Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Setiap Orang Punya Nama, Kenapa Masih Memanggil dengan Profesi?

Yafi' Alfita oleh Yafi' Alfita
17 November 2020
A A
Setiap Orang Punya Nama, Kenapa Masih Memanggil dengan Profesi? terminal mojok.co

Setiap Orang Punya Nama, Kenapa Masih Memanggil dengan Profesi? terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang beruntung pernah merasakan nikmatnya menjadi santri di sebuah pondok pesantren. Setengah dari umur saya telah saya habiskan di lingkungan pesantren. Di pesantren pulalah saya mendapatkan pelajaran berharga untuk tidak memanggil dengan profesi yang dimiliki seseorang.

Sebenarnya lamanya waktu belajar seseorang tidak dapat menjamin apa pun. Begitu juga dengan saya. Jika ditanya ilmu apa yang saya dapat setelah 10 tahun mondok, saya tidak bisa menjawab. Akhlak pun masih jauh dari bagaimana seharusnya akhlak seorang santri. Tapi, tentu ada beberapa momen yang tak bisa saya lupakan yang sering saya jadikan modal hidup sehari-hari. Dawuh-dawuh dari Bu Nyai salah satunya.

Hidup di pesantren yang lokasinya berdekatan langsung dengan warga mengajari saya banyak hal. Hubungan antara santri dan masyarakat di pondok saya dulu seakan tak dapat dipisahkan. Banyak warga yang ikut mengabdi untuk pondok. Entah ikut membantu masak-masak untuk pondok, mengangkut sampah dari kompleks ke kompleks, juga membantu ketika ada renovasi yang dibutuhkan.

Terkait dengan hal itu, ada satu kejadian yang membekas di benak saya hingga saat ini. Suatu hari Bu Nyai melewati musala yang penuh dengan santri, tidak sengaja beliau mendengar celetukan santri yang mengatakan, “Sudah diambil pak sampah tadi.” Santri itu hendaknya ingin mengatakan kepada temannya bahwa sampah di kompleks sudah diangkut oleh bapak-bapak yang bertugas mengangkut sampah. Hal ini sepertinya terlihat biasa, tapi saya mendapat pelajaran berharga dari dawuh Bu Nyai di keesokan hari.

Esoknya, sesaat sebelum ngaji, Bu Nyai ngendika tentang pengalamannya kemarin mendengar ada yang membahasakan sosok yang sangat dekat dengan pondok dengan sebutan “Pak Sampah”. Ibu mengaku sangat sedih saat itu dan memutuskan hari ini untuk “ngaji kuping” saja. Ngaji kuping yang dimaksud adalah mendengarkan pangandikan beliau.

Sebagai santri, tentu saya sangat senang mendengarnya. Saya yang seharusnya menyetorkan hafalan yang masih gratal-gratul ini dialihkan untuk mendengarkan ceramah kehidupan dari Bu Nyai. Selain senang tidak jadi setoran, saya juga sangat tertarik pada setiap hal yang dibicarakan oleh Bu Nyai. Isu-isu yang sering kali tidak saya sadari kehadirannya bisa jadi merupakan aspek yang penting di hidup.

Kala itu Bu Nyai berbicara mengenai memanusiakan manusia. Saya kira saya sudah mengetahui banyak tentang hal ini. Ternyata lagi-lagi itu hanya perkiraan saya.

Ibu memarahi kami, santri-santrinya yang sering membahasakan bapak atau ibu yang ada di pondok dengan sebutan: Pak Tukang, Pak Sampah, Bu Dapur, dan lain-lain. “Nek ra ngerti asmane ki mbok takon.” begitu kata ibu. (Kalau nggak tahu namanya, tanyakan.)

