Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sisi Terang Gunungkidul yang Tidak Terlihat karena Stigma Berlebihan dan Menutupi Kenyataan yang Ada

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
20 Mei 2025
A A
Sisi Terang Gunungkidul yang Tidak Terlihat karena Stigma Berlebihan dan Menutupi Kenyataan yang Ada

Sisi Terang Gunungkidul yang Tidak Terlihat karena Stigma Berlebihan dan Menutupi Kenyataan yang Ada (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya lahir, tumbuh besar, dan tinggal di Gunungkidul, sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sering dianggap gersang dan terbelakang. Banyaknya berita di media sosial terkait masalah-masalah sosial yang terjadi seperti menutupi kenyataan baik yang ada.

Kalau mengetik kata “Gunungkidul” di Google, kalian akan menemukan banyak sekali artikel buruk tentang kabupaten ini. Seolah nggak ada kabar baik yang muncul dari sini. Ya, saya rasa kebanyakan media sekarang memang belum berpihak kepada orang-orang yang tinggal di pelosok desa. Hanya melihat permukaan, tanpa mau benar-benar melihat hal-hal hebat yang tersembunyi.

Orang-orang dusun yang punya kebijaksanaan lokal sendiri, sering dituduh kolot dan ndesit. Padahal di balik berita-berita buruk itu, sebenarnya sebagian dari kami hidup bahagia dan tenang-tenang saja. Berikut sisi terang Gunungkidul yang sering tidak terlihat karena stigma berlebihan yang diciptakan media-media mainstream di Indonesia.

Gunungkidul adalah Kota Campursari

Salah satu hal yang bikin saya bangga lahir dan tumbuh besar di Gunungkidul adalah karena daerah ini menjadi saksi lahirnya musik campursari. Ya, tanah yang punya stigma gersang dan sarat akan cerita mistis itu telah melahirkan sosok maestro campursari bernama Manthous.

Pria kelahiran Playen, Gunungkidul, itu menjadi salah seorang pencetus musik gamelan Jawa yang dipadukan alat/instrumen modern. Meski akrab di telinga masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, masih banyak orang yang belum tahu kalau Gunungkidul adalah pusatnya musik campursari. Nggak sedikit sinden/penyanyi hebat yang lahir di Bumi Handayani.

Sampai hari ini, campursari menjadi genre musik yang paling sering diputar di pesta hajatan. Nggak hanya di Gunungkidul, tetapi juga masyarakat Jawa pada umumnya. Bahkan bisa dibilang musik campursari dan acara hajatan menjadi satu-kesatuan yang teramat sulit dipisahkan.

Hal yang bikin bangga lagi, nggak sedikit kawula muda Gunungkidul yang kini bikin grup campursari. Sebuah bukti kalau musik ini semakin hari semakin diganderungi semua kalangan. Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti musik campursari asli Gunungkidul ini akan mendunia. Istimewa!

Orang Gunungkidul nggak kesulitan punya rumah

Banyak orang yang tinggal di kota mengeluh karena kesulitan punya rumah. Harga tanah dan properti yang semakin mahal, bikin kabanyakan kawula muda di Indonesia seperti mimpi bisa membangun rumah. Tapi mohon maaf, situasi semacam ini kurang relate dengan sebagian orang yang hidup, tinggal, dan tumbuh besar di Gunungkidul.

Baca Juga:

Sebagai warga Jogja, pantai Bantul lebih menarik untuk dikunjungi dibanding pantai Gunungkidul

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

Meski kami hidup di pelosok dusun yang jauh dari gemerlap perkotaan, kami nggak terlalu kesulitan punya rumah. Harga tanah di Gunungkidul masih lumayan terjangkau dan bahkan bisa dibilang murah. Ada beberapa wilayah di Bumi Handayani yang harga tanahnya hanya Rp30 ribu per meter. Ini serius.

Selain itu, tradisi sambatan (gotong-royong) bikin rumah juga masih lestari di sejumlah wilayah Gunungkidul. Artinya, anggaran membangun rumah bisa ditekan. Nggak seperti di daerah perkotaan yang sudah pasti pakai para tukang, di sini masih mengandalkan sistem gotong-royong. Biaya yang dibutuhkan membangun rumah tentu jauh lebih murah dibanding daerah lain, terutama wilayah perkotaan.

