Jika teman-teman diberi umur panjang dan rejeki yang melimpah, saya sarankan sesekali harus main ke pantai Gunungkidul. Keindahannya bikin kalian percaya bahwa dunia ini masih layak untuk diperjuangkan
Sebagai warga pesisir, sebenarnya saya nggak terlalu tertarik untuk melancong ke wisata pantai. Sebab pikir saya, nanti juga bakalan ketemu dengan hiruk pikuk yang sama dengan yang ada di rumah. Air laut yang kotor, bau amis ikan asin yang dijemur, banyak sampah, panas dan yah, gitu-gitu aja. Soalnya di daerah kami, pemandangan demikian adalah hal yang sangat normal saban harinya. Lha kalau seperti itu kan mending cari wisata yang lain saja to?
Namun setidaknya tepat dua minggu yang lalu, saya diajak oleh ehm, pacar saya, untuk main ke pantai di daerah Gunungkidul, Pantai Watu Kodok namanya. Awalnya saya skeptis dan ogah-ogahan, tapi karena yang ngajak adalah the special one, ya mau gimana lagi? Akhirnya saya luluh dan nurutin apa keinginannya. Daripada berakhir perang dunia, ya, kan?!
Nah, esoknya kami berangkat pagi-pagi buta, berharap terhindar dari kemacetan Jogja di musim liburan. Tapi ya harap maklum, Jogja tetaplah Jogja, di pagi hari pun ternyata kendaraan sudah begitu padat. Untung, ramainya kendaraan nggak sampai menimbulkan kemacetan yang mengular. Kemudian sesampainya di kawasan Gunungkidul, saya benar-benar culture shock. Sekurang-kurangnya ada empat hal yang membuat saya termangu.
#1 Akses menuju pantai dihegemoni oleh jalanan yang mulus
Di tempat kelahiran saya, Demak. Segala hal yang berkaitan dengan pantai dan laut, pasti dihegemoni dengan jalanan yang berantakan. Sebab faktanya, di Kota Wali sendiri memang tidak ada jalanan yang bagus, utamanya yang berada di kawasan pesisir yang berlokasi tepat di hadapan Laut Jawa. Mayoritas akses jalannya banyak yang bopeng, rusak bahkan berlumpur dan licin saat musim penghujan.
Tapi, Ges, dosa besar jika kita menyamakan Gunungkidul dengan Demak. Keduanya ternyata berbanding terbalik 180 derajat. Akses pantai di sana benar-benar mulus dan halus. Apalagi kalau kita sudah memasuki Jl. Pantai Selatan Jawa kawasan Baron-Tepus, beuh, berkendara di situ saat pagi hari benar-benar aduhai banget. Wajar apabila saya shock melihat perbedaan yang mencolok ini.
BACA JUGA: 3 Tempat Wisata Gunungkidul yang Layak Dikunjungi Berkali-kali
#2 Pantai di Gunungkidul ternyata sangat bersih
Hal yang paling menyenangkan selajutnya adalah area pantai di sana ternyata sangat bersih. Saya nggak mengatakan nihil sampah ya, sampah tetap ada, namun setidaknya dikelola dengan baik sehingga nggak sampai mengotori air laut. Jadi, umpama dibuat main air pun juga sangat proper, Ges. Ditambah lagi warna air laut yang masih jernih dan biru merona, kondisi tersebut benar-benar membuat betah lama-lama di air.
Situasi ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi pantai atau laut yang berada di sekitaran Keresidenan Semarang, sebut saja semacam daerah Demak, Semarang ataupun Kendal, di mana banyak pantai atau laut yang berkelindan di dalamnya sampah-sampah. Bahkan air lautnya sudah nggak biru lagi, melainkan hijau atau kecoklatan. Beda banget kan?
Baca halaman selanjutnya



















