Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Bahaya yang Saya Lihat di Gamping Sleman: Ketika Anak Muda Pesimis dengan Kondisi Ekonomi dan Lari ke Judol Sebagai Pelampiasan

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
1 Juni 2026
A A
Bahaya di Gamping Sleman- Ketika Anak Muda Pesimis Hidup (Unsplash)

Bahaya di Gamping Sleman- Ketika Anak Muda Pesimis Hidup (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Bahaya mengintai Gamping Sleman. Situasi berbahaya itu bernama anak muda yang mulai kecanduan judol dan pinjol. Dan penyebabnya, ternyata lebih berbahaya.

Saya lahir dan besar di Gamping Sleman. Daerah yang berkembang. Baik dari segi pembangunan juga kultur sosial. Perkembangan itu bisa kami lihat dengan mata telanjang. Namun, kami tidak bisa memilikinya.

Belakangan saya sering mendengar percakapan yang menyedihkan untuk ukuran anak muda seusia saya. Bukan lagi soal cita-cita, rencana menikah, atau impian membuka usaha. Yang lebih sering muncul justru obrolan tentang cicilan, pinjaman online, tagihan yang belum lunas, sampai cerita teman yang diam-diam mulai bermain judi online.

Dulu saya mengira fenomena judol dan pinjaman online hanya ramai di media sosial. Sampai kemudian saya menyadari bahwa beberapa orang yang saya kenal ternyata sudah masuk ke dalam lingkaran itu.

Ada teman saya di Gamping Sleman, yang awalnya hanya meminjam beberapa ratus ribu rupiah untuk kebutuhan mendesak. Ada yang tergoda bermain judol karena melihat tangkapan layar kemenangan orang lain di grup WhatsApp. Ada yang berangkat dari rasa penasaran, lalu berakhir menjadi kebiasaan. Tidak semua berakhir hancur. Tetapi hampir semua berakhir dengan penyesalan.

BACA JUGA: Pengalaman Saya 5 Tahun Kecanduan Judol: Delusi, bahkan Setelah Salat pun Doa Minta Jackpot

Alasan judol bisa masuk ke Gamping Sleman

Saya tidak sedang membenarkan judol atau pinjaman online. Dua-duanya jelas menyimpan banyak masalah. Namun, saya merasa kita terlalu sering membahasnya dari sudut pandang moral semata. 

Seolah-olah semua orang yang terjerat judol di Gamping Sleman hanya karena kurang iman, kurang bijak, atau terlalu malas bekerja. Padahal, kenyataannya, sering lebih rumit. 

Baca Juga:

Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak

Salah satu Dampak Buruk Tol Solo Jogja Dirasakan Warga Gamping: Hilangnya Ruang Hidup ketika Warga Lokal Tidak Sanggup Membeli Tanah Kelahiran Sendiri

Saya melihat banyak anak muda di sekitar saya bukan sedang mencari kekayaan instan. Mereka sedang mencari jalan keluar yang terasa mungkin. Dan itu adalah hal yang jauh lebih menyedihkan.

Di Gamping dan banyak wilayah Sleman lain, harga tanah terus bergerak naik. Perumahan baru terus bermunculan. Setiap beberapa bulan sekali, saya menemukan lahan yang dulu kosong berubah menjadi bangunan baru. Sebagai warga lokal, saya tentu senang daerah saya berkembang. 

Namun, di saat yang sama, ada perasaan aneh. Terutama ketika menyadari bahwa semakin banyak pembangunan justru membuat banyak anak muda semakin jauh dari kemungkinan memiliki rumah sendiri. 

Ironisnya, kami lahir, tumbuh, sekolah, dan mencari nafkah di Sleman. Tetapi semakin dewasa, kami mulai sadar bahwa belum tentu kami mampu membeli tempat tinggal di daerah tempat kami dibesarkan. Itulah yang membuat banyak anak muda di Gamping Sleman kecanduan judol atau pinjaman online.

