Lamongan terasa medioker dan gini-gini aja? Tenang, solusinya adalah Yusril Fahriza. Lho, saya serius ini.
Terus terang, tidak banyak tokoh asal Lamongan yang langsung terlintas di kepala ketika saya mencoba mencari figur inspiratif. Bukan berarti tidak ada, mungkin ada, tapi yang dikenal publik secara luas itu yang agak susah.
Saya sering mencari-cari tokoh inspiratif asal Lamongan sebab betapa muak melihat kondisi Lamongan hari ini yang banjir berbulan-bulan tak kunjung surut di beberapa wilayah, sampai jalan raya yang masih banyak membuat pengendara geleng-geleng. Alhasil, saya sering membatin, kira-kira siapa yang pantas memimpin Lamongan ke depan?
Secara aturan, siapa pun putra daerah punya peluang. Lamongan bukan kerajaan yang harus diwariskan secara turun-temurun dan diperebutkan anak cucunya saja. Kursi bupati terbuka bagi siapa saja yang punya kapasitas, gagasan, dan yang tak kalah penting bisa memenangkan suara masyarakat secara demokratis.
Di tengah kebingungan itu, entah kenapa nama Yusril Fahriza terlintas di kepala saya. Bukan saja karena ia lumayan dikenal luas masyarakat, melainkan juga saya percaya ketenarannya itu akan mampu memenangkannya di pilkada.
Buat yang belum terlalu familiar, Yusril dikenal sebagai stand-up comedian, juga sempat tampil sebagai aktor di film Cek Toko Sebelah dan beberapa proyek lain. Singkatnya, ia figur publik yang cukup dekat dengan kultur anak muda. Dan menurut keyakinan saya, kalau Yusril benar-benar jadi Bupati Lamongan, setidaknya ada empat hal yang kemungkinan besar akan terjadi.
Soto Lamongan akan naik kelas
Yusril Fahriza dikenal cukup sering membuat konten seputar soto. Dan kita tahu, Soto Lamongan bukan sekadar makanan, ia sudah menjadi identitas daerah.
Jika ia duduk di kursi bupati, besar kemungkinan pendekatan terhadap kuliner khas ini tidak lagi konvensional. Bukan cuma festival tahunan yang itu-itu saja, tapi bisa jadi dikemas lebih kreatif secara entertainment.
Bayangkan promosi soto yang bukan sekadar bazar, tapi storytelling dari penjual legendaris, sampai kolaborasi lintas kreator. Alhasil, branding kuliner Lamongan berpotensi naik kelas, tidak hanya kuat di rasa, tapi juga di narasi.
Persela bisa dapat suntikan semangat baru
Satu hal yang cukup melekat dari Yusril Fahriza adalah ia gila bola. Ia fans Manchester United, dan tentu saja lekat dengan Persela Lamongan.
Dalam salah satu podcast, ia juga pernah bercerita bahwa ia sangat mengikuti Persela. Khususnya di era kejayaannya. Iya, saya kira semua warga Lamongan memang punya kedekatan emosional dengan Persela.
Kalau ia memimpin, dukungan ke Persela kemungkinan tidak setengah hati. Bukan tidak mungkin pendekatannya lebih modern: penguatan branding klub, aktivasi fanbase, sampai dukungan untuk mendatangkan pemain top. Bila perlu beli Onana sekalian agar Persela balik lagi ke Liga 1 dengan tempo yang sesingkat-singkatnya.
Wajah kota berpotensi lebih estetik dan kalcer
Saya cukup mengagumi konten blio tentang, “Sore di Kota Orang”. Semacam foto sebuah kota rantauan dengan visual yang cakep. Saya kira selera blio ini cukup mengagumkan. Ia tahu mana yang estetik dan mana yang perlu dibenahi.
Kalau sudut pandang fotografer ini dibawa ke kebijakan tata kota, Lamongan bisa jadi mengalami “glow up” secara visual. Bahkan saya kira tak akan ada lagi pembangunan semacam “Titik nol Lamongan” yang agak maksain itu.
Pun alun-alun akan bisa lebih direnovasi dengan lebih ciamik sehingga nggak lagi terasa agak tanggung, dan lebih ramah dilihat sekaligus nyaman dipakai.
Ruang terbuka hijau dan tongkrongan anak muda Lamongan akan bertambah
Sebagai figur yang dekat dengan kultur anak muda, Yusril Fahriza kemungkinan cukup paham bahwa kebutuhan generasi sekarang bukan cuma sandang, pangan dan papan saja, melainkan juga tempat nongkrong yang nyaman.
Iya, kebutuhan manusia modern hari ini juga menyoal ruang terbuka hijau, taman yang layak untuk sekadar duduk-duduk, atau rehat sejenak dari aktivitas duniawi. Ini merupakan kebutuhan riil yang sering dianggap remeh.
Jika perspektif ini masuk ke kebijakan, Lamongan berpotensi punya lebih banyak ruang publik yang hidup. Tempat di mana anak muda bisa berkegiatan secara gratis dengan fasilitas yang presisi.
Yah, pada akhirnya, ini tentu sekadar angan-angan saya. Sebab, saya dan juga masyarakat Lamongan akan selalu berharap daerahnya ditangani dengan cara yang lebih manusiawi. Dan Yusril Fahriza adalah kandidat yang cocok untuk Lamongan ke depan. Setidaknya ini menurut keyakinan saya.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sebagai Warga Asli Lamongan, Saya Risih ketika Ada yang Menyebut Lamongan Kota
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













