Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Menguak Kebenaran Sosok Sabda Palon dan Naya Genggong

Aly Reza oleh Aly Reza
29 September 2020
A A
sabda palon naya genggong jayabaya ramalan sosok mojok

sabda palon naya genggong jayabaya ramalan sosok mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Selain Prabu Jayabaya dengan Serat Jangka Jayabaya-nya, masyarakat kita juga mengenal nama lain yang turut memberi ramalan tentang hari depan tanah Jawa, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong. Dua sosok misterius yang sering kali disangkut-pautkan dengan fenomena letusan Merapi ataupun gunung-gunung lain di Indonesia. Fenomena alam yang dalam frasa masyarakat Jawa dikenal dengan, “Sabda Palon nagih janji.”

Tapi, secara proporsional—sejauh yang saya amati—nama Sabda Palon dan Naya Genggong dari dulu jauh lebih santer diperbincangkan ketimbang Prabu Jayabaya. Kok bisa begitu? Alasannya jelas, Prabu Jayabaya adalah raja Kediri yang riwayat hidupnya bisa ditelusuri secara pasti. Banyak rekam jejak atau napak tilas yang mengonfirmasi keberadaan beliau.

Tapi, kalau Sabda Palon dan Naya Genggong, keduanya bener-bener masih abu-abu dan misterius, Kebenaran tentang ada atau nggaknya pun masih simpang siur. Sebagian orang bahkan menganggapnya hanya sebagai mitos belaka, nggak bener-bener ada. Ada juga yang menyebut bahwa keduanya adalah sosok gaib sebagai pamomong bumi Jawa.

Sementara yang meyakini kebenaran adanya dua sosok tersebut, asumsinya nggak jauh-jauh dari sumber-sumber yang menyebut bahwa dua sosok ini merupakan punakawan atau penasehat spiritual dari Prabu Kerthabhumi (Brawijaya V), penguasa terakhir Majapahit.

Salah satu sumber yang mengonfirmasi kebenarannya adalah Serat Sabda Palon yang memuat perbincangan terakhir antara kedua sosok tersebut dengan sang prabu mengenai masa depan bumi Jawa, untuk kemudian pergi meninggalkan tanah Jawa. Ada juga yang bilang keduanya menuju Jawa bagian selatan (antara moksa di Gunung Merapi atau Gunung Tidar).

Seperti yang termuat dalam Serat Sabda Palon pupuh pat dan nem tentang menuju ke selatan Jawa, dan pupuh 16 (terakhir) tentang moksanya berbunyi, “Sabda Palon nula mukswa/Sakedhap boten kaeksi/Wangsul ing jaman limunan (Kemudian Sabda Palon menghilang/Sekejap mata sudah tak terlihat/Kembali ke alam misteri).”

Peristiwa tersebut dalam candra sengkala (hitungan kalender Jawa) dikenal dengan sebutan sirna ilang kerthaning bhumi (Sirna: 0, Ilang: 0, Kertha: 4, Bhumi: 1 = 1400 Saka/1478 Masehi). Pemilihan nama kerthaning dan bhumi ini disinyalir diambil dari nama sang prabu sendiri. Tanda ini turut menguatkan kabar bahwa kedua sosok tersebut merupakan punakawan dari Prabu Kerthabhumi.

Pertanyaan selanjutnya, kalau toh memang ada, siapakah sebenarnya kedua sosok tersebut? Apakah sosok nyata atau justru merupakan sosok gaib? Lalu, apa hubungan antara kedua sosok tersebut dengan sosok Dhang Hyang Semar Badranaya (Mbah Semar)? Sebab, kalau diperhatikan, ternyata ada banyak kesamaan kisah dua sosok tersebut dengan Mbah Semar.

Baca Juga:

Sebagai Orang Jawa, Saya Merasa Miskin saat Tahu Orang Sumatra Tak Bisa Makan tanpa Lauk Ikan

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

Dari beberapa informasi yang saya himpun, ada empat asumsi mengenai kebenaran eksistensi dari sosok Sabda Palon dan Naya Genggong.

Pertama, Sabda Palon dan Naya Genggong adalah sosok nyata, manusia sebagaimana umumnya. Jika ditelusuri, ternyata keduanya memiliki silsilah leluhur, yaitu masih keturunan dari Empu Tantular VI, penulis Kakawin Sutasoma yang menjadi muasal penggunaan Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar negara. Nama asli Sabda Palon adalah Dhang Hyang Smaranatha (lahir 1328 M) dan Dhang Hyang Panawasikan (lahir 1337 M).

