Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Seni Membedakan 3 Zona di Gunungkidul biar Nggak Nyinyir Gersang Melulu

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
27 April 2025
A A
Seni Membedakan 3 Zona di Gunungkidul biar Nggak Nyinyir Gersang Melulu

Seni Membedakan 3 Zona di Gunungkidul biar Nggak Nyinyir Gersang Melulu (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar nama Gunungkidul?

Kalau yang ada di kepala kalian adalah pulung gantung, gersang, dan suka kekeringan, tentu nggak salah. Hanya saja nggak sepenuhnya benar juga. Sebelum mengenal wilayah Gunungkidul secara utuh, sebaiknya nggak usah nyinyir soal kekeringan dan gersang melulu. Sebab, setiap wilayah di Bumi Handayani memiliki karakter tanah dan curah hujan yang berbeda-beda.

Kita tahu, Gunungkidul adalah kabupaten paling luas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kalau mau diukur, tanah kelahiran saya ini memiliki luas wilayah 1.475,147 kilometer persegi. Bayangkan saja, luasnya sekitar 46,63 persen dari total luas di Yogyakarta. Nyaris separuh Bumi Mataram. Mendekati seperempat negara Maladewa, Bolo!

Dengan luas segitu besarnya, setiap wilayah di Gunungkidul tentu (sangat mungkin) memiliki karakteristik permukaan tanah atau bumi yang berbeda-beda. Untuk membedakan setiap wilayah itu, maka Bumi Handayani dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona Batur Agung (bagian utara) Ledoksari (wilayah tengah), dan Gunung Sewu (sisi selatan).

Pembagian tiga wilayah di Gunungkidul, satu kabupaten tapi beda nasib

Saya coba jelaskan masing-masing zona dengan lirih dan mode pelan, ya. Begini, bagian utara atau biasa disebut pengembangan Batur Agung berada pada ketinggian dua ratus hingga tujuh ratus di atas permukaan laut. Wilayah ini memiliki lahan berbukit-bukit dan sumber air tanah. Zona Batur Agung sendiri meliputi Kapanewon Semin, Nglipar, Ngawen, Gedangsari, Ponjong bagian utara, dan Patuk.

Kalau saya pribadi kebetulan hidup dan bernapas di Kapanewon Semanu bagian utara, yang masuk zona Ledoksari. Kawasan ini memiliki ketinggian 150 hingga 200 meter di atas permukaan laut. Karakter tanah di wilayah ini terbentuk dari pelapukan batu kapur dan batuan sedimen yang biasa disebut mediteran merah. Selain Semanu bagian utara, zona tengah di Gunungkidul ini juga meliputi Kapanewon Wonosari, Playen, Karangmojo, dan Ponjong bagian tengah.

Sementara itu, pengembangan zona selatan atau yang disebut Gunung Sewu memiiki ketinggian 0-300 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini terbentuk dari batuan kapur dengan ciri khas bukit-bukit kerucut. Sederhananya, zona selatan termasuk ke dalam kawasan karst yang memiliki banyak Sungai bawah tanah. Adapun kapanewon di Gunungkidul yang masuk zona selatan, yakni Rongkop, Saptosari, Girusubo, Semanu bagian selatan, Tepus, Panggang, dan Purwosari.

Nggak semua wilayah Gunungkidul itu rawan kekeringan

Dengan kondisi permukaan bumi yang berbeda-beda, tentu akan memengaruhi curah hujan, aliran air, dan pertanian. Artinya, meski masih satu kabupaten, nasib setiap wilayah di Gunungkidul nggak bisa disamaratakan. Yang mana zona utara atau Batur Agung, seperti Pathuk, Ngawen, dan Nglipar bagian utara cenderung cocok ditanami buah-buahan. Terbukti kawasan tersebut menjadi salah satu penghasil buah durian terbesar di DIY.

Baca Juga:

4 Culture Shock yang Saya Rasakan sebagai Orang Demak Saat Pertama Kali Main ke Pantai Gunungkidul

3 Tempat Wisata Gunungkidul yang Layak Dikunjungi Berkali-kali

Sementara itu, zona tengah disebut-sebut sebagai kawasan yang cenderung lebih aman dari bencana kekeringan. Pasalnya, wilayah ini memiliki tipe tanah mediteran merah. Yang mana saat musim kemarau, zona ini masih terdapat air. Artinya, beberapa wilayah seperti tempat tinggal saya, Wonosari, dan Playen, amat sangat jarang kekurangan air bersih. Nggak percaya? Main ke sini tak gebyur banyu!