Kecemasan anak muda di Gamping Sleman

Sekarang, percakapan anak muda sudah berubah. Bekerja keras masih penting, tetapi rasanya semakin sulit percaya bahwa kerja keras saja cukup. Ketika harga tanah naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, harapan mulai berubah bentuk menjadi kecemasan.

Kecemasan itu kemudian bertemu dengan dunia digital yang menawarkan jalan pintas. Pinjaman cair dalam hitungan menit. Paylater tersedia dalam beberapa klik. Judol menjanjikan kemenangan besar hanya dengan modal kecil. Semua hadir di layar ponsel yang sama. Semua menawarkan ilusi yang sama: “Mungkin hidupmu bisa sedikit lebih ringan besok pagi.”

Saya rasa, di sinilah letak persoalan yang jarang kita bicarakan. Bukan sekadar soal anak muda Gamping Sleman tergoda judul atau terjebak pinjaman online. Melainkan mengapa tawaran-tawaran semacam itu terasa masuk akal. 

Ketika seseorang merasa masa depannya masih terbuka lebar, dia cenderung berpikir panjang sebelum mengambil risiko. Namun, ketika masa depan mulai terlihat kabur, orang lebih mudah tergoda pada sesuatu yang menawarkan hasil cepat. 

Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Ini adalah kenyataan di Gamping Sleman. Sebab, jika kita hanya sibuk menghakimi tanpa memahami mengapa, kita tidak benar-benar menyelesaikan apapun.

Kehidupan yang berubah celaka

Saya melihat sendiri beberapa teman di Gamping Sleman berubah setelah terjerat judol dan pinjaman online. Ada yang menjadi lebih tertutup, sulit diajak ketemu, banyak yang berusaha biasa saja tapi stres. 

Yang paling menyedihkan, banyak dari mereka sebenarnya bukan pemalas. Teman-teman saya ini para pekerja keras. Namun, yang mereka dapat, tak lagi cukup untuk membuat mereka merasa aman.

Mungkin karena itulah saya selalu merasa ada yang salah ketika orang terus-menerus mengatakan bahwa Jogja atau Sleman masih murah. Hanya murah bagi yang datang membawa modal dari kota besar. Bagi mereka yang sudah memiliki rumah warisan, mungkin iya. Bagi investor yang membeli tanah sebagai aset, jelas iya.

Namun, bagi banyak anak muda lokal yang memulai semuanya dari nol, kehidupan jadi celaka. Kami hidup di daerah yang terus berkembang, tetapi sering tidak ikut menikmati hasil perkembangan tersebut. 

Anak-anak muda di Gamping Sleman hanya bisa menyaksikan harga properti naik, tetapi pendapatan kami tetap tiarap. Warga melihat pembangunan, tetapi tetap bertanya-tanya apakah suatu hari nanti kami bisa memiliki tempat tinggal sendiri.

BACA JUGA: Tentang Sebuah Kampung yang Ketagihan Judi Togel: Sebuah “dosa” yang malah bikin mereka jadi “bahagia”

Judol menawarkan harapan palsu bagi anak muda Gamping Sleman

Dan di tengah kegelisahan itu, judol serta pinjaman online datang menawarkan sesuatu yang sebenarnya palsu, yaitu harapan instan. Itulah sebabnya saya tidak melihat fenomena judol dan pinjol semata-mata sebagai persoalan individu. 

Saya melihatnya sebagai gejala yang lebih besar. Gejala tentang anak-anak muda Gamping Sleman yang mulai kehilangan keyakinan bahwa masa depan kita kejar melalui jalur yang normal. Ketika rumah terasa mustahil, pekerjaan terasa tidak cukup, dan biaya hidup terus bergerak naik, sebagian orang mulai mencari jalan yang tidak masuk akal.

Masalahnya, jalan yang tidak masuk akal itu malah tampak paling masuk akal. Khususnya bagi mereka yang sedang terdesak. Mungkin itulah hal yang paling membuat saya sedih sebagai anak yang lahir dan besar di Gamping Sleman. 

