Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
15 Juli 2026
A A
Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak Mojok.co

Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya kira semua tenaga pendidik selalu mengalami dilema ketika memberikan nilai. Entah itu guru, atau bahkan dosen. Saya juga demikian, sebagai dosen muda, saya selalu tidak tenang kalau memberi nilai yang sangat amat di bawah standar kelulusan.

Bagi dosen-dosen berhati baja, fase ini mungkin biasa saja. Tinggal klik-klik, masukkan angka dari Excel, selesai. Tapi, bagi klan dosen nggak enakan, fase ini adalah medan pertempuran batin yang menguras energi spiritual.  

ADVERTISEMENT

Penyakit sungkan ini bak tumor jinak yang pelan-lambat menggerogoti ketegasan akademik kami. Dan, celakanya, mahasiswa pemalas memiliki radar yang sangat sensitif untuk mendeteksi keberadaan dosen jenis ini.

Teror masa depan dan drama serba kasihan

Saya adalah hasil dari mahasiswa yang sebenarnya biasa saja di kelas tapi lumayan sering mendapat nilai A. Dan, jujur saja saya sangat berterima kasih atas nilai tersebut.

Dari sana ketika ingin memberikan nilai, saya selalu ingat jika mereka juga punya masa depan. Dan, jika diberikan nilai kurang baik, takutnya masa depan mahasiswa jadi terancam. 

Sebagai dosen saya selalu kepikiran, kalau anak ini saya kasih nilai E, dia harus mengulang tahun depan. Sedangkan UKT sekarang mahal. Kasihan orang tuanya yang sudah susah payah bayar kuliah. Begitulah perenungan yang saya hadapi.

Belum lagi kalau mahasiswa tersebut ternyata penerima beasiswa KIP-Kuliah. Memberi mereka nilai D atau E sama saja dengan memutus rantai subsidi pendidikan mereka secara sepihak.  

Di sisi lain, jika menanyakan penyebab nilai dan alasan kenapa tak kunjung mengirimkan tugas, mereka gercep sekali membuat sebuah paragraf panjang dan alasan yang macam-macam. Mulai dari laptop yang ujug-ujug meledak saat mau mengirim tugas, sampai kakeknya meninggal (meski sebenarnya meninggalnya sudah bertahun-tahun lalu).

Baca Juga:

Magelang daerahnya nyaman, tapi nggak cocok untuk mahasiswa

7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan

Dilema keadilan sosial bagi seluruh mahasiswa yang rajin

Di sudut hati yang lain, akal sehat saya berteriak kencang. Bagaimana mungkin saya sebagai dosen menyamakan nilai anak yang tidak pernah masuk ini dengan mahasiswa di barisan depan yang selalu datang 15 menit sebelum kelas dimulai. Mahasiswa yang bukunya penuh coretan stabilo warna-warni dan yang selalu menyimak penjelasan saya dengan mata berbinar-binar?

Jelas itu bukan sekadar tidak adil. Itu adalah penistaan terhadap kerja keras. Maka, setelah perang batin yang melelahkan dan beberapa kali menghela napas panjang, saya biasanya mengambil jalan tengah, sebuah jalan kompromi. Saya beri mahasiswa-mahasiswa yang tak perform ini dengan  nilai C atau C+. Batas aman agar dia tidak perlu mengulang kelas saya semester depan. Selesai, kan? Harusnya masalah beres di situ, tapi ternyata tidak.

ADVERTISEMENT

Sayangnya, kenyataan di lapangan tidak pernah seindah teori itu. Alih-alih bersyukur karena diselamatkan dari jurang ketidaklulusan, mahasiswa tipe ini sering kali malah ngelunjak. Selang beberapa menit setelah nilai C itu muncul di portal mereka, ponsel saya langsung bergetar.

“Pak, mohon maaf, kok nilai saya C, ya? Apa bisa dikatrol”

Membaca pesan seperti itu rasanya ada rasa dongkol yang merayap cepat dari ujung kaki sampai ubun-ubun. Saya rasanya ingin membalas pesan itu dengan kalimat, “Gundulmu!” Tapi, tentu saja saya urungkan. Alhasil, ketikan saya di WhatsApp berakhir menjadi sangat diplomatis antara dosen dan mahasiswa.

Pelajaran dari bangku dosen

Pada akhirnya, saya sadar bahwa bersikap “terlalu baik” di dunia akademis kadang justru mendidik mahasiswa menjadi generasi yang manja dan menganggap remeh sebuah proses. Mereka belajar bahwa konsekuensi dari kemalasan bisa dinegosiasikan lewat chat WhatsApp tengah malam dengan bumbu cerita kasihan.

Satu hal yang saya pelajari, menjadi dosen baik ternyata bukan tentang bagaimana kita selalu menyenangkan semua mahasiswa agar mendapatkan ulasan bintang lima di akhir semester. 

Menjadi dosen yang baik adalah tentang bagaimana kita tega meletakkan cermin di depan wajah mahasiswa kita agar mereka tahu bahwa di dunia nyata nanti, tidak ada tombol “katrol nilai” ketika mereka gagal memenuhi tanggung jawab dalam pekerjaan.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Chat Aneh Mahasiswa ke Dosen Muda, Tolong Jangan Dibiasakan.

ADVERTISEMENT

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2026 oleh

Tags: DosenKampusMahasiswanilaiUKT
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

3 Hal yang Membuat Mahasiswa Semarang Iri dengan Mahasiswa Jogja

3 Hal yang Membuat Mahasiswa Semarang Iri dengan Mahasiswa Jogja

4 April 2025
Makan di Warteg Harusnya Menduduki Puncak Klasemen Rekomendasi Kuliner terminal mojok.co

Warteg: Romantisme dalam Sepiring Nasi dan Keakraban dengan Mbak Penjualnya

14 September 2019
skripsi pandemi tips agar skripsi cepat selesai skripsi ditiadakan, skripsian di rumah Pak Jokowi, Selain UN, Skripsi Juga Harusnya Ditiadakan Tahun Ini

Pak Jokowi, Selain UN, Skripsi Juga Harusnya Ditiadakan Tahun Ini

25 Maret 2020
5 Cara Mahasiswa Berhemat di Jogja, Kota Pelajar yang Katanya Serba Terjangkau, padahal Tidak Mojok.co

5 Cara Mahasiswa Berhemat di Jogja, Kota Pelajar yang Katanya Serba Terjangkau, padahal Tidak

20 Juni 2024
Pasar Splendid Malang Tidak Hanya untuk Pecinta Hewan dan Tumbuhan, Mahasiswa yang Butuh Hiburan Coba deh ke Sana Mojok.co

Pasar Splendid Malang Tidak Hanya untuk Pecinta Hewan dan Tumbuhan, Mahasiswa yang Butuh Hiburan Coba deh ke Sana

8 November 2023
misuh kepada dosen di kampus

Andai Misuh Kepada Dosen di Bulan Puasa Tidaklah Dosa

25 Mei 2019
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga Mojok.co

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga

20 Agustus 2026
Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

26 Agustus 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah miskin, saya begitu benci dengan keadaan itu, dan tak pernah ingin jadi miskin lagi

23 Agustus 2026
7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan Mojok.co

7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan

21 Agustus 2026
Gara-gara industri, matcha kini jadi overrated (Unsplash)

Matcha layak dicintai, hanya saja industri membuatnya jadi overrated

23 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.