Apa yang terjadi di zona tengah, tentu cukup berbeda dengan wilayah selatan atau Gunung Sewu. Kawasan ini merupakan sentra pegunungan karst dan memiliki aliran sungai bawah tanah. Selain itu, di sini juga banyak ditemukan pantai pasir putih yang indah dan menakjubkan. Kondisi ini tentu nggak dimiliki zona tengah seperti Kota Wonosari.

Sayangnya, di zona selatan ini cukup rentan kekeringan. Beberapa kapanewon seperti Tepus, Rongkop, Panggang, Girisubo, Saptosari, dan Tanjungsari setiap musim kemarau datang, berpotensi besar kesulitan air bersih.

Stigma yang harus dihapuskan

Kesimpulannya adalah bahwa nggak semua wilayah di Gunungkidul itu rentan kekeringan. Kalau masih ada yang suka gebyah uyah atau menganggap kondisi di setiap kapanewon itu sama, berati belum memahami pembagian zona ini.

Jadi, buat yang suka nyinyir kalau Gunungkidul itu gersang lah, kekeringan lah, tanahnya nggak subur lah, mulai sekarang hentikan. Itu nggak relevan dan semakin nggak masuk akal. Sebab, setiap zona memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.

“Tapi, kenapa ya setiap mendengar nama Gunungkidul yang ada di kepala itu gersang dan kekeringan?”

Untuk menutup sekaligus menjawab pertanyaan tersebut, saya akan mengutip fragmen novel berjudul Angin Kering Gunungkidul halaman 26 yang ditulis Agnes Yani Sardjono, seperti berikut:

“Itulah bentuk kejahatan dari yang namanya stigma masyarakat. Kalau masyarakat sudah terlanjur memberi cap atau stempel, sulit menghilangkannya. Mata mereka baru terbuka setelah ada bukti-bukti sejarah. Dan sekaranglah saatnya kabut sejarah yang berabad-abad mengungkung Bumi Gunungkidul dikuak. Dan Gunungkidul ternyata lebih hebat dibanding Yogya, hahaha…”

Penulis: Jevi Adhi Nugraha
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 3 Pantai di Gunungkidul yang Baiknya Dihindari Wisatawan karena Bikin Ketakutan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 April 2025 oleh

Tags: Gunungkidulkekeringan
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

Jogja (Sudah Tidak) Istimewa, Gunungkidul (Tetap) Merana. (Unsplash.com)

Jogja (Sudah Tidak) Istimewa, Gunungkidul (Tetap) Merana

24 Juli 2022
Selamatan Orang Meninggal di Gunungkidul: Tradisi Baik yang Berubah Jadi Ajang Adu Gengsi

Selamatan Orang Meninggal di Gunungkidul: Tradisi Baik yang Berubah Jadi Ajang Adu Gengsi

1 Mei 2024
3 Alasan Orang Kota Jogja Lebih Suka Piknik ke Gunungkidul dibandingkan Kulon Progo

3 Alasan Orang Kota Jogja Lebih Suka Piknik ke Gunungkidul dibandingkan Kulon Progo

23 November 2024
Terminal Dhaksinarga Wonosari Gunungkidul: Terminal Rasa Mal dan Restoran

Terminal Dhaksinarga Wonosari Gunungkidul: Terminal Rasa “Mal” dan Restoran

7 Mei 2023
5 Wisata Religi di Gunungkidul yang Sebaiknya Dikunjungi

5 Wisata Religi di Gunungkidul yang Sebaiknya Dikunjungi

24 Maret 2022
Jenang Dawet, Kuliner Tradisional Khas Gunungkidul yang Nggak Setenar Nasi Tiwul Terminal Mojok

Jenang Dawet, Kuliner Tradisional Khas Gunungkidul yang Nggak Setenar Nasi Tiwul

17 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

Bantul Itu Maju ya, Gaes, Bukan Desa Tertinggal dan Tak Tersentuh Peradaban seperti yang Ada di Pikiran Kalian!

17 April 2026
Bukannya Menghilangkan Penah, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

Bukannya Menghilangkan Penat, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

18 April 2026
Stop Geber-Geber Mesin di Pagi Hari! Itu Hal Konyol dan Malah Bikin Mesin Rusak, Ini Cara Memanaskan Motor yang Benar

Stop Geber-geber Mesin di Pagi Hari! Itu Hal Konyol dan Malah Bikin Mesin Rusak, Ini Cara Memanaskan Motor yang Benar

18 April 2026

Di Balik Cap Manja, Anak Bungsu Sebenarnya Dilema antara Kejar Cita-cita atau Jaga Ortu karena Kakak-kakak Sudah Berumah Tangga 

17 April 2026
Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita Mojok.co

Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita

16 April 2026
4 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan ke Mahasiswa Universitas Terbuka mahasiswa UT kuliah di UT

Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja

20 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.