Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga

Syahrul oleh Syahrul
12 Agustus 2026
A A
Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga Mojok.co

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di mata banyak orang, pekerjaan petugas ukur tanah, baik dari BPN maupun pamong desa, terlihat mudah. Kelihatannya cuma datang ke lokasi, bawa tripod dengan alat mirip kamera (yang belakangan kita tahu namanya Total Station atau receiver GPS), tancap patok, lalu selesai. 

Terlihat keren, adem, dan seperti akademisi yang sedang melakukan penelitian lapangan. namun, realitas di lapangan itu sesungguhnya dari kata nyaman. 

ADVERTISEMENT

Jadi petugas ukur tanah di desa itu bukan sekadar urusan teknik geodesi atau pencatatan angka. Ini adalah profesi ekstrem yang menguji ketahanan fisik, keselamatan nyawa, dan yang paling berat: keselamatan mental.

Kalau masih ada yang bilang kerja sebagai petugas ukur tanah itu karena banyak jalan-jalannya, mungkin mereka belum pernah mengalami kerja di tengah sawah sambil diapit dua kubu keluarga yang masing-masing bawa arit. 

Petugas ukur tanah desa harus siap menghadapi medan ekstrem

Tantangan pertama bagi petugas ukur tanah desa tentu saja faktor alam. Lahan di desa itu bentuknya tidak pernah teratur seperti di brosur perumahan. Petugas harus siap menembus semak belukar yang tingginya melampaui kepala, menyeberangi rawa-rawa tanpa jembatan, hingga memanjat tebing curam demi mencari satu titik koordinat.

Di medan seperti ini, ancamannya nyata seperti patukan ular, sengatan lebah, sampai terperosok ke jurang kecil yang tertutup rimbunnya dedaunan. Belum lagi jika harus mengukur lahan yang oleh warga setempat dianggap “keramat”.

Ada cerita-cerita di mana alat ukur digital bernilai puluhan juta mendadak mati total tanpa alasan teknis saat memasuki area tertentu, atau hasil bidikan sudutnya berubah-ubah sendiri. Dalam kondisi begini, petugas tidak cuma butuh keahlian matematika, tapi juga tata krama kultural yang kuat agar tidak memicu gesekan dengan warga lokal.

Bersinggungan dengan persoalan warisan

Tantangan alam mungkin masih bisa diantisipasi dengan berbagai peralatan dan perlengkapan seperti sepatu boots dan seragam tebal. Namun, tantangan manusia adalah ujian mental yang sesungguhnya.

Baca Juga:

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya 

Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah 

Saat proses pengukuran tanah berlangsung, lokasi kerap berubah menjadi arena laga emosional. Pengukuran tanah biasanya dipicu oleh dua hal: jual beli atau pembagian warisan. Dan, di desa, urusan batas tanah adalah urusan harga diri.

Garis batas yang bergeser sejengkal, hanya seluas 10 sampai 20 sentimeter, bisa memicu adu mulut hebat antartetangga atau antarsaudara kandung. 

Di momen inilah petugas ukur berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan. Mereka bukan hakim, bukan pula penengah konflik, tapi kerap dijadikan tumpuan amarah.

Sering kali, ketika petugas baru menarik meteran atau membidik alat, salah satu pihak langsung berteriak, “Jangan di situ! Itu tanah saya! Dari dulu pohon jati itu pembatasnya!” Sementara pihak sebelah menimpali dengan nada tak kalah tinggi, “Pohon jati itu bapakmu yang tanam di tanahku!”

Di situasi kritis seperti ini, keselamatan nyawa benar-benar dipertaruhkan. Bukan hal aneh jika petugas ukur mendadak dikerumuni warga yang emosi sambil memegang bilah tajam. Salah ucap sedikit saja, suasana bisa makin keruh. Petugas ukur dituntut memiliki kemampuan diplomasi tingkat tinggi, kemampuan menenangkan massa yang bahkan tidak diajarkan di bangku kuliah teknik.

Tekanan birokrasi dan beban target PTSL

Di luar ancaman fisik dan intrik sosial, ada beban administrasi yang menekan dari belakang. Dengan adanya program percepatan seperti PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap), target kuota pemetaan lahan sangat tinggi.

Petugas dituntut bekerja cepat, presisi, dan minim kesalahan data. Satu angka saja salah ketik dalam pendaftaran koordinat, dampaknya bisa berkepanjangan hingga bertahun-tahun ke depan dalam bentuk sengketa sertifikat ganda atau tumpang tindih (overlapping).

Malam hari yang seharusnya dipakai untuk istirahat sering kali dihabiskan untuk mengolah data peta (plotting), memastikan semua garis batas klop, dan menyatukan berkas fisik dengan sistem digital.

Menjadi petugas ukur tanah di desa membutuhkan paket komplit: fisik yang tahan banting, ketelitian akademis, serta kematangan emosi untuk menghadapi dinamika warga. Mereka adalah garda terdepan dalam merapikan tata ruang dan kepastian hukum atas tanah masyarakat.

Jadi, kalau besok-besok kamu melihat petugas ukur sedang berpanas-panasan di pinggir jalan atau di tengah sawah desa membawa tripod dan jalon, beri mereka simpati lebih. Mereka tidak sedang sekadar membidik alat, tapi sedang menyeimbangkan kepastian hukum di atas panasnya emosi warga.

Penulis: Syahrul
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2026 oleh

Tags: Desapetugaspetugas ukur tanahpetugas ukur tanah desatanahtanah desa
Syahrul

Syahrul

Sukses selalu pejuang negara!

ArtikelTerkait

Relasi Orang Kota dan Desa yang Monoton dalam Film Horor Indonesia

Relasi Orang Kota dan Desa yang Monoton dalam Film Horor Indonesia

24 Mei 2022
Kerugian yang Bakal Diderita Mahasiswa kalau Program KKN Ditiadakan terminal mojok.co presma ketua BEM UGM organisasi mahasiswa

KKN Itu Momen Belajar Jadi Warga, Bukan Ajang Sok-sokan Mengubah Sistem Desa

29 Juli 2023
Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan Mojok.co

Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan

5 Juni 2026
Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna Mojok.co

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

18 April 2026
Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi itu hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

24 Juni 2026
pepatah lama, Orang Paling Kaya di Desa Saya Adalah yang Paling Tidak Banyak Gaya

Orang Paling Kaya di Desa Saya Adalah yang Paling Tidak Banyak Gaya

25 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

9 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Iuran wajib Hari Kemerdekaan Indonesia itu penjajahan gaya baru (Unsplash)

Tradisi iuran wajib untuk perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di kampung itu nggak masuk akal karena nggak semua warga punya uang sisa cuma buat panggung hiburan yang bikin berisik

9 Agustus 2026
Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian Mojok.co

Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian

8 Agustus 2026
Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma Mojok.co

Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma

10 Agustus 2026
Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh boso jonegoroan

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh

11 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.