Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Menjadi Sarjana dari Desa dengan Tuntutan Sukses Versi Tetangga

Iim Halimatus Sadiyah oleh Iim Halimatus Sadiyah
15 Oktober 2020
A A
Menjadi Sarjana dari Desa dengan Tuntutan Sukses Versi Tetangga terminal mojok.co

Menjadi Sarjana dari Desa dengan Tuntutan Sukses Versi Tetangga terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Masuk kuliah susah, ingin lulus pun susah, setelah lulus lebih susah lagi. Terlebih jika saat lulus belum memiliki rencana apa pun, ya sudah selamat menikmati, semoga kebingunganmu segera teratasi. Menjadi seorang sarjana adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Apalagi jika kamu adalah sarjana dari desa, saat di lingkungan sekitarmu hanya sedikit yang bisa memiliki kesempatan untuk menikmati bangku perkuliahan. Menjadi lebih istimewa saat orang-orang meremehkan impianmu berkuliah, tetapi kamu justru membuktikan bahwa kamu bisa mewujudkan mimpimu.

Masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Orang-orang akan terus memperhatikanmu. Kamu seolah seleb yang terus menjadi pusat perhatian saat kelulusan semakin mendekatimu. Saat itu tiba, tidak hanya ucapan selamat yang akan kamu dapatkan, kamu juga akan ditodong pertanyaan, “Mau kerja ke mana? Kerja atau kuliah lagi?”

Di desa, melanjutkan kuliah masih menjadi sesuatu hal yang sangat mewah. Apalagi bisa sampai kuliah di perguruan tinggi di luar kota. Kebanyakan hanya anak-anak orang kaya yang dapat berkuliah. Kalau kamu anak dari keluarga ekonomi menengah ke bawah dan bisa kuliah, sudah menjadi prestasi luar biasa di desamu dan tentu tidak lepas dari cibiran juga. Dianggap sok-sokan berkuliah, bukannya membantu ekonomi keluarga malah makin menambah beban. Terlebih kalau kamu perempuan, “Ngapain sekolah tinggi-tinggi? Nanti juga kerjanya di dapur.”

Oleh karena berbagai macam cibiran, akhirnya membuat kamu bertekad kalau kamu akan sukses setelah lulus kuliah. Kamu fokus belajar, belajar, dan belajar agar mendapatkan nilai sempurna. Orang tua, saudara, dan tetangga bangga karena kamu lulus dengan predikat cumlaude. Kamu pulang sebagai sarjana dari desa yang sukses di kota, kemudian mulai mencari pekerjaan.

Satu bulan, dua bulan berlalu. Masuk bulan ketiga, kamu masih menunggu pekerjaan yang tak kunjung kamu dapatkan. Bulan keempat, keluarga sudah mulai berisik, menanyakan pekerjaan. Tetangga kanan, kiri, depan, belakang sudah mulai membicarakanmu. Kamu semakin sedih saat anak tetanggamu ingin berkuliah tapi dilarang karena takut nasibnya sama seperti kamu. Menjadi sarjana dari desa yang membanggakan, tapi masih pengangguran.

Kemudian kamu baru sadar kalau menjadi sarjana tidak menjamin kamu akan cepat mendapatkan pekerjaan impianmu. Kesadaranmu ingin kamu bagikan ke tetangga dan saudara-saudaramu, sayangnya kamu tidak berani menjelaskan itu. Kamu justru sudah pusing duluan mendengar aneka cibiran yang terus tertuju kepadamu. Sialnya lagi, saat ingin masuk instansi di dearahmu, kamu kalah dengan mereka yang masuk melalui jalur orang dalam. Kamu mengutuk diri kenapa tidak ada satupun orang dalam yang kamu kenal.

Sedih kan, kalau mengalami hal semacam itu? Ini baru satu contoh, masih ada beberapa pengalaman yang intinya sama. Ketika kamu menjadi sarjana dari desa, kamu harus siap dengan ekspektasi orang yang akan beranggapan bahwa kamu bisa sukses dengan mudah. Sukses di sini tentu diukur dari segi materi.

Jika kamu tidak bisa sukses, kamu akan dijadikan contoh gagal di lingkungan tempat tinggalmu. Lebih parahnya lagi akan memengaruhi orang tua lainnya untuk melarang anaknya berkuliah. Mungkin ini menjadi salah satu alasan kenapa banyak sarjana dari desa yang tidak mau pulang dan memilih bekerja di perantauan. Sebenarnya mau pulang ke desa atau nggak sih pilihan, ya.

Baca Juga:

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau?

