Menggali Kisah Wabah Misterius yang Ternyata Dulu Pernah Melanda Desa Saya

Artikel

Kristianto

“Biyen ya wis tahu kaya ngene iki, pas riyaya wong pada kon meneng ning omah wae.” (Dulu juga pernah terjadi seperti ini, waktu Lebaran orang-orang disuruh diam di rumah saja.) Kalimat tersebut adalah ucapan paman saya, Pakde Basir, sebagai pembuka ceritanya tentang pagebluk atau wabah yang pernah beliau alami.

Lebaran tahun ini sunyi sepi dan kita semua sudah mafhum betul apa penyebabnya. Tidak ada pemudik, tidak ada piknik, tidak ada kerumunan sanak keluarga besar yang saling menilik. Kalaupun ada, pasti yang tinggalnya dekat-dekat saja. Seperti saya yang masih berkunjung ke saudara, karena memang saudara inti dari papah mamah bapak ibu tinggal tak begitu jauh dari rumah.

Hari pertama setelah salat Id, saya datang ke rumah Pakde Basir, orang tertua di keluarga ibu saat ini. Sebenarnya saya lebih sering memanggilnya “mbah” karena memang usia beliau yang lebih senior kalau dibandingkan dengan negara ini. Lahir ketika bangsa kita mengalami transisi kolonialisme dari Belanda ke Jepang, Pakde Basir telah mengalami asam, garam, dan gonjang-ganjingnya kehidupan.

Saya duduk di kursi sebelah beliau, membuka obrolan dengan basa-basi bahwa Lebaran tahun ini sepi. Meski jarak rumah kami sebenarnya tak terlalu jauh, kurang lebih hanya 500 meter, interaksi kami cukup kurang karena saya yang sudah ngekos sejak 7 tahun lalu.

“Riyayane sepi njih, Pakde.” (Lebarannya sepi ya, Pakde?) saya membuka obrolan.

“Ya, ngeneki, ora ana balen.” (Ya seperti ini, tidak ada pemudik) jawab Pakde.

“Biyen ya wis tahu kaya ngene iki, pas riyaya wong pada kon meneng ning omah wae.” Dulu juga pernah terjadi seperti ini, waktu Lebaran orang-orang disuruh diam di rumah saja. Demikian Pakde berkata lagi.

Kalimat ini menarik perhatian saya untuk tahu lebih lanjut bahwa ternyata zaman dulu, terutama di desa saya, sudah ada orang yang pernah mengalami kondisi wabah seperti sekarang.

“Wong biyen le ngarani pagebluk.” Orang jaman dulu menyebutnya pageblug, Pakde meneruskan ceritanya, “Ya kaya sai ki, nanging nek saiki wong sak donya le ngrasakke.” (Ya seperti sekarang, tapi kalau sekarang kan yang merasakan orang di seluruh dunia.)

Pakde tidak tahu di masa lalu seberapa luas wilayah yang mengalami pagebluk tersebut. Apakah hanya satu desa atau satu negara, beliau tidak tahu. Selain usianya masih anak-anak, informasi kala itu juga sangat terbatas. Apalagi di pelosok seprti desa saya ini. Ketika datang pagebluk kala itu, kondisi negara ini masih balita. Seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah SMA, pada tahun-tahun awal kemerdekaan, Belanda datang kembali dan melakukan agresi.

Baca Juga:  Catatan Tentang Seni Untuk Tidak Pergi ke Manapun

“Lajeng rikala semanten kahanane pripun, Pakde?” (Terus waktu itu kondisinya seperti apa Pakde?) tanya saya yang masih penasaran dengan kondisi kala itu.

“Biyen ki medeni, wong sak desa iki sedina sing mati bisa nganti papat.” (Dulu itu ngeri, orang sedesa dalam sehari yang meninggal bisa sampai empat.)

“Wong ning kuburan durung rampung le ngubur, wis ana lelayu maneh.” (Orang yang di makam belum selesai mengubur, sudah ada yang meninggal lagi.)

Saya penasaran, wabah apa yang terjadi sekitar tahun itu. Berdasarkan sejarah yang pernah saya baca, wabah flu spanyol menyerang bangsa ini sekitar tahun 1918-1919. Lalu penyakit apa yang menyerang sampai-sampai merenggut banyak nyawa itu?

“Lha gejala wong sing seda niku pripun, Pakde?” (Lha gejala orang yang meninggal itu apa, Pakde?)

“Ya, macem-macem, ana sing korengen, ana sing ngerti-ngerti mati.” (Ya macam-macam, ada yang kena koreng, ada yang tahu-tahu meninggal.)