Secara keseluruhan, silsilah leluhur dari dua sosok tersebut adalah trah para brahmana dan begawan, yaitu gelar untuk orang-orang yang bergelut dalam dunia ilmu dan spiritual. Itulah kenapa keduanya kemudian menjadi penasehat bagi Prabu Kerthabhumi. Bahkan, ada yang menyebut keduanya sudah menjadi penasehat keraton sejak masa Dyah Rani Suhita (Ratu Ayu Kencana Wungu) dengan Raden Ratnapangkaja (Damarwulan) memerintah dari 1427-1447, menggantikan Prabu Wikramawardhana (raja kelima Majapahit).

Mas Damar Shashangka menyebut, kedua sosok tersebut ini dulunya adalah penasehat pribadi dari Raden Damarwulan. Berkat nasehat dan siasat dari keduanya Raden Damarwulan akhirnya berhasil menumpas pemberontakan dari Adipati Menakjingga yang waktu itu menjabat sebagai adipati keraton wetan Majapahit (Blambangan). Nah, baru setelah Raden Damarwulan menikahi Ratu Ayu Kencana Wungu, dua sosok ini resmi dilantik jadi penasehat keraton.

Kedua, Sabda Palon dan Naya Genggong merupakan sosok gaib pamomong bumi Jawa. Asumsi ini didasarkan pada fakta tentang peristiwa moksa keduanya dan minimnya bukti-bukti fisik yang mendukung kebenaran bahwa keduanya pernah hidup di zaman Majapahit. Yang ada hanya bukti-bukti tinggalan raja-raja yang pernah diasuh. Misalnya, bukti arkeologis Prabu Kerthabhumi yang tercecer hampir di sembarang tempat di tanah Jawa.

Asumsi ini juga disandarkan pada cerita tutur yang menyebut, ketika keduanya menemani Prabu Kerthabhumi bertapa di Gunung Lawu (jelang naik takhta keprabon), tiba-tiba saja seluruh lelembut yang ada di Gunung Lawu menghatur sembah pada kedua sosok tersebut. Seolah meneguhkan bahwa keduanya adalah penguasa dari para lelembut itu.

Ada juga yang menyebut, karena diyakini sebagai pamomong bumi Jawa, keduanya merupakan sosok yang ditemui pertama kali oleh Syekh Subakir (utusan Raja Rum/Turki Usmani) ketika hendak babat alas Jawa yang konon waktu itu dipenuhi oleh lelembut-lelembut jahat yang suka memangsa manusia.

Loh, bukankah yang ditemui Syekh Subakir adalah Dang Hyang Semar? Nah, ini masuk ke asumsi ketiga, bahwa kedua sosok tersebut sesungguhnya adalah nama lain dari Mbah Semar.

Begini, secara nama, Sabda Palon berarti ucapan atau keputusan yang tegas. Sedang Naya Genggong adalah pengabdian dengan keluwesan. Jika disatukan, artinya adalah tegas tapi luwes, luwes tapi mengandung ketegasan, dua watak yang terdapat dalam diri Mbah Semar.

Dikuatkan lagi dengan bukti serat yang menyebut bahwa Sabda Palon dan Naya Genggong pergi atau moksa di selatan Jawa, yaitu di Gunung Tidar, dan selalu dikaitkan dengan erupsi Merapi. Di Gunung Tidar ada petilasan Mbah Semar, sementara letusan Merapi nggak pernah jauh-jauh dari nama Semar. Bahkan sering banget ada foto-foto kepulan asap Merapi yang menyerupai bentuk Semar tiap kali terjadi erupsi.

Berikutnya, sebenernya hanya Sabda Palon yang merupakan nama lain dari Mbah Semar, sementara Naya Genggong adalah sosok yang lain lagi. Asumsi ini disandarkan pada gambaran fisik antara Sabda Palon dan Mbah Semar yang sama persis. Sedangkan Naya Genggong digambarkan jauh lebih kurus. Lebih-lebih lagi, dalam Serat Sabda Palon pun, yang cenderung banyak bicara kepada Prabu Kerthabhumi adalah Sabda Palon. Termasuk pada frasa “Sabda Palon nagih janji”, sering juga orang menyebut, “Semar nagih janji”.

