Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Lomba kebersihan kampung di Jogja hanya berefek sesaat, saat lomba mendadak bersih, selesai lomba kembali ke setelan pabrik

Rizqian Syah Ultsani oleh Rizqian Syah Ultsani
13 Juli 2026
A A
Lomba Kebersihan Kampung di Jogja Hanya Berefek Sesaat, Saat Lomba Mendadak Bersih, Selesai Lomba Kembali ke Setelan Pabrik

Lomba Kebersihan Kampung di Jogja Hanya Berefek Sesaat, Saat Lomba Mendadak Bersih, Selesai Lomba Kembali ke Setelan Pabrik (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Lomba kebersihan kampung Jogja itu niatnya baik, tapi sayangnya, niat baik tersebut hanya berefek sesaat

Lingkungan tempat tinggal yang bersih, aman, dan nyaman merupakan idaman seluruh umat manusia. Untuk menciptakan hal tersebut, pemerintah dari berbagai tingkatan melakukan berbagai program untuk mendorong budaya hidup bersih terutama di lingkungan pemukiman penduduk.

ADVERTISEMENT

Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah yaitu mengadakan lomba kebersihan antarkampung sebagai sarana untuk mengkondisikan area pemukiman agar selalu dalam keadaan bersih dan nyaman. Seperti contohnya di Kota Jogja, secara berkala Pemkot Jogja lewat dinas terkait mengadakan lomba kebersihan antar kampung.

Lombanya berfokus pada pengelolaan sampah, inovasi ramah lingkungan, serta keasrian lingkungan. Hasilnya, terciptalah lingkungan perkampungan yang bersih, tertata, dan tidak kumuh seperti Kota Jogja yang kita lihat sekarang.

Tapi di balik itu, pada beberapa wilayah di Kota Jogja, lomba kebersihan kampung tidak lain hanya jadi program sesaat yang tak diikuti oleh kesadaran masyarakatnya sehingga keberlanjutan kebersihan kampungnya dipertanyakan. Lomba kebersihan yang harusnya jadi ajang pembiasaan untuk hidup resik, malah kehilangan esensinya.

Sesaat, lalu kembali setelan pabrik

Sebagai contoh, saya tinggal di salah satu kampung di Kota Yogyakarta yang pernah mengikuti lomba kebersihan kampung bahkan pernah menjuarai lomba kebersihan kampung di tingkat Kota Yogyakarta beberapa tahun lalu. Tapi yang saya rasakan, lingkungan kampung yang bersih dan tertata itu cuma saat ada lomba tersebut saja, setelahnya kembali kotor dan tidak tertata.

Ketika lomba kebersihan kampung tersebut diadakan, pengurus kampung akan menyuruh warganya untuk kerja bakti membersihkan seluruh lingkungan kampung. Berbagai inovasi yang sebelumnya tak pernah dilakukan, kini digalakkan. Area-area yang sebelumnya tampak kumuh dipoles agar kelihatan sedap dipandang.

Warga tiba-tiba jadi rajin memilah sampah. Bahkan, di depan setiap rumahnya terpasang ember untuk membuat kompos. Bank sampah yang sekian lama mati suri, kini juga dihidupkan kembali. Anak-anak yang sebelumnya suka membuang sampah sembarang, dipaksa untuk membuang sampah pada tempatnya. Pemuda juga dilibatkan untuk membuat lubang biopori

Baca Juga:

Menikmati hari Minggu di Sewon: Alternatif wisata underrated Jogja

Sulitnya menjelaskan arah mata angin di Jakarta dari perspektif orang Jogja

Selain itu, tanaman hias yang berwarna-warni mulai ditata di jalanan kampung yang sempit-sempit itu. Pekarangan rumah yang nggak seberapa luasnya itu juga mulai ditanami tanaman sayuran mulai tomat sampai terong. Pokoknya, segala inovasi kebersihan lingkungan kini dilakukan.

Di titik inilah, kampung menjadi tempat yang bersih dan nyaman untuk ditinggali. Semua warga jadi punya kesadaran untuk berlaku bersih. Mengotori sedikit saja sama dengan dosa besar yang seakan harus ditebus dengan surat pengakuan dosa.

Tapi program kebersihan dan inovasi yang semestinya bermanfaat ini, ternyata tujuannya bukan semata-mata hanya agar kampungnya bersih dan warganya nyaman tapi agar mendapat penilaian yang baik dari juri lomba. Kesadaran akan kebersihan itu tumbuh hanya karena ada lomba. Sekali lagi, hanya untuk lomba.

Lomba kebersihan kampung hanya wajah

Keadaan kampung yang asri berubah saat lomba atau penilaiannya selesai. Lingkungan kampung kembali ke setelan pabriknya. Nggak ada lagi kerja bakti yang rutin dilakukan. Sesederhana menyapu area rumahnya masing-masing saja jarang dilakukan.

