Mengenal Simbolisasi Waktu yang Digunakan Masyarakat Jawa Tempo Dulu

Featured

Aly Reza

Beberapa dari kita pastinya sering mendengar dari simbah kita tentang kehidupan mereka di zaman dulu. Termasuk saya sendiri. Saya sering memperoleh gambaran bagaimana para leluhur kita dulu memanfaatkan obor sebagai media penerangan, menanak nasi masih di atas pawon (kompor tradisional dari tanah liat), membajak sawah dengan sapi, dan segala jenis teknologi tradisional lainnya. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah bagaimana masyarakat Jawa tempo dulu mengandalkan matahari sebagai penunjuk waktu.

Pernah suatu kali ketika masih kanak-kanak, simbah menyontohkan kepada saya bagaimana cara niteni (mencermati) waktu dengan metode tersebut. Simbah mengambil ranting kecil dan menancapkannya di tanah. Bayang-bayang ranting yang terkena terik matahari itulah yang dijadikan acuan dalam mengambil kesimpulan: Jam berapakah sekarang?

Misalnya, jika panjang ranting sama dengan panjang bayangannya ketika matahari sudah condong di barat, maka diperkirakan sudah masuk waktu asar, yakni antara pukul 14.45 sampai 15.15. “Dulu kalau mau salat ya gini ini caranya. Dilihat dari bayangannya. Kalau antara benda dan bayangannya sama panjang seperti ini, berarti sudah boleh salat Asar,” terang simbah.

Belakangan saya mulai sadar satu hal bahwa simbah nggak nyebut satuan jam tertentu. Simbah hanya nyebut istilah. Dalam hal ini adalah asar, alih-alih mengatakan pukul berapa. Fakta tersebut tentunya bisa dibenarkan secara ilmiah mengingat masyarakat zaman dulu, lebih-lebih yang tinggal di pedesaan, hampir semuanya nggak mengenal jam seperti apa yang kita definisikan. Otomatis belum ada yang bisa mediskripsikan bahwa jika bayangan suatu benda sama panjangnya dengan benda aslinya, berarti sudah masuk pukul 15.00. Mereka hanya mengenal bahwa kondisi benda dan bayangannya yang demikian adalah waktu asar. Ada semacam simbolisasi waktu dalam hal ini.

Bermodal hipotesis kasar tersebut saya pun tertarik untuk menelusuri: Adakah istilah tertentu yang digunakan masyarakat Jawa tempo dulu sebagai pengganti satuan angka? Pastinya ada. Karena dalam masyarakat Jawa ada juga yang namanya candrasengkala. Dalam disiplin ilmu Paleografi-Epigrafi, candrasengkala adalah simbolisasi angka tahun dengan menggunakan satu istilah atau gambaran tertentu. Kalau dalam dunia modern sering disebut dengan kronogram,

Misalnya yang cukup populer adalah gapura dua naga di area makam Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur. Istilah yang digunakan untuk menyebut gapura itu yakni, naga loro wernaning tunggal. Gambaran atau istilah tersebut merupakan simbolisasi dari waktu berdirinya gapura tersebut yang menunjukkan angka tahun 1428 Saka (tahun Jawa). Jika dibedah per kata, tahun tersebut diperoleh dari, naga: 8, loro: 2, wernaning (warna): 4, dan tunggal: 1. Selanjutnya dibaca dari belakang.

Di Keraton Yogyakarta pun demikian. Terdapat ornamen yang kalau dialihbahasakan akan membentuk kalimat: dwi naga rasa tunggal. Dwi: 2, naga: 8, rasa: 6, dan tunggal: 1. Merupakan simbolisasi dari tahun berdirinya keraton pada tahun 1682 Saka. Selain untuk memudahkan dalam mengingat angkat tahun, simbolisasi tersebut konon juga mengandung maksud tertentu.

Baca Juga:  Menciptakan Keribetan bagi Masyarakat Cashless

Dengan begitu, bukan nggak mungkin kalau hal serupa juga berlaku untuk urusan simbolisasi waktu. Setelah membuka buku Kawruh Bahasa Jawa Pepak dan mencocokkannya dengan Leksikon Bahasa Jawa Sejak 1997, ternyata ada loh istilah tertentu yang digunakan oleh masyarakat Jawa untuk menyebut satuan waktu. FYI aja nih, Leksikon Bahasa Jawa Sejak 1997 merupakan himpunan kamus, sinonim (dasanama), dan glosarium Jawa dalam bentuk digital terlengkap di dunia. Dan merupakan fasilitas yang disediakan oleh Yayasan Sastra Lestari Solo sebagai lembaga terbesar di Indonesia dalam hal digitalisasi manuskrip Jawa abad 19 dan 20.

Saya mulai dari pukul 06.00 pagi. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah byar. Byar sendiri berarti menga (terbuka/melek) atau padhang (terang). Maksudnya, waktu byar adalah waktu di mana mata sudah terbuka/melek yaitu saat-saat bangun tidur sekaligus waktu di mana suasana beranjak terang. Dan itulah pukul 06.00 pagi.

Menyusul kemudian adalah waktu gumatel yang artinya njalari gatel atau wiwit krasa panas (merasakan gatal atau mulai terasa panas). Bisa dibilang gumatel adalah saat-saat di mana matahari baru beranjak naik dan baru mulai terasa panas. Dalam pepak diidentikkan dengan pukul 09.00 pagi.