Sekali lagi, tidak sedikit yang memang bodoh dan malas bekerja sehingga mengabdikan diri dalam lingkaran setan bernama judol. Namun, tidak menutup fakta bahwa di ekonomi sekarang bagi banyak anak muda lokal, judol adalah keniscayaan. 

Pada akhirnya, yang lebih berbahaya daripada judol adalah alasan ketika anak muda memandangnya sebagai sesuatu yang masuk akal. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena harapan yang seharusnya mereka miliki, perlahan menjadi barang yang semakin mahal.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Salah satu Dampak Buruk Tol Solo Jogja Dirasakan Warga Gamping: Hilangnya Ruang Hidup ketika Warga Lokal Tidak Sanggup Membeli Tanah Kelahiran Sendiri

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Juni 2026 oleh

Tags: gampinggamping slemanjudijudi onlinejudolKabupaten Slemanpinjaman onlinepinjolSleman
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

4 Dosa yang Tanpa Sadar Dilakukan Warga Sewon terhadap Kabupaten Bantul Mojok.co

4 Dosa yang Tanpa Sadar Dilakukan Warga Sewon terhadap Kabupaten Bantul

15 Desember 2024
pinjaman online

Dua Sisi Pinjaman Online: Antara Pencairan Mudah dan Data Pribadi yang Dikorbankan

28 Juli 2019
Benarkah Mystery Box di Online Shop Adalah Pembodohan Seller terhadap Buyer? terminal mojok.co

Benarkah Mystery Box di Online Shop Adalah Pembodohan Seller terhadap Buyer?

11 September 2021
Joki Pinjol, Makelar Kesengsaraan yang Banyak Dicari Manusia Putus Asa

Joki Pinjol, Makelar Kesengsaraan yang Banyak Dicari Manusia Putus Asa dan Manusia yang Ngebet Terlihat Kaya

26 Januari 2024
Tidak Ada yang Lebih Tabah dari Mahasiswa yang Tinggal di Bantul, Kuliah di Sleman, dan Motoran  Mojok.co

Tidak Ada yang Lebih Tabah dari Mahasiswa yang Tinggal di Bantul, Kuliah di Sleman, dan Motoran 

1 Juni 2024
Jogja Kota Salah Urus dan Sulit Dinikmati Warganya Sendiri (Unsplash)

Jogja Tidak Pantas Lagi Menyandang Kota Wisata dan Kota Pendidikan karena Tidak Bisa Dinikmati oleh Warganya Sendiri

2 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Hal yang Jarang Orang Katakan Soal Berkendara di Semarang, Tantangannya Tak Hanya Banjir Rob dan Banjir Dadakan Mojok

3 Hal yang Jarang Orang Katakan Soal Berkendara di Semarang, Tantangannya Tak Hanya Banjir Rob dan Banjir Dadakan

18 Juni 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar

Jogja Kota Pelajar Bukan Cuma Soal UGM, tapi Soal Standar Pendidikan dari SD yang Sudah Kompetitif

17 Juni 2026
4 Alasan Rumah Madura Punya Teras Depan yang Luas (Wikimedia Commons)

4 Alasan Rumah di Madura Kebanyakan Punya Teras Depan yang Luas

17 Juni 2026
Sisi Gelap Budak Elite di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta (Unsplash)

Sisi Gelap Budak Korporat di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta: Ketika Pekerja Menggadai Kewarasan demi Terlihat Elite

20 Juni 2026
TransJatim Dibenci, tapi Ia Penyelamat Mahasiswa Surabaya (Wikimedia Commons)

Ugal-ugalan Sopir TransJatim Menyelamatkan Masa Depan Mahasiswa Mojokerto yang Kuliah di Surabaya

22 Juni 2026
Derita Punya Usaha Rumahan di Apartemen Kelas Menengah (Unsplash)

Pengalaman Pahit Buka Usaha Rumahan Kios Makanan di Apartemen Kelas Menengah Jaktim, Mulai dari Rekan Bisnis Berkonflik sampai Menu Jualan Selalu Ditiru Pesaing

18 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.