Dengan kata lain, Semar dan Sabda Palon sebenarnya adalah satu sosok, sedangkan Naya Genggong adalah sosok yang berbeda.

Keempat, Sabda Palon, Naya Genggong, atau Mbah Semar, seluruhnya hanyalah mitos dan cerita rekaan saja. Satu, beberapa sejarawan mengatakan kalau Serat Sabda Palon itu ditulis oleh R.N.G. Ranggawarsita, pujangga masyhur dari Keraton Surakarta, yang juga dikenal sebagai seorang yang waskita atau bisa meramal masa depan.

Jadi, kuat kemungkinan bahwa ramalan-ramalan dalam serat tersebut sebenarnya hanyalah hasil rekaan beliau sendiri, sebagai bagian dari olah sastra agar lebih menarik buat dibaca.

Dua, dosen Filsafat Sejarah saya, Ustaz Nuriyadin mengatakan, Serat Sabda Palon sebenarnya malah digubah oleh Prabu Kerthabhumi sendiri. Dan sama, kedua sosok tersebut hanyalah tokoh rekaan, manifestasi dari sang prabu yang berdialog dengan pikiran dan batinnya sendiri. Iya, dua sosok tersebut hanyalah sosok imajinatif yang diciptakan sang prabu. Mirip seperti dalang yang seolah berbicara dengan wayangnya, padahal sejatinya berbicara dengan dirinya sendiri.

Mau percaya yang mana, saya kembalikan ke kalian masing-masing.

BACA JUGA Adipati Wirabraja dan Adipati Wiranegara, Inisiator Islamisasi Lasem yang Terlupakan dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2023 oleh

Tags: Jawajayabayanaya genggongramalansabda palonsabdapalonsabdo palonsemar
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

3 Sisi Gelap Jembatan Suramadu yang Bikin Wisatawan Enggan Balik Lagi ke Madura

3 Sisi Gelap Jembatan Suramadu yang Bikin Wisatawan Enggan Balik Lagi ke Madura

21 Januari 2026
Betapa Repotnya Keluarga Suku Campuran di Hadapan Petugas Sensus

Betapa Repotnya Keluarga Suku Campuran di Hadapan Petugas Sensus

22 September 2023
9 Jenis Kucing Pemikat Rezeki Menurut Serat Katuranggan Kucing (Unsplash)

9 Jenis Kucing Terbaik yang akan Mendatangkan Rezeki Menurut Serat Katuranggan Kucing

7 Maret 2026
arti plat nomor kendaraan kode plat kendaraan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor mojok.co

Daftar Kode Plat Nomor yang Digunakan di Pulau Jawa

29 Desember 2022
wabah di indonesia hindia belanda jawa pada masa lalu tahun kemerdekaan sebelum merdeka dokter belanda sampar pes disentri kolera mojok.co

Menggali Kisah Wabah Misterius yang Ternyata Dulu Pernah Melanda Desa Saya

26 Mei 2020
Pantangan Menikah Ngalor Ngulon bagi Masyarakat Jawa

Pantangan Menikah Ngalor Ngulon bagi Masyarakat Jawa

22 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak (Unsplash)

Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak

14 Juni 2026
Blora Bukan Tempat Tinggal yang Tepat untuk 4 Orang Ini

Mampukah Blora Bangkit dari Julukan Pelosok dan Daerah Tersepi?

10 Juni 2026
Nggak Usah Ngadi-ngadi. Lembaga Pengawas di Drakor Teach You a Lesson Tidak Mungkin Bisa Ada di Indonesia

Nggak Usah Ngadi-ngadi. Lembaga Pengawas di Drakor Teach You a Lesson Tidak Mungkin Bisa Ada di Indonesia

11 Juni 2026
10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh Mojok.co

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh

10 Juni 2026
Kenangan Main Bola di Lapangan Grass Block Sisi Timur Alun-Alun Kota Batu yang Kini Sudah Tiada Mojok.co

Kangen Main Bola di Lapangan Grass Block Sisi Timur Alun-Alun Kota Batu yang Kini Sudah Lenyap

15 Juni 2026
Prinsip Dasar Pelayanan di Kantor Desa: Kalau Bisa Lama, Kenapa Harus Cepat?

Prinsip Dasar Pelayanan di Kantor Desa: Kalau Bisa Lama, Kenapa Harus Cepat?

11 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.