Stereotip Cowok Fitness Adalah Gay Sesatnya Minta Ampun – Terminal Mojok

Stereotip Cowok Fitness Adalah Gay Sesatnya Minta Ampun

Featured

Avatar

Kita tak sadar kapan persisnya orang mulai berbisik-bisik miring terhadap kaum berotot. Kalau dikilas balik, di masa populernya film-film laga yang dibintangi Advent Bangun, Barry Prima, hingga melambungnya pamor atlet binaraga Ade Rai, tuduhan gay kepada orang bertubuh kekar belum ada. Sat itu belum ada stereotip ngawur kalau yang cowok fitness adalah gay. 

Kala itu masyarakat kelas pekerja, buruh-buruh angkut, hingga petani yang pegang cangkul pun seingat saya, senang memamerkan otot bisep sambil menirukan artis idolanya. Memesona betul dulu laki-laki yang memiliki dada bidang, otot padat berisi, perut mengotak, serta urat-urat tangan yang menyembul.

Kini, citra cowok fitness sudah tak sama lagi seperti zaman Barry Prima. Entah sebab apa citra itu berubah. Padahal, kalau merujuk kepada public figure yang rajin nge-gym dan berbadan atletis, rasa-rasanya tak ada yang tercitrakan sebagai gay. Sebut saja Deddy Corbuzier, Iko Uwais, hingga bintang sepakbola Cristiano Ronaldo. Citra mereka tetap aman.

***

Ada momen tak sengaja sewaktu saya melintasi ruangan lobi kantor, sejumlah pegawai sedang menggosip di deretan sofa lobi. Saat itu, saya sedang tergesa-gesa dipanggil menuju ruangan Pak Kepala yang berada di lantai dua. Sempat terdengar obrolan mereka samar-samar.

“Oh, jadi Bang Udin sudah nggak nge-gym lagi?”

“Sudah nggak, sejak tiga minggu lalu. Malas dia katanya. Lagian untuk apa ikut-ikut gym-gym fitness gitu. Nanti disangka maho hahaha….” seseorang menyahut dan ditimpali ledakan tawa dari yang lain.

Lagi-lagi cowok fitnes diidentikkan dengan orientasi seksual, pikir saya. Beberapa waktu lalu ada juga teman mengaku diolok-olok karena berlangganan nge-gym di sebuah tempat kebugaran. Meski olok-olok itu hanya candaan, tapi itu cukup bikin baper sampai ke tempat tidur.

“Padahal kan bro, cowok yang fitness itu hobi aja. Hitung-hitung cari keringat berlebih lah dibanding olahraga lain. Masalah nanti otot terbentuk, itu bonus lah. Tapi, kok terus dibilang cowok berotot itu homo?” curhat dia.

***

Pada 2017, Polres Metro Jakarta Utara pernah menggerebek pesta gay di Kelapa Gading. Sejumlah 141 orang gay ditangkap polisi di sebuah ruko tiga lantai yang digunakan sebagai tempat latihan kebugaran. Kasus ini dulu lumayan lama jadi buah bibir masyarakat. Saat itu isu ‘cowok yang fitness cenderung gay’ semakin kencang.

Pernah saya baca hasil riset pada sebuah artikel, memang mungkin ada relasi antara gay dengan kegiatan-kegiatan nge-gym ini. Maklum, nge-gym pernah tren akhir 90-an hingga awal 2000-an. Masa itu orang-orang kegandrungan betul dengan Ade Rai.

Ditemukan fakta bahwa kenapa laki-laki gay gemar nge-gym, sebab ada sifat atau kecenderungan mereka mengutamakan penampilan atau visual. Kaum ini lebih dominan mengunggulkan bentuk. Dasar pemikiran inilah yang membuka persaingan sehingga saling berlomba-lomba “mengetatkan” bentuk tubuhnya untuk menarik perhatian.

Namun, artikel itu juga membantah desas-desus yang menyebut bahwa setiap cowok yang fitness itu sudah pasti gay. Kalau mau menyebut angka, paling banyak hanya 20 persen pria gay ikut nge-gym. Sehingga persentasenya masih sangat jauh dari tuduhan semula. Sebab, pria gay tidak menjadikan tempat kebugaran sebagai ajang pencarian pasangan.

