Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

10 Bahasa Jawa Suroboyoan yang Paling Unik dan Sulit Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Para Perantau di Surabaya Wajib Tahu!

Achmad Fauzan Syaikhoni oleh Achmad Fauzan Syaikhoni
12 Desember 2023
A A
Bahasa Jawa Surabaya yang Sulit Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia (Unsplash)

Bahasa Jawa Surabaya yang Sulit Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada banyak Bahasa Jawa Surabaya yang unik dan sangat sulit diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Berikut 10 di antaranya.

Di artikel saya sebelumnya tentang deretan kosakata daerah plat AG, menuai banyak perhatian teman-teman mahasiswa dari daerah Malang, Jombang, khususnya Surabaya. Mereka memberi apresiasi lantaran artikel tersebut bisa sedikit meringankan saat berdialog dengan teman mahasiswa dari daerah plat AG.

Namun, selain mengapresiasi, mereka juga turut meminta tolong ke saya agar membuatkan daftar Bahasa Jawa dialek Suroboyoan. Katanya, supaya seimbang, supaya teman mahasiswa dari daerah plat AG yang kuliah di Surabaya, juga turut belajar perbendaharaan kata Suroboyoan. Mereka juga bilang, bahwa masih banyak bahasa Suroboyoan yang unik dan sulit diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Berikut daftarnya:

#1 Bahasa Jawa Surabaya “dapak” yang mempunyai 2 makna

Kata “dapak” biasanya dipakai ketika ada pertanyaan yang harus dikonfirmasi dengan perasaan kecewa. Jika dimaknai ke dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa Suroboyoan satu ini sebenarnya bisa saja dimengerti dalam 2 arti, yakni ‘jangankan’ dan ‘maka dari itu’.

Tapi perlu diingat, menggunakan kata ini jangan sampai rancu. Jangan sampai yang harusnya untuk makna ‘jangankan’, malah konteks dialognya membutuhkan makna ‘maka dari itu’. Supaya tidak sampai keliru, saya beri contoh.

“Yok opo, wingi jare sido dolen karo gebetanmu?” (Gimana, kemarin katanya jadi main sama gebetanmu?)

“Dapak dolen, chat ku ae gak dibales, kok” (Jangankan jadi main, chat saya saja tidak dibalas, kok.)

Baca Juga:

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

Itu contoh penggunaan kata “dapak” dalam makna ‘jangankan’. Lalu untuk penggunaan yang maknanya ‘karena itu, contohnya seperti ini: 

“Yok opo iki rek, mosok wes tanggal tuek, bayaran sek gurung cair.” (Gimana ini, kawan, masak sudah tanggal tua, gajian belum cair.)

“Dapak gak ngunu, padahal kate digae malam mingguan lho” (Maka dari itu, padahal mau dibuat malam mingguan, lho.)

Intinya, kalau penggunaan kata “dapak” dalam arti ‘maka dari itu’, ada tambahan kata “gak ngunu”. Sementara penggunaan kata “dapak” dalam arti ‘jangankan, tidak ada tambahan kata lain.

#2 Mblindis, merujuk ke orang yang hanya memakai celana

Kata dalam Bahasa Jawa Surabaya selanjutnya adalah “mblindis”. Jika ditafsirkan ke dalam Bahasa Indonesia secara sederhana, kata satu ini bisa bermakna ‘tidak pakai baju’. Tapi, kata “mblindis” bukanlah kata yang akan dipakai orang Surabaya ketika mau mandi. Sebab, ‘tidak pakai baju’ di sini menggambarkan orang yang hanya memakai celana saja.

Dalam dialek Suroboyoan, kata “mblindis” akan dipakai ketika seseorang merasa badannya gerah karena suhu yang cukup panas. Makanya kenapa, yang dicopot hanya bajunya saja, bukan sekaligus celananya. Contoh kalimatnya begini: 

“Wadoh, puanas e dino iki, tak mblindis ae lah” (Waduh, panas sekali hari ini, aku copot baju saja, lah.)

