Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Keliatan Masuk Akal

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
12 Juli 2026
A A
Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Keliatan Masuk Akal

Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Keliatan Masuk Akal (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya masih ingat motor Beat saya yang rilisan tahun 2015 adalah motor yang dibeli dengan cara kredit. Waktu itu DP-nya adalah 1 juta dengan angsuran per bulan Rp500 ribu selama 35 bulan (3 tahunan). Jadi total saya membayar sekitar Rp18,5 juta. Saat itu, harga untuk cash-nya adalah sekitar Rp13 jutaan – Rp14 jutaan tergantung tipenya. Jadi kalau ditambahkan dengan DP di awal, maka ada selisih sekitar Rp4 jutaan – 5 jutaan antara harga cash dengan harga kredit motor.

Waktu itu, saya sudah menyadari sesuatu yang aneh dari skema kredit motor ini. Bagaimana bisa seseorang yang sebenarnya tidak cukup mampu membayar Rp14 jutaan untuk sebuah motor, tapi diberikan kesempatan membeli motor dengan harga yang jauh lebih mahal. Terlebih angka di atas belum dihitung dengan biaya administrasi, asuransi, dan biaya tambahan lainnya. Maka jauh lebih mahal. Paradoks bukan?

ADVERTISEMENT

Kita tentu sudah familiar bahwa dealer motor selalu punya pola dalam kreditnya, yaitu makin sedikit uang mukanya, maka makin lama tenornya dan makin banyak cicilan yang dibayarkan jika diakumulasikan hingga tenor berakhir. Kelihatannya ringan karena uang yang dikeluarkan hanya ratusan ribu per ber bulan.

“Ahh 500 ribu kan hanya sekian persen dari total gaji 2 juta saya.”

Tapi sebenarnya, kalau melihat kondisi itu, kita harusnya tahu, kredit motor ini menyiksa kita diam-diam karena mengalihkan perhatian kita dari yang harusnya tahu soal total pengeluaran yang dibayarkan selama tenor, jadi ke soal kemampuan bayar kita untuk setiap bulan.

Kena gocek dealer

Kita sering terkecoh karena dealer-dealer itu lebih suka ngasih penawaran dengan embel-embel “DP cuma 1 juta, cicilan hanya 500 ribu per bulan, atau cukup membawa KTP dan KK.” Akhirnya ya fokusnya soal itu.

Kita diam-diam terjebak dalam situasi yang namanya “price salience”, yaitu dealer membuat cicilannya kelihatan ringan, tapi menyembunyikan total bebannya dari perhatian kita sebagai konsumen.

Tapi bayangkan bagaimana tagihan Rp500 ribu itu tetap datang menggerogoti keuangan kita tidak peduli sedang sakit, kena PHK, dagangan sepi, atau kondisi keuangan yang sedang mencekik. Pokoknya Rp500 ribu harus tetap keluar dari rekening kita setiap bulannya.

Baca Juga:

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

Ada satu paradoks lagi yang membuat mengapa kredit motor jadi jauh lebih menyiksa, yaitu statusnya yang bagi mayoritas orang difungsikan alat produktif. Status tersebut berarti motor dibeli bukan sekadar untuk keinginan tapi sebagai sarana untuk menghasilkan pendapatan. Ia digunakan untuk pergi ke kantor, pabrik, mengantar dagangan atau orderan, alat bantu kurir, dan lain-lain.

Ironisnya, ketika ada keterlambatan dan ketidaksanggupan dalam membayar, maka motor berpotensi ditarik. Akibatnya bisa merembet tidak hanya seseorang kehilangan motornya, tapi juga kehilangan alat untuk menghasilkan pendapatan, bukan? Pendapatan yang dia butuhkan untuk membayar cicilan.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Inilah yang saya anggap sebagai sebuah siksaan. Sebab seseorang memerlukan motor untuk memperoleh penghasilan. Kemudian penghasilan itu dia gunakan untuk membayar cicilan. Namun, ketika penghasilannya tersendat, motor yang menjadi alat meraih pendapatan justru terancam diambil.

Depresiasi yang gila-gilaan

Selain itu, kredit motor jadi jauh lebih menyiksa karena nilai barangnya yang cepat turun dengan drastis. Sehari keluar dari dealer, maka motor tersebut sudah berlabel bekas. Dan harganya akan langsung terjun bebas ratusan hingga jutaan. Depresiasi harga motor memang gila.

