Menjadi pengangguran di negeri ini adalah sebuah dosa besar. Tidak peduli alasan kamu berhenti kerja. Bahkan jika alasanmu adalah mempertahankan harga diri agar tidak digebukin orang. Di mata keluarga, kamu tetaplah pihak yang salah karena memilih “nganggur dan milih-milih kerjaan”.
Menjadi pengangguran dan terusir dari rumah saya rasakan sendiri baru-baru ini. Beberapa bulan lalu, saya bekerja di sebuah pabrik tas. Tolong jangan bayangkan pabrik modern dengan mesin otomatis yang estetik. Di sana, saya harus mengejar target manual 3.000 barang per hari dengan upah Rp80 ribu rupiah saja sehari.
Kerjaan itu paket komplit jadi budak. Saya harus ambil barang sendiri, kejar target di mesin sendiri, lalu menyusun hasilnya sendiri. Seakan-akan, saya merangkap pekerjaan tiga orang. Semua itu hanya demi upah yang kalau dibelikan rokok dan bensin sudah menguap setengahnya.
Awal mula jadi pengangguran
Sebagai manusia biasa yang punya batas lelah, saya meminta bantuan pengawas agar ada yang membantu menyusun barang. Logis, bukan? Biar saya bisa fokus kejar target.
Namun, respons si pengawas justru di luar nalar. Bukannya memberi solusi, dia malah marah-marah. Puncaknya, dia melempar barang hasil kerja saya dan dia juga memukul tangan saya.
Di titik itu, darah saya mendidih. Saya ke sana untuk mencari nafkah, bukan mendaftar jadi samsak tinju gratisan. Pertengkaran pun pecah dan saya jadi pengangguran.
Semua berawal ketika kantor memanggil saya. Eh, manajemen justru meminta saya untuk “memaklumi”. Ya kali maklum, itu kekerasan fisik! Tiga hari saya menahan dongkol, hingga akhirnya saya kelepasan. Kata-kata kasar keluar dan saya dipecat.
Saya keluar dengan kepala tegak. Saya tidak sudi menukar harga diri demi uang Rp80 ribu per hari.
Plot twist kehidupan
Mencari kerja zaman sekarang susahnya minta ampun. Sudah dua bulan saya menjadi pengangguran.
Namun, bukannya saya berdiam diri. Di kamar, saya mencoba peruntungan daring. Mulai dari menulis novel, menulis artikel, dan mencoba segala hal yang bisa menghasilkan uang dari balik laptop.
Namun, di mata orang rumah, kalau kamu belum berangkat pagi pulang petang memakai seragam, kamu adalah beban yang sedang bersantai-santai.
Malam itu, kakak saya membuka obrolan yang puncaknya membuat saya elus dada.
“Balik lagi aja ke pabrik tas yang kemarin,” katanya enteng.
Saya langsung menolak. Ngapain saya mengemis lagi ke tempat yang sudah menjadikan saya pengangguran hanya karena saya membela diri dari kekerasan? Ibu saya sendiri di kampung, saat saya telepon, justru mendukung saya.
Beliau bilang, “Jangan balik ke sana, cari yang lain aja.” Seorang ibu tahu, keselamatan anaknya nomor satu.
Jadi pengangguran, diusir kakak yang sama sekali tidak mau memahami
Kakak saya berbeda. Dia ngotot. Kalimatnya malam itu benar-benar mengiris hati.
“Pulang kampung aja kamu. Kalau di sini orang udah males ngurusin kamu. Pilih-pilih banget kerjaan, kenapa nggak mau balik cuma karena masalah sepele gitu?”
Masalah sepele katanya? Menjadi pengangguran karena membela diri dan tidak salah dia anggap sepele saja. Malam itu, saya hanya bisa terdiam. Mendadak saya merasa asing di rumah sendiri.
Ironisnya lagi, selama tinggal di kontrakan bersamanya, saya membeli makan dengan uang sendiri. Kakak saya tidak pernah memberi uang makan sepeser pun. Bahkan urusan kebersihan kontrakan, dari menyapu sampai membereskan rumah, semuanya saya yang kerjakan. Dia tinggal terima bersih.
Namun, hanya karena status pengangguran dan belum menghasilkan uang lagi, dia mau mengusir saya. Diia bahkan menyuruh saya pulang kampung jika sampai tidak mau mengemis ke pabrik tas itu.
Setelah semua kejadian ini, saya belajar satu hal penting. Kadang, orang terdekat kita malah menjadi orang yang paling tidak peduli dengan penderitaanmu. Mereka nggak peduli kamu jadi korban kantor yang toksik, mentalmu hancur, fisik terancam, dan menjadi pengangguran.
Mereka hanya peduli satu hal. Yang penting kamu punya status “kerja” agar mereka tidak malu punya saudara pengangguran.
Untuk kakak saya, terima kasih ancamannya. Saya mungkin sedang kalah dalam urusan finansial, tapi setidaknya saya tidak kalah dalam menjaga harga diri saya sebagai manusia.
Penulis: Wulan Sari
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Putus Asa usai Ditolak Kerja Ratusan Kali, Sampai Dihina Saudara karena Hanya Jadi Sarjana Nganggur
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













