Pengalaman Saya Bersahabat dengan Orang dengan Kecenderungan Bunuh Diri – Terminal Mojok

Pengalaman Saya Bersahabat dengan Orang dengan Kecenderungan Bunuh Diri

Artikel

Vivi Wasriani

Bunuh diri sudah menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat. Wajar saja dipandang demikian karena dalam agama pun hal tersebut dilarang. Saya tidak akan membahas sisi keagamaannya kali ini. Tapi saya punya pengalaman bersahabat dengan orang yang pernah mencoba bunuh diri.

Saya kenal dengan orang ini tiga tahun yang lalu. Bukan teman akrab, sebatas kenal dan sesekali berbincang karena kebetulan kami punya hobi yang sama. Circle pertemanan kami pun berbeda. Dia dengan teman-temannya. Saya dengan teman-teman saya.

Sebenarnya saya sudah memperhatikan tingkah lakunya sejak pertama kali bertemu. Yah, bagi saya first impression itu penting. Dia terlihat seperti orang yang cukup menarik. Jika kalian melihatnya secara langsung, pasti kalian tidak akan menyangka dia pernah mencoba bunuh diri.

Dia orang yang sikapnya cerah ceria, walau kadang-kadang terlihat suram dan mencoba menarik diri saat dia lelah. Dia bisa beradaptasi dengan mudah. Dia punya banyak pengalaman dan berwawasan luas. Dia dewasa dan mampu memperlakukan orang-orang dengan baik. Tentu saja ini nyata. Saya tidak sedang memuji-muji dia.

Sampai akhirnya, tujuh bulan yang lalu saya melihat titik lemahnya. Saya yakin itu bukan titik lemahnya yang pertama. Itu titik lemahnya yang ke sekian kali. Sebab, saya cukup mengerti bahwa tiap orang punya sisi gelapnya masing-masing.

Tujuh bulan yang lalu dia minta saya menjadi temannya. “Mau jadi teman saya nggak?” katanya. Tolong jangan dilihat dalam konteks romantis karena sama sekali nggak ada yang romantis dari pertanyaan itu. Di malam itu saya melihat titik lemahnya seseorang yang selalu dipandang sebagai orang yang ceria dan mampu melakukan segalanya. Ternyata hidupnya tidak secerah yang terlihat, pikir saya.

Dia menceritakan apa yang terjadi di tiga tahun sebelumnya. Sudah bisa ditebak, dia punya trauma masa lalu. Masalah yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Percobaan bunuh diri yang dia lakukan tiga kali selama itu. Hal-hal yang membuatnya jadi peminum. Yang saya yakini dia melalui itu semua sendirian.

Saya tidak mengerti kenapa percobaan bunuh dirinya bisa gagal. Mungkin dia sempat ragu atau memang belum diizinkan mati saja oleh Yang Maha Kuasa. Berteman dengan seseorang yang sudah mengarungi hidup sejauh itu, saya bingung harus memperlakukannya bagaimana. Nyatanya saya memang hanya anak muda biasa.

Saya sendiri tidak menduga bakal punya teman yang begini. Bukan berarti saya tidak ingin berteman, malah ini merupakan pengalaman berharga bagi saya. Namun, saya harus pandai memperlakukan dia dengan lebih hati-hati ketimbang memperlakukan orang lainnya. Di titik lemahnya, biasanya saya harus menyediakan waktu semalaman untuk mendengarnya berbicara.

Kalau depresinya kambuh, saya harus menyesuaikan topik pembicaraan yang biasanya menjurus pada “metode bunuh diri apalagi yang harus dicoba supaya mati tanpa rasa sakit?” Merepotkan, tapi saya tidak bisa membiarkannya begitu saja. Kondisinya yang seperti itu kadang sangat mengkhawatirkan. Dia akan meminta pendapat saya tentang metode apa yang harus dipakai, mirip penelitian saja. 

Tentu saja saya nggak serius menjawab pertanyaan dia, saya cuma mencoba menemaninya dan menyesuaikan pembicaraan. Saya nggak mau membuat dia merasa teralienasi lebih dari yang sudah dia rasakan selama ini. Di lain waktu, dia bisa tiba-tiba mengatakan, “Kayaknya aku harus coba nyemplung ke mulut gunung berapi. Biar kalau mati nggak merepotkan orang lain.” Sesekali saya takut juga kalau nantinya dia nekat mencoba metode yang dia katakan itu.

Syukurnya dia tahu harus ke mana dia mencari pertolongan. Dia sudah berkonsultasi kepada profesional yang memang khusus menangani hal psikologis. Walaupun tetap saja, terkadang dia drop tiba-tiba. Di saat itu saya harus standby menemaninya.

Berteman dengannya membutuhkan mental yang kuat, dan membuat saya mau tidak mau turut menguatkan mental. Jika tidak demikian, malah saya yang terseret ke dalam kegelapannya. Untuk menjadi teman digelapnya, saya harus tetap terang, supaya kami tidak sama-sama tersesat. Walau saya sendiri yakin saya tidak bisa menyembuhkannya dan saya bukan obat yang cocok untuknya.

Syukurnya keadaannya yang sekarang sudah jauh lebih baik. Tentu saja berkat dirinya sendiri. Pada akhirnya, saya hanya menemaninya dan tidak melakukan apa pun. Dengan pengalaman ini, saya mengerti bahwa orang yang memiliki keinginan bunuh diri hanya perlu didengar dan ditemani. Saya juga mengerti bahwa kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja.

Kalimat ini klise, tapi memang benar adanya. Yang sikapnya paling ceria bisa jadi dunianya lebih gelap dari yang terlihat. Tulisan ini saya buat atas izin orang yang bersangkutan. Ini hanya pengalaman pribadi saya saat berhadapan dengan orang dengan kecenderungan bunuh diri dan tidak bisa dijadikan dasar penanganan dalam menghadapi kondisi psikologis orang lain.

Bunuh diri bukan hal sepele. Jika Anda menyaksikan kerabat, teman, atau diri Anda sendiri memiliki kecenderungan melakukannya, segera konsultasikan masalah ini ke tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater.

BACA JUGA 5 Kelakuan Pembeli yang Bikin Kesal Pemilik Warung Makan dan tulisan Vivi Wasriani lainnya.

Baca Juga:  4 Kekeliruan Terkait Skincare yang Dipercaya Selama Bertahun-tahun

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
12


Komentar

Comments are closed.