Baca Juga:

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa

Apalagi panggilan seperti hal-hal di atas dianggap melampaui apa yang biasa kita anggap sebagai profesi menurut ibu. Mereka punya pilihan lain yang jauh lebih mudah dan ringan selain mengabdi di pondok. Ibu juga bercerita bahwa bapak-bapak yang sering mengangkut sampah dari kompleks ke kompleks itu mempunyai tanah yang harganya mencapai miliaran. Maka jelas bahwa mengabdi di pondok bagi mereka adalah pilihan. Memanggil dengan profesi seperti “Pak Sampah” itu kurang tepat. Selain karena beliau punya nama, yang beliau lakukan di pondok adalah membantu, bukan sebuah bentuk pengabdian terhadap profesinya.

Saya jadi berkaca pada diri saya sendiri, sudahkah saya memanusiakan manusia? Bahkan kalau dipikir-pikir tidak ada yang istimewa dari memanusiakan manusia. Lha wong kita ini sesama manusia, masa nggak memanusiakan manusia itu gimana ceritanya. Memuliakan manusialah hal yang seharusnya menjadi kewajiban setiap kita.

Maka, memanggil dengan profesi yang sepertinya lumrah dan biasa saja ini, tampaknya telah menghilangkan penghormatan kita kepada beliau-beliau yang sering kita panggil berkaitan dengan profesinya. Seperti, Pak Paket, Mas Gojek, Mas Galon, dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana dengan panggilan Pak Rektor, Pak Dosen, Bu Dokter, Pak Polisi? Ayolah, meski dengan selemah-lemahnya iman, kita pasti bisa membedakan mana panggilan yang berpotensi menyakiti hati seseorang atau tidak. Lagi pula, fungsi dari sebuah nama itu ya apalagi kalau bukan untuk panggilan? Masa iya kamu mau dipanggil jadi Mas Pengangguran?

BACA JUGA 4 Rekomendasi Tempat Pacaran di Jogja dari Jomblo yang Berharap ke Sana dan tulisan Yafi’ Alfita lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 November 2020 oleh

Tags: Kehidupan SosialPesantren
Yafi' Alfita

Yafi' Alfita

Generasi muda Indonesia yang suka install-uninstall Tinder, nggak tahu karena apa.

ArtikelTerkait

4 Hal Jadi Mahasiswa UIN Malang Itu Nggak Menyenangkan terminal mojok.co

4 Hal yang Nggak Menyenangkan Jadi Mahasiswa UIN Malang

10 Januari 2022
Nggak Usah Tersinggung kalau Pesantren Diasumsikan sebagai Bengkel Moral Kenangan Ramadan di Pesantren: Wadah Takjil Unik yang Sering Digunakan Santri Daftar Produk Obat Gatal yang Populer di Kalangan Anak Pesantren

Kenangan Ramadan di Pesantren: Wadah Takjil Unik yang Sering Digunakan Santri

15 Mei 2020
Asyiknya Ramadan dengan Ngaji Pasaran

Asyiknya Ramadan dengan Ngaji Pasaran

26 April 2020
Tidak Turunnya UKT Adalah Misi Membuat Kampus Kaya, Mahasiswa Sengsara terminal mojok.co

Mengapa Ngaji Online Kiai Sepi, padahal Jumlah Santri Tidak Sedikit?

1 Mei 2020
Mempertanyakan Mengapa Santri Dilarang Punya Rambut Gondrong terminal mojok.co

Sebagai Orang yang Pernah Mondok, Saya Tidak Ingin Disebut Santri

22 Oktober 2020
Feodalisme Pondok Pesantren Mirip Kontroversi di Liga Inggris (Unsplash)

Persamaan Kontroversi Feodalisme Pondok Pesantren dan Liverpool yang Dibantu Wasit ketika Menjadi Juara Liga Inggris

18 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Masalah Utama Tulungagung Bukan Wisata, tapi Tradisi Korupsi di Kursi Bupati

19 Mei 2026
Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

19 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Beli Lauk di Luar dan Memasak Nasi Sendiri, Siasat Hidup Hemat In This Economy Mojok.co

Siasat Hidup Hemat In This Economy, Beli Lauk di Luar dan Memasak Nasi Sendiri

21 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.