Jadi, jangan heran kalau berkunjung ke Gunungkidul dan melihat banyak kawula muda yang sudah punya rumah sendiri. Sebab, banyak sekali privilese yang kami dapatkan hidup di pedesaan.

Hidup di sini nggak bakal mati kelaparan

Integrasi sosial di Gunungkidul cukup tinggi. Berbeda dengan orang yang tinggal di wilayah perkotaan yang satu RT pun kadang nggak saling kenal, kami satu dusun bisa sangat akrab. Banyaknya kegiatan kolektif semacam sambatan bikin rumah, rasulan, hinggga gugur gunung memperbaiki fasilitas umum, membuat kami saling mengenal satu sama lain.

Selain itu, di Gunungkidul juga ada tradisi weweh/ater-ater (memberi makan ke tetangga dan sanak saudara) juga masih lestari. Ketika ada tetangga yang sakit atau membutuhkan bantuan, tanpa komando, tetangga sekitar akan membantu dengan senang hati. Pertolongan ini bisa berwujud tenaga, materi, atau bahan pokok makanan.

Ditambah dengan kebiasaan menanam aneka sayur lokal di pekarangan rumah, yang mana warga bisa memetik kapan saja. Saya rasa, ketahanan pangan di Gunungkidul sudah tercukupi. Jadi, hidup dan tinggal di Gunungkidul risiko mati karena kelaparan, amat sangat kecil.

Yah, meski harus diakui banyak masalah sosial yang terjadi di Gunungkidul, seperti tingginya angka bunuh diri dan UMK terendah di DIY, kabupaten ini saya rasa (tetap) layak ditinggali. Terlebih di Bumi Dhaksinarga juga memiliki bukit-bukit karst, gua purba, dan pantai pasir, yang nggak banyak dimiliki daerah lain. Menjadi tanda bahwa Gunungkidul sebenarnya sangat kaya, hanya saja sudah terlanjur berkubang stigma.

Rahayu Bumi Dhaksinarga!

Penulis: Jevi Adhi Nugraha
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 4 Alasan Gunungkidul Nggak Perlu Bangun Mal, Salah Satunya Merugikan Warga Bumi Handayani!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2025 oleh

Tags: Gunungkidul
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

5 Tips Nonton Jathilan biar Nggak Kesurupan

5 Tips Nonton Jathilan biar Nggak Kesurupan

7 Juni 2022
Wayang Beber: Wayang Tertua di Indonesia yang Kian Terpinggirkan

Wayang Beber: Wayang Tertua di Indonesia yang Kian Terpinggirkan

16 Februari 2022
Kabupaten Wonogiri, Kabupaten dengan Jalan yang Amat Menantang dan Sulit Ditaklukkan, tapi Dibayar dengan Pemandangan yang Amat Menawan

Kabupaten Wonogiri, Kabupaten dengan Jalan yang Amat Menantang dan Sulit Ditaklukkan, tapi Dibayar dengan Pemandangan yang Amat Menawan

7 Juni 2025
3 Tempat Wisata Gunungkidul yang Layak Dikunjungi Berkali-kali pantai gunungkidul

3 Tempat Wisata Gunungkidul yang Layak Dikunjungi Berkali-kali

6 Desember 2025
Kawasan Bukit Patuk Gunungkidul: Jalur yang Memanjakan Mata sekaligus Sumber Derita Para Pengendara imogiri alun-alun gunungkidul

Patuk dan Imogiri: Dua Jalur Paling Dilematis Sobat Nglaju Gunungkidul, Pilih Mana Saja, Tetap Kena Masalah!

4 Mei 2025
Seni Membedakan 3 Zona di Gunungkidul biar Nggak Nyinyir Gersang Melulu

Seni Membedakan 3 Zona di Gunungkidul biar Nggak Nyinyir Gersang Melulu

27 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI Mojok.co

Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI 

13 Juli 2026
Kecewa pada teman yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun, saya jadi belajar tidak berekspektasi pada manusia Mojok.co

Kecewa pada teman yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun, saya jadi belajar tidak berekspektasi pada manusia 

16 Juli 2026
Nuduh semua fans Argentina pendukung zionis itu memang tolol (Unsplash)

Cacat logika menuduh fans timnas Argentina sama dengan mendukung zionis

12 Juli 2026
Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri Mojok.co

Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri

18 Juli 2026
Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial Mojok.co

Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial

13 Juli 2026
Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial yang kerap terlewatkan Terminal

Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial, tapi kerap terlewatkan

12 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.