Selama hidup sebagai orang Jawa, saya kira konsep lauk di semua daerah itu sama. Tapi ternyata saya keliru. Apa yang dianggap cukup oleh orang Jawa belum tentu dianggap lengkap oleh orang Sumatra.
Orang Jawa ternyata memiliki konsep makan yang sederhana. Selama ada nasi hangat dan satu lauk, makan sudah dianggap cukup. Lauk makannya juga tidak muluk-muluk. Tidak harus berupa ayam. Tempe dan tahu pun sudah cukup.
Bahkan dalam kondisi kepepet, mereka masih bisa damai lauk kerupuk. Atau hanya nasi dengan sambal saja. Menu makan demikian, sebetulnya sudah nikmat. Khususnya ketika kondisi perut keroncongan.
Tapi ternyata, konsep makan semacam itu hanya berlaku di Jawa. Di luar, khususnya di Sumatra, standar makan lengkap jauh berbeda.
BACA JUGA: Alasan Kenapa Masakan Khas dari Luar Jawa Banyak Berbahan Daging tapi Masakan Jawa Nggak
Perbedaan makan orang Jawa vs orang Sumatra
Beberapa waktu lalu lewat sebuah konten menarik di beranda saya. Konten itu membandingkan kebiasaan makan orang Jawa dengan orang Sumatra. Yang mempunyai konsep yang mencolok.
Jadi, ada sebuah konten yang menceritakan dua orang datang ke warteg. Orang pertama memesan nasi dengan lauk telur dadar. Sedangkan orang kedua pesan nasi dengan lauk ayam, ikan, tempe orek, dan sambal. Tidak cukup hanya itu, orang tersebut meminta tambahan kuah sampai banjir.
Karena heran dan penasaran, orang pertama lantas bertanya sambil menyindir. “Buset, abis ngebon lu? Banyak banget lauknya.”
“Ya kalau makan beginilah, pasti banyak lauknya. Kalau lauknya satu itu bukan makan namanya”, jawab orang kedua yang merupakan orang Sumatra.
Jelas, di antara kedua orang tersebut ada budaya yang berbeda ketika makan. Orang Sumatra terlihat sudah terbiasa makan dengan banyak lauk. Tempe dan tahu tidak masuk hitungan.
Makannya, jika Anda makan pakai tempe dengan orang Sumatra mereka akan bertanya. “Ikannya mana?”
Sedangkan orang Jawa, tetap pada budayanya. Kesederhanaan. Makan tidak perlu muluk-muluk. Pakai tempe sudah cukup. Syukur-syukur kalau ada ayamnya. Mereka malah bingung kalau kebanyakan lauk.
Merasa miskin melihat orang Sumatra makan dengan lauk banyak
Dalam komentar di konten tersebut, banyak orang Jawa yang menceritakan culture shock-nya saat melihat orang Sumatra makan. Begitu juga sebaliknya. Orang Sumatra juga kaget karena di Jawa lauk pakai tahu saja cukup.
Saat melihat orang Samatra makan di warteg, saya merasa seperti orang kurang mampu. Bayangkan saja, mereka makan dengan beraneka macam lauk. Sedangkan saya hanya makan dengan telur. Kadang-kadang cuma pake gorengan.
Mungkin mereka kalau lihat saya makan akan merasa kasihan. Padahal sejak kecil saya terbiasa dengan lauk sederhana. Maka dari itu saya tidak menganggap lauk tempe sebagai simbol prihatin.
Orang Jawa sampai bosan makan ikan ketika mengunjungi Sumatra
Saya pernah ikut pelatihan di Sumatra selama sebulan. Tepatnya di Kota Palembang. Dan selama di sana, saya jadi mengerti bahwa mereka memiliki konsep lauk yang lebih lengkap.
Saat pelatihan, saya selalu mendapat suguhan lauk lebih dari satu. Kalau tidak ikan, ayam, atau sapi. Sangat jarang tempe dan tahu. Jangankan tempe, telur saja jarang. Makanya saya merasa banyak gizi hanya saat berada di Palembang.
Tapi jujur, sebagai orang Jawa, keseringan makan lauk hewani tidak lantas membuat saya bahagia. Saya justru bosan. Sesekali saya merindukan makan nasi dengan tempe. Dari situ saya sadar, bahwa selera makan ternyata tidak dibentuk oleh jenis lauk. Melainkan kebiasaan.
Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 5 Kebiasaan Makan Orang Jawa yang Berubah ketika Tinggal di Sulawesi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