Apalagi setelah sudah digunakan satu atau dua tahun, atau bahkan lecet, maka jangan berharap mendapat harga jual yang sepadan dengan harga belinya. Apalagi kalau belinya skema kredit.

Jadi kita mengangsur barang dengan nominal yang sama selama 3 tahun, tapi nominalnya turun drastis setiap hari, minggu, dan tahun. Ilustrasinya begini, misal seseorang membeli motor kredit dengan total angsurannya 31 juta.

Sementara harga cash-nya sekitar 23 jutaan. Artinya dari segi harga saat ini saja dia sudah rugi 8 juta. Setahun kemudian, harga bekas motor tersebut di pasaran menyusut jadi hanya 20 juta. Maka secara tak langsung, dia merugi 11 juta.

Bayangin, dia mengangsur dengan nominal yang tetap sementara setiap waktunya, harga motornya itu menyusut. Jadi motornya makin tua, tapi utangnya terasa muda. Motor, dalam penggunaannya juga menuntut biaya operasional harian dan pajak.

Kredit motor memang merugi, oper kredit pun pikir dua kali

Situasi ini tentu berbeda dengan kredit rumah misalnya. Cicilan rumah memang jauh lebih besar dan tenornya jauh lebih panjang. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah, rumah punya nilai ekonomi dan bisa jadi lebih tinggi harga jualnya. Sebaliknya, motor justru terus kehilangan nilai selama masa kredit terus berlangsung.

Mau lakukan oper kredit pun, orang akan mikir dua kali karena lebih baik beli motor bekas yang jauh lebih murah.

Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa kredit motor adalah bentuk penyiksaan nyata yang rasa sakitnya bukan datang dari bunga kreditnya. Rasa sakitnya datang dari status kreditnya yang dibebankan pada barang yang nilainya terus turun, tapi fungsinya sangat vital bagi kehidupan ekonomi banyak orang.

Jadinya, orang yang berpenghasilan rendah membutuhkan motor agar bisa bekerja, tetapi karena penghasilannya rendah, ia mau tidak mau hanya bisa memperoleh motor melalui skema yang membuat harga motor tersebut jauh lebih mahal.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kredit Motor Itu Nggak Dosa, kok Dinyinyirin sih?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2026 oleh

Tags: depresiasi hargaDP kredit motorkredit motorkredit rumahtenor kredit motor
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Ketika Ibu Rumah Tangga Membeli Rumah dari Sampah (Unsplash)

Ketika Ibu Rumah Tangga Bisa Membeli Rumah dari Mengumpulkan Sampah

19 Oktober 2025
Yang Perlu Dipahami sebelum Mengajukan KPR Subsidi (dan Menyesal) Cicilan KPR 40 tahun kpr rumah

Alasan KPR Rumah Bisa Jadi Pilihan yang Realistis dan Tak Seburuk Omongan Influencer Keuangan

11 Februari 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Sisi Gelap Kredit Motor yang Nggak Banyak Disadari Pembeli Mojok.co

Alasan Saya Menolak Kredit Motor: Skema yang Merugikan Pembeli, tapi Nggak Banyak yang Menyadari

15 Juni 2024
Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026
Ditolak Kredit Motor 3 Kali Bikin Saya Bersyukur dan Tidak Lagi Malu Mengendarai Motor Bebek Jadul

Ditolak Kredit Motor 3 Kali Bikin Saya Bersyukur dan Tidak Lagi Malu Mengendarai Motor Bebek Jadul

26 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

8 Juli 2026
Universitas Terbuka, Kampus Negeri yang UKT-nya Tidak Kenal Sistem Golongan, Banyak Beasiswa Pula! Mojok.co

Universitas Terbuka, kampus negeri yang UKT-nya tidak kenal sistem golongan, banyak beasiswa pula!

9 Juli 2026
Pengalaman saya sebagai lulusan jurusan Hukum Islam yang memilih jadi petani kopi di desa, ilmunya nggak sia-sia Mojok.co

Pengalaman saya sebagai lulusan jurusan Hukum Islam yang memilih jadi petani kopi di desa, ilmunya nggak sia-sia

12 Juli 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

10 Juli 2026
Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

11 Juli 2026
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

3 Kesalahpahaman Orang Jakarta Saat Melihat Demak: Dikira Membosankan dan Hampir Tenggelam

8 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.