jadi mirip cetakan tahu yang kotak-kotak itu.

Tak hanya itu, dalam pusat-pusat kebugaran dan kelas fitness tak jarang ditemukan semacam suplemen untuk mempercepat proses terbentuknya otot atau membuat otot jadi mirip kumpulan gelembung yang makin lama makin besar. Ada yang bentuk pil, ada yang bentuk susu, dan mungkin juga ada yang bentuknya mirip pupuk urea untuk mempercepat tumbuh kembang tanaman padi di sawah.

Kalau lagi ngomongin masalah gym sebagai tempat membentuk tubuh ini, saya malah teringat sama orang-orang yang ada di desa saya. Nggak jarang saya lihat, banyak bapak-bapak ataupun orangtua yang badannya mirip sama orang-orang yang dengan sengaja membentuk tubuhnya di tempat-tempat kebugaran, tapi mereka tak pernah mengikuti kelas fitness.

Saya tahu ini, waktu lagi bikin kolam lele. Di sana ada beberapa kuli. Nah, saat lagi rehat dan menikmati hidangan yang dibikin oleh mbah saya, semua kuli termasuk saya yang ikut mbantu, langsung buka baju. Gerah katanya. Disini, saya lihat bentuk perut mereka itu kotak-kotak juga. Otot di lengannya juga terbentuk. Bagian punggungnya juga ada ototnya.

Jujur, waktu itu saya agak malu. Soalnya badan saya banyak lemak yang mulai menunjukkan jati dirinya. Perut saya juga berbentuk, tapi nggak kotak-kotak kayak mereka. Perut saya bulet-bulet. Saya jadi begini gara-gara porsi makan yang nggak sesuai dengan keseharian saya yang banyak malas-malasan. Setelah saya nunjukin badan kurang bagus milik saya, langsung aja di komen, “Wah, perutmu, Le”. Nggak, saya nggak baperan dan bilang body shaming atau apalah itu. Udah biasa dan emang nggak ngefek apa-apa. Saya hanya ngangguk dan ketawa aja.

Emang paling bener, untuk mengembalikan energi yang dipakai buat nguli lewat ketawa. Setelah puas ketawa-ketawa, saya nanya sama bapak-bapak kuli yang lagi di sana, “Nggak perlu kelas fitness biar berotot ya, Pak?” Mereka jawab aja santai, “La iya, Le. Wong tiap hari ngangkat-ngangkat beginian.” sambil ngangkat batu agak gede yang kebetulan lagi di sampingnya.

Selain kuli, ada lagi. Yakni bapak-bapak buruh tani yang kalau ngaso juga sering “alabung” atau buka baju biar nggak tambah gerah. Sama halnya dengan para kuli, badannya juga bagus. Perut macam roti sobek, punggung macam kupu-kupu, dan otot trisep-bisepnya nggak perlu lagi diragukan kekuatannya.

Untuk buruh tani, mereka sudah biasa nunduk-nunduk seharian penuh buat nandur. Kadang juga harus memikul tangki untuk ngobatin hama. Kalau panen juga kadang mereka bawa karung yang beratnya kuranglebih lima puluh kilogram sendirian. Cuma ditaruh di punggungnya, lewatin kayu kecil untuk naik truk, dan menatanya hingga rapi di dalam truk tersebut. Jadi, nggak heran kalau badannya bagus-bagus. Ototnya kayaknya udah menyatu banget dan nggak bakal menggelambir kayak punya saya.

Belum cukup kuli sama buruh tani. Di desa saya juga, ada nelayan. Desa saya jaraknya nggak jauh-jauh amat dengan laut yang biasa jadi tempat para nelayan nyari nafkah. Kalau nggak salah, mereka biasa berangkat sore atau malam hari. Bertarung dengan dinginnya malam. Dan kalau sudah di laut, nggak jarang mereka juga lawanin ombak yang kadang mendadak awur-awuran saat para nelayan lagi di laut.

Saya pernah sekali waktu, ikut satu orang nelayan. Katanya, dia gabut di rumah dan nggak tahu mau ngapain. Berhubung angin lagi nggak banter, akhirnya dia milih untuk menjaring ikan. Saya ikut, beberapa orang juga tertarik dengan ajakannya. Singkat cerita, ketika sampai, saya disuruh bawain jaring yang biasa mereka pakai.

Awalnya saya mengira gampang aja bawanya. Ternyata berat. Beneran berat loh. Apalagi kalau udah masuk air, beratnya jadi dobel-dobel. Makanya jangan heran, kalau lagi liatin nelayan bawa ban pelampung yang dipakai untuk menaruh jaringnya. Jaring itu agak nyusahin emang kalau lagi di air.

Setelah dibawa rada ke tengah laut, baru deh, jaring ditebar. Berhubung nggak naik kapal dan lautnya agak dangkal, nebar jaringnya bukan langsung dilemparin, melainkan ada seorang yang jaga di tempat paling dangkal. Dan ada seseorang yang agak ketengah untuk narik mengulur jaring tersebut. Dalam hal ini, tentu saya yang dipinggir. Dan bapak nelayan sejatinya yang ke tengah.

Mereka nggak pakai pelampung, cuma baju biasa aja. Dan dengan santai, ujung jaring yang satunya mereka bawa pakai satu tangan, dan tangan lainnya lagi untuk membantu kaki mendorong tubuh agar bergerak maju ketika di air. Setelah sampai tengah, si bapak nungguin agak lama, baru dia muterin jaring itu untuk mengambil ikan-ikan yang bernasib nahas dan hidupnya akan berakhir di perut saya dan beberapa nelayan lainnya.

Setelah semua ikan diambil dan dirasa cukup, barulah saya disuruh menarik lagi jaring itu. Dan ya, itu lebih berat daripada sekadar membawanya seperti tadi. Tangan saya jadi agak kemeng. Tapi, kalau dipikir-pikir, kok bisa ya bapak nelayan itu kuat. Bawa jaringnya sendiri, ngambil ikannya sendiri, dan menarik jaringnya sendiri setelah selesai.

Lantaran kegiatan yang berat-berat begini, para nelayan biasanya punya badan lebih tegak dari yang lain. Mungkin gara-gara sering renang melawan ombak kali ya. Makanya badan mereka jadi bagus-bagus. Sama halnya dengan petani dan juga seorang kuli. Sebab kerjaan berat, mereka jadi tak perlu susah-susah pergi ke gym dan ikut kelas fitness untuk menjadikan tubuh mereka terbentuk.

Tubuh mereka terbentuk secara alami tanpa ngikut kelas fitness. Nggak dibuat-buat, nggak pakai steroid-steroid, dan kayaknya sih, dengan cara yang alami begitu, akan lebih menyehatkan. Mungkin selanjutnya, bisa nih jadi referensi untuk tempat-tempat kebugaran. Nanti bikin saja, program membentuk otot serta badan secara alami. Isi programnya ya samain dengan orang-orang di desa saya ini. Suruh nguli, suruh nyangkul di sawah, suruh ngangkatin karung hasil panen, dan suruh ikut njaring ikan. Inovasi loh itu. Lumayan kan bisa jadi added value. Kali aja banyak yang tertarik. Kalau ada, hubungi saya saja. Dalam waktu dekat ini juga, kayaknya saya mau bikin kolam lagi, mau panen, dan juga mau ngikut nelayan lagi. Gimana? Tertarik?

BACA JUGA Stereotip Cowok Fitness Adalah Gay Sesatnya Minta Ampun dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Baca Juga:  Pengalaman Mengajarkan Saya Mengatasi Sea Sickness alias Mabuk Laut
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.