***

Baik, sebelum ada huru-hara ditimbulkan tulisan ini, perlu saya jelaskan dulu kalau tulisan ini tidak sedang menyudutkan kaum gay. Tiba-tiba nanti ada SJW-SJW yang sedang galau mencari jati diri, mencak-mencak bilang kalau tulisan ini tendensius lah, menyudutkan kelompok tertentu lah. Tidak, sama sekali tidak, Cyiiin.

Saya tak ada kebencian dengan kelompok masyarakat mana pun. Tulisan ini tak lebih sekadar kegelisahan saya atas mudahnya kita melakukan pelabelan tanpa dasar. Cowok fitness ya untuk kebugaran, nggak ada hubungannya ingin sehat dengan orientasi seksual. Masalah ini memang kelihatan sepele saja. Tapi, jika sejenak direnungkan, ada persoalan klasik yang terjadi di sana: stereotip. Gemar betul kita mengendapkan racun yang satu ini di kepala.

Lihatlah, padahal suka tidak suka kita adalah korban sekaligus pelaku stereotip itu sendiri. Siapa pun itu. Tak memandang sejauh mana tingkat pendidikan, setua apa usia, tetap saja stereotip selalu jadi pisau kita untuk menguliti identitas orang atau kelompok.

Akan klise dan basi tentunya kalau masih kita bahas contoh-contoh stereotip orang Sunda matre, orang Jawa nggak bisa tegas, orang Batak kasar, orang Minang, Cina, dan Arab pelit nauzubillah. Itu narasi usang. Tapi, tetap saja masih mendengung panjang di kehidupan sosial kita.

Nggak percaya? Bicarakan soal menikah beda suku dengan keluarga besar. Tanya pamanmu, tantemu, atau bahkan tetanggamu. Maka akan berhamburan narasi-narasi stereotip tadi yang menyamar sebagai petuah-petuah agung.

“Kalau bisa, jangan orang Minang. Nanti kamu blablabla…. “ atau “Usahakanlah jangan sama si Andi itu. Dia kan Bugis, susah loh berurusan sama orang Bugis ini. Kayak kejadian sama si anu….”

Hop! Cukup dua contoh itu saja. 

***

Baik, mari kita kembali ke laptop. Anda boleh saja bilang hal-hal semacam ini tak penting. Tapi, sadarkah Anda kalau desas-desus stereotip ini dibiarkan bergentayangan di masyarakat, akan menjadi bubuk racun yang berbahaya? Lingkungan sosial akan merenggang karena apa-apa kita sikapi dengan bias dan subjektif. Menuduh semua cowok fitness dan berotot adalah gay, bisa jatuh ke fitnah bosque. Dosa besar itu.

Andai suatu masa pelabelan gay ini sudah melekat betul terhadap orang-orang yang nge-gym, kan kasihan nasib para pesepakbola di mana melatih atau membesarkan otot adalah salah satu kunci utama program latihan mereka. Tiba-tiba mereka malas-malasan pas disuruh nge-gym karena takut diledek gay, kan nggak masuk barang itu.

Terakhir yang mungkin paling fatal adalah diskriminasi. Sebagian besar masyarakat kita menganggap kelompok gay adalah kumpulan orang-orang yang harus disingkirkan. Terlebih mengisi posisi-posisi strategis di lingkungan masyarakat, atau di dunia kerja. Anda bisa bayangkan, Anda yang tidak gay, hanya gara-gara mau perut sixpack kayak Cristiano Ronaldo lalu dikucilkan, dan di-bully di kantor, ditambah lagi digunjing warga sekompleks.

Photo by Pixabay via Pexels.com

BACA JUGA Budaya Memanggil Gelar itu Sudah Final, Prof. Ariel Heryanto! dan tulisan Fitra Aidil Akbar Siadari lainnya.

Baca Juga:  Sakit Maag Terdengar Keren Waktu Kecil, tapi Merepotkan Saat Dewasa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
14


Komentar

Comments are closed.