Boro-boro memilah sampah, warga jadi lebih suka membakar sampah apalagi Jogja selalu dipusingkan masalah pembuangan sampah. Program membuat kompos pun mandek dan lubang biopori malah terisi sampah plastik. Tanaman hias dan sayuran dibiarkan nggak terurus. Tempat-tempat makin kumuh dan malah jadi tempat peternakan nyamuk.

Mungkin hanya tinggal sedikit rumah tangga yang masih istiqomah memiliki kesadaran untuk berlaku bersih, memilah sampah, dan membuat kompos. Bahkan pengurus kampung yang saat lomba kebersihan dimulai paling sat-set mengajak warga, juga kehilangan semangat.

Tulisan ini bukan mau menyudutkan satu atau dua pihak, tapi jadi bahan introspeksi bersama agar menciptakan lingkungan pemukiman yang bersih dan nyaman di Kota Jogja. Kalau lingkungannya bersih, siapa yang paling diuntungkan? Tentu saja warganya juga kan.

Saya mengapresiasi Pemkot Jogja yang masih secara rutin menyelenggarakan lomba kebersihan kampung ini. Semoga ke depannya lomba kebersihan betulan jadi ajang pembiasaan hidup bersih bukan malah hanya jadi program sesaat. Semoga kesadaran masyarakat untuk hidup bersih juga tumbuh tanpa menunggu ada lomba kebersihan kampung.

Penulis: Rizqian Syah Ultsani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Lain Perkampungan di Kota Jogja yang Nggak Banyak Diketahui: Kotor, Sanitasi Buruk, serta Banyaknya Anak Putus Sekolah di Kota Pelajar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2026 oleh

Tags: JogjaKota Jogjalomba kebersihan kampungpemkot jogja
Rizqian Syah Ultsani

Rizqian Syah Ultsani

Lulusan Sosiologi UGM yang tinggal di Jogja. Suka mengulas tentang Jogja dan segala isinya. Memiliki hobi lari.

ArtikelTerkait

Tour Guide Taman Sari Jogja, Profesi Paling Mulia karena Keikhlasannya

Tour Guide Taman Sari Jogja, Profesi Paling Mulia karena Keikhlasannya

31 Agustus 2024
Harus Punya Tabungan Rp20 Juta di Usia 25 Tahun, Fresh Graduate UMR Jogja Cuma Bisa Nangis Mendengarnya Mojok.co

Harus Punya Tabungan Rp20 Juta di Usia 25 Tahun, Fresh Graduate UMR Jogja Cuma Bisa Nangis Mendengarnya

21 Mei 2024
4 Cara Mudah Mengenali Angkringan Enak, Jangan Sampai Terjebak! Mojok.co angkringan jogja, angkringan stadion mojosari

Angkringan Stadion Mojosari Mojokerto Gagal Total Meniru Angkringan Jogja, Makanannya Monoton!

15 Agustus 2024
cara mengetahui arah mata angin di jogja mojok.co

6 Cara Mengetahui Arah Mata Angin di Jogja bagi Orang Buta Arah

3 Juli 2020
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Dear Wisatawan, Pakai Bahasa Jawa di Jogja Tak Lantas Bikin Harga Barang yang Kamu Beli Jadi Lebih Murah

13 April 2026
Derita Warga Kota Jogja Kena Gusur dan Terpaksa Pindah Bantul (Unsplash)

Penderitaan Warga Jeron Beteng Jogja yang Rumahnya Digusur dan Terpaksa Pindah ke Bantul. Ongkos Semakin Mahal dan Fasilitas Kesehatan Terasa Kurang

12 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

3 Kesalahpahaman Orang Jakarta Saat Melihat Demak: Dikira Membosankan dan Hampir Tenggelam

8 Juli 2026
Karangmalang UNY tidak ramah pejalan kaki, jalan kaki di sana serasa uji nyali Mojok.co

Karangmalang UNY tidak ramah pejalan kaki, jalan kaki di sana serasa uji nyali

7 Juli 2026
Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, "Hello" Jauh Lebih Penting daripada "Open Your Book"

Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, “Hello” Jauh Lebih Penting daripada “Open Your Book”

7 Juli 2026
Potensi Pantai Cibugel Indramayu jadi sia-sia karena nggak diurus secara serius Mojok.co

Potensi Pantai Cibugel Indramayu jadi sia-sia karena nggak diurus secara serius

11 Juli 2026
Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

11 Juli 2026
Di Madura, Biaya Oleh-oleh Haji Hampir Sama Besarnya dengan Biaya Keberangkatannya, Bikin Orang Jadi Enggan Berangkat  

Banyak Orang Madura Mampu Berangkat Haji tapi Nggak Berani karena Harus Beli Oleh-oleh buat Tetangga, Bisa Habis Puluhan Juta!

10 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.