Hierarki Penyebutan Orang Meninggal dalam Bahasa Jawa – Terminal Mojok

Hierarki Penyebutan Orang Meninggal dalam Bahasa Jawa

Featured

Avatar

Dari perspektif linguistik, bahasa Jawa memang unik. Jawa punya tiga tingkatan bahasa berdasar siapa yang diajak berkomunikasi, meliputi krama inggil, krama madya, dan ngoko. Bahasa Jawa krama inggil digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang tua dan dihormati. Krama madya lebih dikenal sebagai bahasa campuran antara krama inggil dan ngoko. Sedangkan bahasa Jawa ngoko biasa digunakan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya maupun yang lebih muda.

Dalam penyebutan orang meninggal pun, bahasa Jawa punya tingkatannya sendiri. Jika penggunaannya tertukar, nggak cuma pandangan sinis yang kita peroleh, bisa-bisa kita dipisuhi atau bahkan ditempeleng sama orang karena dianggap tidak sopan. Jika diringkas, penyebutan orang meninggal ala Jawa dapat dibedakan menjadi empat jenis.

Tingkatan pertama adalah sedo.

Istilah sedo merupakan singkatan dari siksane wis ba’do atau dalam bahasa Indonesia berarti siksanya sudah selesai. Artinya, orang yang sudah meninggal tersebut sudah melalui masa ‘penyiksaan’ di dunia dan menuju nikmat kehidupan setelahnya. Penyebutan istilah ini biasa digunakan ketika ada tetua desa, kiai, atau siapapun orang yang dihormati di kampung meninggal dunia.

Dalam kepercayaan orang Jawa, terutama setelah masuknya ajaran Islam, dunia memang dipercaya hanya sebagai tempat yang untuk mampir minum. Sifatnya sementara. Setelah meninggal, seseorang akan menuju tempat yang lebih baik bernama akhirat yang hanya berisi surga dan neraka. Bagi kyai dan orang-orang yang dihormati, surga dipandang sebagai tujuannya setelah meninggal.

Saya jadi ingat kata-kata Woodward (1999) dalam buku Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan yang menjelaskan bahwa kematian bagi orang Jawa juga dipandang sebagai langkah menuju pencapaian kemajuan spiritual. Tak heran jika kata sedo dipakai untuk menjelaskan bahwa orang yang mati akan menuju tingkatan yang lebih tinggi bagi kalangan kiai dan orang-orang yang dihormati.

Tingkatan kedua adalah mati.

Sependek pengetahuan saya, istilah mati punya dua pemahaman. Pertama, beberapa kalangan mengartikannya sebagai nikmate wes ganti yang dalam bahasa Indonesia berarti nikmatnya telah berganti. Penggunaan istilah ini diperuntukkan kepada orang biasa yang meninggal dunia. Orang biasa dianggap akan mendapat kenikmatan bentuk lain ketika sudah meninggal.

Kedua, istilah mati juga diartikan nikmate sik thithik yang artinya nikmatnya masih sedikit. Biasanya, istilah ini dipakai untuk anak kecil yang sudah meninggal dunia. Penggunaan ini mengacu pada kehidupan anak kecil yang hanya menikmati udara bumi sebentar saja.

Tingkatan ketiga adalah matek.

Istilah ini terdengar lebih kasar dan banyak digunakan oleh masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Matek adalah singkatan dari nikmate wis entek. Istilah ini mengacu pada orang dewasa yang meninggal dunia. Berbeda dengan anak kecil, orang dewasa lebih punya banyak waktu hidup di dunia. Bisa jadi, nikmat yang didapat lebih banyak dibanding anak kecil yang meninggal lebih dulu. Maka, istilah matek masuk akal untuk digunakan.

Matek memang terdengar kasar. Tetapi, ada istilah yang jauh lebih kasar.

Tingkatan keempat adalah bongko.

Bukan, ini bukan saudara dari wingko yang jadi makanan favoritmu itu. Jujur, saya tak suka menyebut kata ini. Bagi saya, kata ini punya makna yang amat kejam. Namun, karena tulisan ini harus diselesaikan, mau tidak mau saya harus membahasnya.

Bongko adalah singkatan dari diobong ning neroko. Dalam bahasa Indonesia, kita dapat mengartikannya sebagai dibakar di neraka. Jahat bukan? Istilah ini banyak digunakan untuk menyebut (baca: memaki) orang jahat dan senang berbuat dosa yang meninggal dunia. Karma itu nyata, katanya. Jika di dunia selalu berbuat jahat, maka tempat terbaik setelah meninggal tidak lain dan tidak bukan ya di neraka.

Memang, keempat tingkatan tersebut belum tentu benar. Meminjam kata-kata Kiai Anwar Zaid, ulama kondang Jawa Timur, rumusan tingkatan tersebut adalah hasil dari ilmu otak-atik mathuk yang artinya otak-atik dan kebetulan pas. Meski begitu, banyak orang Jawa menggunakannya dalam kehidupan sosial karena sangat erat dengan budaya sopan santun dan kepercayaan ihwal kehidupan setelah mati. Yang pasti, hierarki tersebut mengingatkan kita akan satu hal: kematian.

BACA JUGA Ambyarnya Bahasa Jawa si Anak Pendatang Berakhir Dicap Tidak Sopan atau tulisan Ahmad Zulfiyan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
18


Komentar

Comments are closed.