Pakde tidak tahu secara pasti penyakit apa yang datang waktu itu, tetapi yang jelas kondisi pemukiman desa belum seperti sekarang. Rumah-rumah masih dari kayu, tidak ada WC dan kamar mandi juga seadanya. Dengan keterbatasan pengetahuan saya tentang gejala dan sejarah penyakit, saya menduga kalau yang pagebluk yang dimaksud itu mungkin adalah kolera atau disentri.

Karena saya tidak membawa hape, rasa pensaran itu saya pendam sampai pulang.

Pakde lalu melanjutkan ceritanya yang ternyata sedikit memberi clue atas rasa penasaran saya

“Mbiyen ki ya ana disentri, nular e cepet banget.” (Dulu juga ada disentri, menularnya cepat sekali.)

“Wong sing nglangkahi panggon wong ngguwang reget e kui mengko bisa langsung kena.” (Orang yang melangkahi tempat orang buang kotoran itu bisa langsung tertular.)

Ungkapan itu menjadi informasi pamungkas yang saya dapatkan dari Pakde. Sebab di siang yang panas itu saya mulai merasa mengantuk dan memutuskan untuk pamit pulang.

Sampai di rumah rasa penasaran itu sungguh menganggu pikiran, jiwa-jiwa sok intelek saya muncul untuk mencari tahu kira-kira penyakit mematikan apa yang pernah terjadi di desa saya pada tahun-tahun awal kemerdekaan.

Akhirnya saya mencari di internet artikel-artikel yang menyajikan sejarah wabah-wabah yang pernah menjangkiti bangsa kita. Setelah saya perkirakan dengan menimbang tahun dan daerah penyebaran, serta kondisi desa saya saat itu berdasarkan cerita Pakde tadi, setidaknya ada beberapa wabah yang kemungkinan menjadi penyebab meninggalnya banyak warga desa kala itu.

Pertama adalah penyakit kolera.

Mengutip informasi dari Tirto, wabah kolera memang pernah menjadi momok mematikan bangsa ini. Penyakit ini sudah mewabah di Hindia Belanda sejak awal abad ke-19 hingga paruh pertama abad ke-20. Pada tahun 1910 saja diperkirakan 60.000 jiwa meninggal di Jawa dan Madura.
Penyebab utama penyakit ini adalah sanitasi yang buruk. Batavia (Jakarta) memang menjadi daerah yang terparah terdampak kolera hingga menjadi wabah musiman dan baru bisa diatasi tahun 1919. Namun, pada tahun 1930-an, wabah ini kembali terjadi di daerah-daerah terpencil.

Baca Juga:  Playlist Andalan Supir Bus Saat Darmawisata

Melihat kondisi desa dahulu berdasarkan cerita Pakde, kondisi tidak adanya kakus dan kamar mandi, serta lokasi desa yang lumayan terpencil di Perbukitan Menoreh, bisa jadi wabah kolera ini yang menjadi penyebab kematian banyak orang desa kala itu. Kalau bukan kolera, dengan melihat ciri-ciri dan kondisi yang sama, penyakit itu mungkin adalah disentri.

Kedua adalah penyakit pes. Mengutip dari artikel Kumparan dan Historia, pes mewabah di Indonesia mulai tahun 1910. Pes sendiri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri pes dan menular melalui kutu-kutu tikus. Penyebarannya kala itu melalui angkutan beras. Dalam angkutan beras tersebut terdapat tikus-tikus yang terjangkit pes dan kemudian menular ke penduduk di wilayah Yogyakarta, Wonosobo, dan Magelang. Artikel tersebut memang tidak menyebut Purworejo, di mana desa saya berada. Tetapi Purworejo adalah daerah yang berbatasan langsung dengan ketiga daerah tersebut.

Wabah pes ini juga bisa diduga menjadi penyebab banyaknya kematian di desa saya kala itu. Sebab berdasarkan kurun waktu, penyakit ini baru bisa diatasi pada tahun 1952. Hingga tahun 1952 pes telah menyerang 240.000 orang di Pulau Jawa.
Seperti yang Pakde ceritakan, ketika pagebluk terjadi di desa saya kala itu, bangsa kita baru saja mengumumkan kemerdekaannya.

Dengan terbatasnya akses informasi yang jelas dan terbatasnya pengetahuan masyarakat, tentu sulit untuk masyarakat menjadi tahu penyakit apa yang menyerang mereka kala itu. Dalam ingatan pakde saya, kondisi tersebut hanya disebut dengan pagebluk. Kalau teman-teman sekalian kiranya ada yang tahu, boleh kita berbagi ilmu.

Gambar: Perjalanan inspeksi wabah pes di Surabaya sekutar tagun 1915-1917. Potret Dokter Emma Augusta van Teutem di sebuah poliklinik di tepi jalan. Koleksi Tropenmuseum via Wikimedia Commons.

BACA JUGA Alasan Orang Suka Langsung Komen Artikel Padahal Baru Baca Judul doang dan tulisan Kristianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
7


Komentar

Comments are closed.