Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bukan Joker, Gangguan Kesehatan Mental Adalah Masalah Kita Bersama

Annatiqo Laduniyah oleh Annatiqo Laduniyah
10 Oktober 2019
A A
gangguan kesehatan mental

gangguan kesehatan mental

Share on FacebookShare on Twitter

Jangan pernah remehkan seseorang dengan gangguan kesehatan mental.

Ini bukan Joker atau tulisan seperti banyak di lini masa saat ini tentang orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Mau kamu merasa seperti seorang Joker dan bahkan ingin menjadi Joker atau bukan, gangguan kesehatan mental itu jelas adanya. Satu hal yang memang perlu ditekankan sekali lagi, penyakit gangguang kesehatan mental bukanlah bahan candaan semata.

Menjadi orang dengan gangguan kesehatan mental yang dikelilingi oleh orang-orang yang berkebutuhan mental juga bukanlah hal yang mudah. Kita harus bisa menguatkan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Kesehatan mental di Indonesia memang cenderung masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat kebanyakan.

Sampai pada tanggal 10 Oktober ini diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day. Maka, dapat dikatakan bahwa gangguan kesehatan mental adalah masalah kita bersama dan butuh kepedulian dari banyak pihak.

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki pengalaman dengan kesehatan mentalnya sendiri. Ada yang bisa menghadapinya dengan mudah, ada pula yang susah payah menyembuhkannya, bahkan tidak sedikit yang kemudian berakhir dengan bunuh diri.

Seperti sebuah cerita, seorang teman yang baru saja lulus kuliah, melamar kerja ke sana ke mari. Selama setahun dia bisa berganti-ganti pekerjaan. Alasannya karena tidak ada yang cocok. Hal itu kemudian membuatnya depresi. Selain karena beban ekonomi keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Hal itu juga membuat dia merasa hidupnya tidak berguna karena selalu berakhir menjadi pengangguran.

Dengan penyebab seperti itu, pernah suatu waktu dia melakukan percobaan bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke kereta. Saya yang sedang melakukan panggilan telepon dengannya  dari tempat jauh saat itu hanya bisa memberinya semangat dan membesarkan hatinya. Meyakinkan padanya bahwa hidupnya masih berharga jika harus dia akhiri saat itu juga.

Dari jauh memang suara kereta begitu memekakkan telinga dan saya tidak tahu benar posisinya saat itu. Bisa jadi dia benar dengan mengatakan sedang ada di tengah jalur atau sebenarnya tidak. Tapi bagaimanapun, mengahadapi kondisi seperti itu bukanlah hal yang mudah. Bahkan data WHO (World Health Organization) sendiri menyatakan bunuh diri terjadi setiap 40 detik sekali di dunia.

Baca Juga:

Jadi Pengangguran karena Membela Diri dari Kekerasan, Berujung Diusir Kakak: Ketika Gaji 80 Ribu Lebih Berharga daripada Harga Diri

6 Sisi Gelap Jurusan Psikologi yang Tidak Masuk Brosur Promosi

Kekhawatiran yang dialami teman saya, adalah kekawatiran yang juga pernah dialami banyak orang. Tapi kembali lagi, tidak semua orang dapat menghadapi kondisi tersebut dengan baik-baik saja.

Orang yang tidak mengerti cenderung akan menganggapi, “halah, cuma gitu doang” atau “lebay kamu tuh.” Lebih parahnya dia kan membanding-bandingkan dirinya dengan orang yang mengalami gangguan kesehatan mental tersebut, “aku pernah lebih parah dari itu, tapi tetep biasa aja dan blablabla”.

Sayangnya, tanggapan tersebut masih banyak dibenarkan dan dianggap biasa-biasa saja. Padahal yang dibutuhkan orang-orang seperti itu bukanlah penghakiman, tapi didengarkan kisah dan keluhannya, dan yang pasti dia butuh kepedulian orang lain.

Lebih jauh lagi, penyakit gangguan kesehatan mental ada berbagai jenisnya. Seperti gangguan kecemasan, gangguan depresi, bipolar, sampai gangguan stres pascatrauma. Namun di masyarakat kita sendiri, fenomena gangguan mental masih terbilang tabu karena cenderung disepelekan. Karena gangguan mental baru benar-benar akan disorot atau diperhatikan jika seseoorang itu sudah mendapat vonis dari psikiater.