#3 Andus, yang maknanya sangat tidak sederhana

Secara sederhana, kata “andus” dalam Bahasa Indonesia artinya adalah ‘sangat bersemangat melakukan sesuatu’. Namun, dalam Bahasa Jawa Surabaya,, maknanya tidak sesederhana itu. Sebab, kata ini cenderung dipakai untuk mendeskripsikan perbandingan kelakuan seseorang yang lain, yang tidak terlalu bersemangat.

Misal si A dalam hal menulis, sangat bersemangat. Semantara itu, dalam hal bersih-bersih, tidak bersemangat. Contoh kalimat untuk kata ini sebagai berikut: 

“Deloken, lek dikongkon nulis ae andus, lek dikongkon resik-resik omah muales.” (Lihatlah, kalau disuruh menulis saja sangat bersemangat, tapi kalau disuruh bersih-bersih rumah sangat malas.)

#4 Gak gedugo, dalam Bahasa Indonesia maknanya sederhana saja 

Istilah Bahasa Jawa Surabaya selanjutnya adalah “gak gedugo”. Kata ini dipakai ketika menegasikan sesuatu yang tidak recommended untuk diperhatikan secara kasar. Atau juga bisa digunakan saat ada seseorang yang kelakuannya menjijikkan ataupun tercela. Contoh kalimatnya begini:

“Aku gak gedugo tuku mangan seng panggone rusuh.” (Aku tidak akan beli makan yang tempatnya kumuh.)

“Aku gak gedugo pacaran karo arek seng gak tau ados.” (Aku tidak mau sama pacaran sama orang yang tidak pernah mandi.)

#5 Nglencer, Bahasa Jawa Surabaya merujuk ke jarak bepergian

Kata Bahasa Jawa Surabaya satu ini jika ditafsirkan ke Bahasa Indonesia secara sederhana, maknanya adalah ‘bepergian jauh’. Tapi, dalam dialek Suroboyoan, maknanya tidak sekadar bepergian jauh saja. Sebab kata ini juga sering digunakan ketika hari raya Idul fitri, tepatnya saat mau bersilaturahmi ke tetangga sekalipun jaraknya dekat rumah.

Contoh kalimatnya seperti ini: 

“Ayo nglencer nang Jogja” (Ayo, bepergian ke Jogja). Atau, “Ayo nglencer nang tonggo-tonggo sekitar omah.” (Ayo silaturahmi ke tetangga dekat rumah).

#6 Cuwawakan, merujuk ke sesuatu yang keterlaluan

Kalau Bahasa Indonesia ada “bercandanya keterlaluan”, Bahasa Jawa Suroboyoan ada “cuwawakan”. Tapi, seperti saya katakan di awal tadi, dialek Suroboyoan maknanya tidak sesempit ketika ditafsirkan ke Bahasa Indonesia secara sederhana. Makna “bercandanya keterlaluan” pada kata “cuwawakan” ini punya dua spesifikasi, yakni ‘bicara dan tertawa yang terlalu keras’.

Contoh kalimatnya begini: “Awakmu kok cuwawakan ngunu seh.” (Kamu kok bercandanya dengan cara bicara dan tertawa terlalu keras, sih.”

#7 Medhag, Bahasa Jawa Surabaya yang artinya itu sebetulnya sederhana

Kata dalam dialek Suroboyoan selanjutnya adalah “medhag”, yang artinya ‘tidak pernah digunakan’. Kata satu ini biasanya digunakan ketika ada barang yang terlalu lama disimpan dan tidak pernah dipakai. Berikut contoh kalimatnya: 

“Iko lho, sepeda ontelmu medhag sampek rausuh.” (Itu lho, sepeda ontelmu tidak pernah digunakan sampai keadaannya kotor sekali.)

#8 Atek, yang menjadi konjungsi dalam dialek Suroboyoan

Kata Suroboyoan satu ini jika ditafsirkan ke Bahasa Indonesia maknanya persis konjungsi seperti ‘dan/dengan’. Hanya, dalam dialek Suroboyoan, makna ‘dan/dengan’ ini cenderung ke arah konjungsi yang melengkapi objek kalimat. Contoh kalimatnya begini: 

“Pak, tuku tahu tek atek endog e pisan ya, Pak” (Pak, beli tahu tek sama telornya sekaligus ya, Pak.)

