Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Jadi Pengangguran karena Membela Diri dari Kekerasan, Berujung Diusir Kakak: Ketika Gaji 80 Ribu Lebih Berharga daripada Harga Diri

Wulan Sari oleh Wulan Sari
25 Mei 2026
A A
Derita Pengangguran Korban Kekerasan, Diusir Kakak Kandung (Unsplash)

Derita Pengangguran Korban Kekerasan, Diusir Kakak Kandung (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi pengangguran di negeri ini adalah sebuah dosa besar. Tidak peduli alasan kamu berhenti kerja. Bahkan jika alasanmu adalah mempertahankan harga diri agar tidak digebukin orang. Di mata keluarga, kamu tetaplah pihak yang salah karena memilih “nganggur dan milih-milih kerjaan”.

Menjadi pengangguran dan terusir dari rumah saya rasakan sendiri baru-baru ini. Beberapa bulan lalu, saya bekerja di sebuah pabrik tas. Tolong jangan bayangkan pabrik modern dengan mesin otomatis yang estetik. Di sana, saya harus mengejar target manual 3.000 barang per hari dengan upah Rp80 ribu rupiah saja sehari.

Kerjaan itu paket komplit jadi budak. Saya harus ambil barang sendiri, kejar target di mesin sendiri, lalu menyusun hasilnya sendiri. Seakan-akan, saya merangkap pekerjaan tiga orang. Semua itu hanya demi upah yang kalau dibelikan rokok dan bensin sudah menguap setengahnya.

Awal mula jadi pengangguran

Sebagai manusia biasa yang punya batas lelah, saya meminta bantuan pengawas agar ada yang membantu menyusun barang. Logis, bukan? Biar saya bisa fokus kejar target. 

Namun, respons si pengawas justru di luar nalar. Bukannya memberi solusi, dia malah marah-marah. Puncaknya, dia melempar barang hasil kerja saya dan dia juga memukul tangan saya.

Di titik itu, darah saya mendidih. Saya ke sana untuk mencari nafkah, bukan mendaftar jadi samsak tinju gratisan. Pertengkaran pun pecah dan saya jadi pengangguran.

Semua berawal ketika kantor memanggil saya. Eh, manajemen justru meminta saya untuk “memaklumi”. Ya kali maklum, itu kekerasan fisik! Tiga hari saya menahan dongkol, hingga akhirnya saya kelepasan. Kata-kata kasar keluar dan saya dipecat. 

Saya keluar dengan kepala tegak. Saya tidak sudi menukar harga diri demi uang Rp80 ribu per hari.

Baca Juga:

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau?

Derita Jadi Lulusan PPG: Statusnya Saja Guru Profesional, tapi Cari Kerja Tetap Susah

Plot twist kehidupan

Mencari kerja zaman sekarang susahnya minta ampun. Sudah dua bulan saya menjadi pengangguran. 

Namun, bukannya saya berdiam diri. Di kamar, saya mencoba peruntungan daring. Mulai dari menulis novel, menulis artikel, dan mencoba segala hal yang bisa menghasilkan uang dari balik laptop. 

Namun, di mata orang rumah, kalau kamu belum berangkat pagi pulang petang memakai seragam, kamu adalah beban yang sedang bersantai-santai.

Malam itu, kakak saya membuka obrolan yang puncaknya membuat saya elus dada.

“Balik lagi aja ke pabrik tas yang kemarin,” katanya enteng.

Saya langsung menolak. Ngapain saya mengemis lagi ke tempat yang sudah menjadikan saya pengangguran hanya karena saya membela diri dari kekerasan? Ibu saya sendiri di kampung, saat saya telepon, justru mendukung saya.

Beliau bilang, “Jangan balik ke sana, cari yang lain aja.” Seorang ibu tahu, keselamatan anaknya nomor satu.

Jadi pengangguran, diusir kakak yang sama sekali tidak mau memahami

Kakak saya berbeda. Dia ngotot. Kalimatnya malam itu benar-benar mengiris hati.

“Pulang kampung aja kamu. Kalau di sini orang udah males ngurusin kamu. Pilih-pilih banget kerjaan, kenapa nggak mau balik cuma karena masalah sepele gitu?”

Masalah sepele katanya? Menjadi pengangguran karena membela diri dan tidak salah dia anggap sepele saja. Malam itu, saya hanya bisa terdiam. Mendadak saya merasa asing di rumah sendiri. 