Padahal gangguang-gangguan seperti itu ada banyak sekali penyebabnya. Trauma masa lalu, tuntutan pekerjaan, rasa kehilangan dan penolakan, kondisi lingkungan atau masalah-masalah lainnya. Bahkan ada juga seseorang yang merasa hidupnya baik-baik saja dan tercukupi segala sesuatunya, namun tidak dengan kesehatan mentalnya.

Kita memang tidak bisa serta merta menyamaratakan penyebab-penyebab yang dialami setiap orang, karena sudah pasti berbeda. Respon dari tiap individunya pun akan berbeda. Seperti kata sebuah pepatah bijak, “kita bisa saja mengetahui masalah-masalah seseorang, tapi yang kita tidak bisa ketahui adalah seberapa kuat pundaknya memikul masalah tersebut.”

Penghakiman hanya akan memperburuk kondisi seseorang. Namun, jika kita mau sama-sama paham, mungkin semuanya akan baik-baik saja.

Walaupun tidak setiap orang dapat mengenali gejala-gejalanya, sekalipun saat ini kesehatan mental sudah mulai banyak dibahas oleh para influencer sosial media. Tapi sebelum benar-benar parah. Alangkah baiknya jika kita menyadari lebih dini dengan lebih mengenal diri sendiri dan lingkungan sekitar. (*)

BACA JUGA Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti: Joker Bukan Orang Baik, Stop Bermental Korban! atau tulisan Annatiqo Laduniyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Oktober 2019 oleh

Tags: depresigangguan kesehatan mentalhari kesehatan jiwajokerPengangguranWorld Mental Health Day
Annatiqo Laduniyah

Annatiqo Laduniyah

ArtikelTerkait

ariel tatum

Mari Mengenal Borderline Personality Disorder yang Diderita Ariel Tatum

23 Oktober 2019
depresi quarter life crisis menulis hobi obat penyebab cara menyembuhkan mojok.co terminal mojok

Mojok Telah Menyelamatkan Saya dari Depresi

1 April 2020
orang lucu

Orang yang Lucu di Luar Biasanya Hancur di Dalam

28 Juli 2019
gangguan jiwa psikolog Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

Karena ke Psikolog Mahal, Saya Mencoba Maklum pada Mereka yang Tingkahnya ‘Aneh’

11 Juli 2020
sudah lulus mau ngapain

Apa Saya Goblok Karena Belum Tahu Kalau Nanti Sudah Lulus Mau Ngapain?

2 Maret 2020
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2_ Catatan Perjalanan Menerima Diri Sendiri terminal mojok

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2: Catatan Perjalanan Menerima Diri Sendiri

30 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Krisis Identitas Kawasaki Brusky 125: Mencoba Terjun di Pasar Matic, tapi Blunder. Jiplaknya Kebangetan!

Krisis Identitas Kawasaki Brusky 125: Mencoba Terjun di Pasar Matic, tapi Blunder. Jiplaknya Kebangetan!

13 Juni 2026
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

7 Juni 2026
5 Realitas Hidup Semarang yang Tidak Muncul di Brosur Wisata maupun Konten Perjalanan Mojok.co

5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur

13 Juni 2026
Aturan Tidak Tertulis Melewati Jembatan Suramadu Madura, Area Rawan yang Mengancam Keselamatan Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Melewati Jembatan Suramadu Madura, Area Rawan yang Mengancam Keselamatan

12 Juni 2026
Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Saya Kira Orang Bilang Suzuki Burgman Jelek Itu Cuma Lebay, ternyata Memang Sejelek Itu

9 Juni 2026
Cikupa Tangerang, Kota Seribu Industri yang Macetnya Bikin Pekerja Pabrik Dilema: Resign Jadi Gembel atau Bertahan Tapi Gila

Cikupa Tangerang, Kota Seribu Industri yang Macetnya Bikin Pekerja Pabrik Dilema: Resign Jadi Gembel atau Bertahan tapi Gila

11 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.