Tapi, kadang kata “atek” ini juga bermakna ‘usah/perlu’. Dan kata “atek” yang punya makna demikian selalu ada tambahan kata “gak”. Sehingga contoh kalimatnya begini: 

“Lek jik cilik, gak atek pacaran.” (Kalau masih kecil, tidak usah pacaran.)

#9 Laopo, yang maknanya nggak sesederhana itu

Kata dalam dialek Bahasa Jawa Suroboyoan selanjutnya adalah “laopo”. Jika ditafsirkan ke Bahasa Indonesia secara sederhana, maknanya adalah ‘kenapa’. Tapi, dalam dialek Suroboyoan, makna kata tanya ‘kenapa’ pada kata “laopo” ini lebih menekan karena keheranan. Contoh ungkapannya bisa seperti ini: 

“Laopo kon iku.” (Kenapa, sih, kamu sampai begitu.)

#10 Koyok yok-yok o, yang kamu banget

Bahasa Suroboyoan yang terakhir adalah “koyok yok-yok o”. Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia secara sederhana, maknanya ‘kebanyakan gaya’. Cuman, dalam Bahasa Jawa Surabaya, makna ‘kebanyakan gaya’ terasa lebih dalam dan spesifik. Bisa dikatakan, kata “koyok yok-yok o” adalah kebanyakan gaya yang bermuatan sombong dan arogan.

Itulah deretan Bahasa Jawa Suroboyoan yang paling unik dan sulit ditafsirkan ke Bahasa Indonesia. Silakan dibaca lagi sampai paham maksud dari bahasanya. Sebab kalau kalian perantau, beberapa bahasa tadi cukup sering digunakan orang-orang Surabaya dan sekitarnya ketika berdialog. Terlebih lagi, deretan bahasa tersebut cukup sulit bahkan nyaris mustahil jika harus mencari padanan bahasa indonesianya.

Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 8 Kosakata Bahasa Jawa Orang Grobogan yang Nggak Dimengerti Orang Kudus, padahal Wilayahnya Tetanggaan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Desember 2023 oleh

Tags: bahasa indonesiaBahasa JawaBahasa Surabayabahasa suroboyoanSurabaya
Achmad Fauzan Syaikhoni

Achmad Fauzan Syaikhoni

Pemuda setengah matang asal Mojokerto, yang selalu ekstase ingin menulis ketika insomnia. Pemerhati isu kemahasiswaan, lokalitas, dan hal-hal yang berbau cacat logika.

ArtikelTerkait

Kuliah di Jogja Adalah Perjalanan Hidup yang Paling Saya Syukuri surabaya

Jogja (Mungkin) Masih Kota Pelajar, Surabaya Nanti Dulu

8 Maret 2023
Nasi Usus Sawahan, Kuliner Surabaya yang Memanjakan Lidah

Nasi Usus Sawahan, Kuliner Surabaya yang Memanjakan Lidah

2 April 2023
Culture Shock Orang Jogja Saat Merantau ke Surabaya

Culture Shock Orang Jogja Saat Merantau ke Surabaya: Salah Saya Apa kok Dipisuhi Cak Cuk Terus?

5 September 2023
Melewati Lampu Merah Pegirian Surabaya Rasanya seperti Pindah Alam, Keindahan Surabaya Langsung Berubah Jadi Suram

Melewati Lampu Merah Pegirian Surabaya Rasanya seperti Pindah Alam, Keindahan Surabaya Langsung Berubah Jadi Suram

28 Juni 2025
Wisata Kolong Jembatan Suramadu, Potret Warga Surabaya yang Kurang Tempat Healing Mojok.co

Wisata Kolong Jembatan Suramadu, Bukti Warga Surabaya yang Kurang Tempat Healing

18 Desember 2023
5 Kuliner Populer yang Jarang Ditemukan di Surabaya

5 Kuliner Populer yang Jarang Ditemukan di Surabaya

14 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi Mojok.co

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi

21 Maret 2026
Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026
Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah Para Pendatang

Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah para Pendatang

15 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.