Dulu Wisuda Milik Sarjana, Kini Dirayakan di Setiap Jenjang, dan Itu Tak Masalah, tapi Ada yang Lebih Penting

Beberapa temanku memilih bertahan di perantauan, padahal kerjaan mereka bisa dilakukan dari rumah. Katanya, enak di perantauan karena tidak ada omongan aneh-aneh yang ditujukan kepadanya. Terutama dari tetangga dan saudara.

Ada satu temanku bercerita, salah satu tetangganya yang menjadi sarjana sampai saat ini masih jadi omongan orang-orang sekitar. Katanya, si sarjana ini memilih membuka toko kecil-kecilan di rumah. Meski jelas dia punya usaha sendiri, nyatanya lingkungan sekitar justru mencibirnya. Padahal, untuk mencari uang mau dia sarjana atau bukan, bebas mau dengan cara apapun asalkan halal.

Lagi-lagi standar sukses yang dinilai dari materi menjadi beban tersendiri. Saat kita tidak bisa menentukan sukses versi diri kita sendiri, otomatis kita akan mengikuti standar sukses yang ada di masyarakat. Ketika standar itu sulit kita raih, kita akan menganggap diri kita tidak berharga, kita gagal, dan tidak bisa melakukan apa-apa.

Mau kamu seorang sarjana dari desa atau kota, kamu berhak menentukan sukses versi kamu sendiri. Kamu juga berhak memperjuangkannya. Percayalah, kamu hebat lebih dari yang kamu bayangkan. Tak perlu memenuhi semua ekspektasi orang terhadapmu. Lakukan saja yang membuat kamu bahagia, selagi tidak merugikan orang lain. Syukur-syukur kamu bisa menjadi sarjana dari desa yang bisa berkontribusi untuk lingkungan asalmu. Perihal materi, tentu saja kita butuh, tapi apakah kebahagiaan kita sepenuhnya bergantung pada materi? Aku rasa tidak, nggak tahu kalau kamu.

BACA JUGA Lelah dengan Iklan Penggalangan Dana yang ‘Menjual’ Kesedihan dan tulisan-tulisan Iim Halimatus Sadiyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2020 oleh

Tags: Pengangguransarjana
Iim Halimatus Sadiyah

Iim Halimatus Sadiyah

Si pecinta kebebasan tapi tahu batasan.

ArtikelTerkait

4 Alasan Seseorang Menanyakan Pekerjaan Orang Lain Saat Ngumpul

Arus Pulang Kampung di Tengah Covid-19: Mereka Bukan Pemudik, Mereka Pengungsi

27 Maret 2020
ternak kambing

Susah Cari Kerja Setelah Lulus Kuliah? Jangan Ternak Lele, Ternak Kambing Aja Bosqu!

29 Oktober 2019
Pengangguran Terjadi Bukan Karena Keadaan, Tapi Faktor Gengsi sarjana mahasiswa lowongan kerja terminal mojok.co

Pengangguran Terjadi Bukan karena Keadaan, tapi Faktor Gengsi

6 September 2020
4 Perbedaan Kuliah Jenjang D4 dan S1 yang Perlu Dipahami biar Nggak Salah Pilih

4 Perbedaan Kuliah Jenjang D4 dan S1 yang Perlu Dipahami biar Nggak Salah Pilih

16 Agustus 2025
Susah-susah Kuliah Demi Ijazah Sarjana, Pas Cari Kerja Malah Lebih Laku Ijazah SMA Mojok.co

Menganggap Sarjana Angkuh karena Pilih-pilih Kerjaan Itu Terlalu Dangkal, Cobalah Lihat Dulu Sistem yang Membentuk Mereka

11 Maret 2025
mahasiswa selesai kompre, pengangguran

Buat Mahasiswa yang Baru Selesai Kompre dan Galau Nggak Bisa Ngelamar Kerja, Lakukan ini Aja

28 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

16 Juli 2026
Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

12 Juli 2026
Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

11 Juli 2026
Bakso Malang adalah makanan khas Jawa Timur terbaik no debat (Wikimedia Commons)

Bakso Malang adalah makanan khas Jawa Timur yang paling bisa diterima semua lidah orang Indonesia ketimbang kuliner Jatim lainnya

12 Juli 2026
Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi Mojok.co

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

18 Juli 2026
Pengalaman mencicipi nasi goreng kuah Bang Tommy: kuliner Kediri yang aneh, tapi enak Mojok.co

Pengalaman mencicipi nasi goreng kuah Bang Tommy: kuliner Kediri yang aneh, tapi enak

17 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.