Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

Supriyadi oleh Supriyadi
8 Juni 2026
A A
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja mungkin salah satu daerah yang paling ramah terhadap pendatang. Mau datang dari Jakarta, Surabaya, Madura, Lampung, Medan, sampai Papua, NTT. Semuanya bisa hidup berdampingan di sini tanpa banyak masalah.

Mungkin karena sudah sejak lama menjadi kota pelajar. Setiap tahun ada ribuan orang baru datang untuk kuliah, bekerja, atau sekadar mencari suasana hidup yang berbeda. Warga lokal pun sudah terbiasa hidup berdampingan dengan orang dari berbagai daerah.

ADVERTISEMENT

Namun, ada beberapa kebiasaan yang menurut saya sering membuat warga lokal sedikit mengernyitkan dahi. Bukan karena kami membenci pendatang, melainkan karena ada perbedaan budaya yang cukup mencolok.

Kalau boleh nitip pesan, ada 4 hal kecil yang sebaiknya diperhatikan oleh pendatang.

BACA JUGA: Jogja Itu Emang Romantis, tapi buat Pendatang dan Turis Aja sementara Untuk Warga Sendiri Malah Terasa Menyiksa

Tolong jangan panggil orang dengan sebutan “cuk”

Saya paham betul bahwa bagi sebagian orang Jawa Timur, khususnya wilayah Arekan, kata “cuk” bisa menjadi sapaan akrab. Masalahnya, konteks budaya di Jogja berbeda. Untuk sebagian dari kami, kata tersebut terdengar kasar. Bahkan bagi sebagian orang, sapaan itu bisa terdengar seperti sedang mengajak ribut.

Karena itulah saya pribadi selalu merasa tidak nyaman ketika ada orang yang baru kenal beberapa menit lalu tiba-tiba memanggil, “Cuk!” Dalam hati saya langsung berpikir, “Lho, kita ini sudah akrab sejak kapan?”

Kalau sesama perantau Jawa Timur mungkin tidak masalah. Tapi, ketika berinteraksi dengan warga lokal, rasanya lebih aman menggunakan sapaan yang lebih netral.

Baca Juga:

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg, padahal tahu gudeg yang enak, gurih, dan murah?

Jangan normalisasi kata “anjir” di jogja

Orang-orang sekarang terbiasa mengatakan kata “anjir”. Yang jelas, menurut saya, nggak cocok untuk Jogja. Bukan berarti kami ini merasa sok suci. Buat saya, kata tersebut terasa meresahkan dan tidak sopan.

Meskipun di Jogja ini juga punya beberapa kata umpatan seperti “asu”, “bajingan”, “celeng”, dan lain sebagainya, tidak layak kata “anjir” juga ditambahkan. Kata-kata umpatan yang khas Jogja saja tidak layak, apalagi kata-kata umpatan lainnya.

Jangan kaget kalau orang Jogja bilang “aku” dan “kamu”

Saya punya beberapa teman dari Jakarta yang awal-awal tinggal di Jogja mengaku merasa aneh mendengar percakapan sehari-hari warga lokal. Mereka heran kenapa laki-laki dan perempuan yang bahkan tidak punya hubungan spesial bisa saling memanggil “aku” dan “kamu”.

Bagi sebagian orang Jakarta, penggunaan “aku-kamu” kadang identik dengan hubungan yang lebih dekat. Sementara di Jogja, itu hanyalah bahasa Indonesia sehari-hari.

Terkait kata “aku-kamu”, kami tidak sedang PDKT. Kami juga tidak sedang menyusun skenario menuju pelaminan, tapi cuma sedang berbicara biasa.

Karena itu, pendatang dari Jakarta tidak perlu memaksakan diri memakai “lo-gue” ketika berbicara dengan warga lokal. Sebaliknya, jangan pula merasa aneh ketika mendengar orang Jogja menggunakan “aku-kamu”.

BACA JUGA: Jogja Itu Aslinya Murah, tapi Jadi Mahal Gara-gara (Gaya Hidup) Pendatang yang Bikin Kota Ini Nggak Lagi Semurah Itu

Biasakan permisi kalau melintasi di depan orang dan jangan ngebut di jalan kampung

Kalau ada satu hal yang menurut saya paling penting, ini jawabannya. Jalan kampung di Jogja banyak yang sempit, banyak anak kecil bermain, dan orang tua berjalan kaki. Kalau sore, malah banyak warga yang sedang duduk santai di depan rumah. Karena itu, ketika masuk kampung, kurangi kecepatan kendaraan. 

Selain itu, warga Jogja juga terbiasa dengan budaya permisi. Ketika melewati orang yang sedang berdiri atau duduk di jalan kampung, biasanya akan terdengar ucapan “ndherek langkung”, “nuwun sewu“, atau setidaknya “permisi”.

Saya tidak mengatakan bahwa semua pendatang itu tidak sopan dan tidak menghargai Jogja. Bukan, bukan seperti itu maksud saya. Banyak pula pendatang yang justru sangat mudah beradaptasi.

Namun, semakin lama saya tinggal di sini, saya semakin percaya bahwa hidup berdampingan bukan hanya soal datang dan menetap. Ada juga proses saling memahami kebiasaan satu sama lain. Dan bagi saya, kemampuan menyesuaikan diri itulah yang membuat seseorang benar-benar menjadi bagian, bukan sekadar tinggal di Jogja.

Penulis: Supriyadi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2026 oleh

Tags: budaya jawabudaya jogjaJawaJogjamahasiswa jogjapendatang
Supriyadi

Supriyadi

Juru tulis bersenjata kopi.

ArtikelTerkait

mitos jawa anak sesajen mojok

Saya Nggak Akan Pernah Percaya Mitos Jawa, Karena Nggak Ada yang Masuk Akal

10 Juli 2020
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

26 Juni 2026
Karen Chicken by Olive Chicken Dari Jogja untuk Surabaya (Mojok.co:Agung Purwandono)

Karen Chicken by Olive Chicken Disambut Hangat Warga Surabaya, Masterpiece Ayam Goreng Asal Jogja yang Jadi Primadona

29 Mei 2024
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
jogja

Ada Apa dengan Jogja?

6 Juli 2019
Kodim 0734/Yogyakarta: Dulunya Sekolah para Guru, Kini Jadi Markas para Tentara

Kodim 0734/Yogyakarta: Dulunya Sekolah para Guru, Kini Jadi Markas para Tentara

18 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fans Ronaldo nangis melihat Messi real GOAT di final Piala Dunia (Unsplash)

Final Piala Dunia yang bikin fans Ronaldo hilang arah: Cemas dukung Messi atau membiarkan fans Barcelona makin besar kepala?

18 Juli 2026
Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg, padahal tahu gudeg yang enak, gurih, dan murah?

19 Juli 2026
Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi Mojok.co

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

18 Juli 2026
Berhentilah Percaya Stigma Buruk Jalur Pantura Subang, Kawasan Ini Bukan Cuma soal Warung Remang-remang

Berhentilah percaya stigma buruk jalur pantura Subang, kawasan ini bukan cuma soal warung remang-remang

13 Juli 2026
Kebodohan konsumen Indomaret yang merusak kenyamanan belanja (Unsplash)

Akulah pelanggan Indomaret yang resah itu gara-gara konsumen nggak ada akhlak yang merusak kenyamanan belanja

17 Juli 2026
Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.