Dalam kultur masyarakat Jawa desa, di atas pukul sembilan pagi adalah waktu untuk memberi pakan ternak dan melakukan pekerjaan lainya. Istilah waktu untuk menyebut waktu ini adalah pecat sawed. Pecat artinya nguculi (melepaskan) dan sawed adalah kayu tempat sapi diikat. Yang dimaksud dengan melepaskan sapi di sini adalah membiarkannya makan di padang rumput atau kalau dalam bahasa Jawa sering disebut dengan angon atau gembala. Waktu ini mungkin di kisaran pukul 10.00 pagi. Waktu lazim bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan masing-masing.

Adapun setelahnya, ada yang namanya waktu wisan gawe, tengange, dan bedhug duhur. Wisan gawe berarti waktu untuk menyudahi pekerjaan, tengange dan bedhug duhur memiliki arti sama yaitu tengah hari. Maksud waktu buat menyudahi pekerjaan di tengah hari yakni antara pukul 11.00-12.00 siang. Rehat dari pekerjaan untuk mendirikan salat Zuhur. Sementara untuk menyebut pukul 13.00 siang, digunakan istilah lingsir kulon yaitu waktu matahari turun ke barat. Sedangkan pukul 15.00 adalah waktu ngasar, waktu untuk menunaikan ibadah salat Asar.

Beberapa istilah untuk menyimbolkan waktu sore antara lain, tunggang gunung, tibra layu, dan magriban/surup. Tunggang gunung berarti punggung gunung, menggambarkan matahari yang sudah terlihat di punggung gunung hendak terbenam, mungkin sekitar pukul 17.00. Tibra layu berasal dari dua unsur kata: tibra dengan arti susah dan layu dengan arti mati. Bisa dikatakan tibra layu adalah waktu di mana sangat susah jika harus menguburkan orang mati, karena hari sudah beranjak gelap. Memiliki maksud yang sama dengan magriban/surup. Magriban adalah waktu untuk salat magrib, sedangkan surup bisa diartikan hilang, menunjukkan matahari yang telah hilang atau terbenam. Kedua istilah ini digunakan untuk menunjuk pukul 17.30-18.00.

Baca Juga:  Gagalnya Pernikahan Hayam Muruk dan Dyah Pitaloka, Membuat Kisah Percintaan Jawa dan Sunda Dihantui Cerita Masa Lalu

Untuk pukul 19.00 disebut sebagai waktu ngisak karena lumrahnya orang mengerjakan salat isya pada pukul tersebut. Setelahnya disebut dengan waktu bakda ngisak yakni antara pukul 20.00-21.00. Di atas waktu tersebut sudah mulai masuk waktu sirep bocah dan sirep wong. Sirep artinya tidur, dimaksudkan untuk waktu di mana bocah (anak-anak) dan wong (orang dewasa) mulai tertidur. Dalam kebiasaan masyarakat Jawa, tidur anak-anak lumrahnya di pukul 22.00, sementara orang dewasa di pukul 23.00. Puncak malam disebut dengan bedhug bengi persis pada pukul 24.00. Kalau pukul 01.00 dini harinya baru dikenal dengan lingsir wengi. Lingsir artinya turun, wengi artinya malam. Lingsir wengi berarti malam yang perlahan turun menuju pagi lagi.

Saya tertarik dengan istilah waktu titiyoni. Titi berarti waktu sedangkan yoni adalah kelamin perempuan. Jika diartikan sebagai waktu bertemu dengan kelamin perempuan, maka bisa jadi adalah waktu paling sering digunakan masyarakat Jawa untuk melakukan hubungan persenggamaan. Yakni di kisaran pukul 02.00.

Yoni juga bisa berarti sakti atau selamat. Kalau memang demikian, alternatif lain adalah mengaitkannya dengan aktivitas lewat tengah malam. Bisa semedi atau mendekatkan diri kepada Tuhan, salat tahajud misalnya. Semedi untuk memperoleh kesaktian dan tahajud untuk mencapai keselamatan. Waktu titiyoni menjadi waktu yang paling cocok untuk melakukan hal tersebut karena suasananya yang terbilang hening dan tenang. Suasana yang cukup kondusif untuk semedi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Terakhir adalah waktu jago kluruk (ayam berkokok) tanda pagi tiba sebentar lagi. Waktu ini berlangsung dari pukul 03.00-04.00. Untuk menunjukkan permulaan pagi atau waktu fajar, digunakan istilah saput lemah. Saput artinya menyaput atau membalut, lemah berarti bumi. Saput bumi adalah cahaya remang yang menyaput atau membalut bumi, yakni pukul 05.00-05.30 pagi.

Karena pada masa-masa itu belum ada jam seperti saat ini, masyarakat Jawa mengakalinya dengan mengaitkan antara kegiatan sehari-hari dengan bergeraknya matahari dari pagi hingga pagi lagi. Hal tersebut nyatanya cukup akurat ketika dikaitkan dengan satuan jam yang sudah kita kenal. Kenyataan yang kian menegaskan bahwa nenek moyang masyarakat Jawa adalah kelompok masyarakat yang kreatif dan inovatif.

BACA JUGA Hierarki Penyebutan Orang Meninggal dalam Bahasa Jawa dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
13


Komentar

Comments are closed.