Ironisnya lagi, selama tinggal di kontrakan bersamanya, saya membeli makan dengan uang sendiri. Kakak saya tidak pernah memberi uang makan sepeser pun. Bahkan urusan kebersihan kontrakan, dari menyapu sampai membereskan rumah, semuanya saya yang kerjakan. Dia tinggal terima bersih. 

Namun, hanya karena status pengangguran dan belum menghasilkan uang lagi, dia mau mengusir saya. Diia bahkan menyuruh saya pulang kampung jika sampai tidak mau mengemis ke pabrik tas itu.

Setelah semua kejadian ini, saya belajar satu hal penting. Kadang, orang terdekat kita malah menjadi orang yang paling tidak peduli dengan penderitaanmu. Mereka nggak peduli kamu jadi korban kantor yang toksik, mentalmu hancur, fisik terancam, dan menjadi pengangguran.

Mereka hanya peduli satu hal. Yang penting kamu punya status “kerja” agar mereka tidak malu punya saudara pengangguran.

Untuk kakak saya, terima kasih ancamannya. Saya mungkin sedang kalah dalam urusan finansial, tapi setidaknya saya tidak kalah dalam menjaga harga diri saya sebagai manusia.

Penulis: Wulan Sari

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Putus Asa usai Ditolak Kerja Ratusan Kali, Sampai Dihina Saudara karena Hanya Jadi Sarjana Nganggur

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Mei 2026 oleh

Tags: dipecatNganggurpabrik taspecatPengangguran
Wulan Sari

Wulan Sari

Penulis fiksi di platform Fizzo Novel. Aktif mendokumentasikan dinamika kehidupan perantauan lewat tulisan. Saya punya ketertarikan kuat pada bidang Penulisan Kreatif dan fiksi berbasis pengalaman nyata. Bisa dikontak via [email protected].

ArtikelTerkait

Enaknya Jadi Fresh Graduate di Jogja: Nggak Takut Dicap Pengangguran karena Sibuk Ikut Forum Diskusi

Enaknya Jadi Fresh Graduate di Jogja: Nggak Takut Dicap Pengangguran karena Sibuk Ikut Forum Diskusi

11 September 2025
Menjadi Sarjana dari Desa dengan Tuntutan Sukses Versi Tetangga terminal mojok.co

Pada Akhirnya Mau Kuliah di Mana pun, Jurusan Apa pun, Habis Lulus, Semua Bisa Nelangsa

15 April 2020
karu pra-kerja

3 Kelebihan Program Kartu Pra-Kerja yang Tidak Pernah Kamu Pikirkan Sebelumnya

22 April 2020
Patrick Star, Contoh Pengangguran Sukses yang Selalu Punya Uang

Patrick Star, Contoh Pengangguran Sukses yang Selalu Punya Uang

11 Januari 2023
Wahai Para Pencari Kerja yang Budiman, Seberapakah Penting Job Fair dalam Kehidupan?

Wahai Para Pencari Kerja yang Budiman, Seberapakah Penting Job Fair dalam Kehidupan?

31 Oktober 2019
Blora Jalan di Tempat, Kalah sama Kabupaten Tetangga

Blora Jalan di Tempat, Kalah sama Kabupaten Tetangga

9 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun KCIC Padalarang: mewah di dalam, semrawut di luar, bukti pembangunan nggak mikirin tata ruang

Stasiun KCIC Padalarang: mewah di dalam, semrawut di luar, bukti pembangunan nggak mikirin tata ruang

26 Juli 2026
Agent Kim: Reactivated, drakor yang tidak ramah buat kaum yatim pasif

Agent Kim: Reactivated, drakor yang tidak ramah buat kaum yatim pasif

23 Juli 2026
Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga Mojok.co yusril fahriza

Lamongan butuh dipimpin Yusril Fahriza agar makin maju dan kalcer, dan saya serius!

20 Juli 2026
Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos Mojok.co

Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos

20 Juli 2026
5 Dosa tukang cukur Madura yang bikin pelanggan risih dan kapok balik lagi Mojok.co

5 Dosa tukang cukur Madura yang bikin pelanggan risih dan kapok balik lagi

23 Juli 2026
Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman jadi besar dan hebat justru karena tidak punya “pusat kota”, kemajuan tersebar merata di segala penjurunya

26 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.