Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Surabaya Barat: kota dalam kota yang bikin warga aslinya jadi tamu

Muhammad Iqbal Fawwazi oleh Muhammad Iqbal Fawwazi
17 Juli 2026
A A
4 Tempat Bersejarah di Surabaya Barat yang Bisa Dikunjungi biar Nggak Melulu ke Mal

4 Tempat Bersejarah di Surabaya Barat yang Bisa Dikunjungi biar Nggak Melulu ke Mal (Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Tahun ini, mungkin jadi pertama kalinya saya sebagai warga Surabaya menginjak Surabaya Barat Bukan sekadar lewat, tetapi sengaja datang karena ada urusan yang tak bisa saya selesaikan di tempat lain. Lima puluh menit setelah keluar dari pusat kota, saya mulai bertanya dalam hati, “Ini masih Surabaya?”

Kekagetan saya lalu berubah menjadi bingung, tatkala memasuki bagian Surabaya Barat yang lebih sederhana, tanpa kerlap-kerlip lampu dan arsitektur yang megah. Saya mengarungi jalan dengan motor Mio tua, melihat sekeliling rumah yang yang masih menyisakan halaman yang cukup luas di depannya, hal yang cukup janggal untuk ditemui di rumah-rumah Surabaya pada umumnya. Dalam hati berkata “ini masih di Surabaya, kan? Iya kan?”

ADVERTISEMENT

Sebagai orang yang cukup bangga dengan identitasnya sebagai warga Surabaya, sebenarnya, saya malu untuk mengakui bahwa ternyata saya belum cukup mengenal kota ini. Terbiasa tinggal di lingkungan yang sudah cukup terpeta dan terprediksi barangkali membuat saya malas untuk menjamahi sisi lain. Membuat gambaran tentang “Surabaya Barat” terasa asing dalam benak saya. Misalnya saja, mendengar nama tempat kongkow seperti Spazio atau Expat saja saya sudah minder.

Begitu rapi

Perlu saya akui, impresi pertama saya memasuki wilayah ini adalah daerah ini cukup rapi dibanding wilayah lainnya yang saya kenal seperti Kenjeran atau Kapasari. Banyak juga tempat-tempat nongkrong asyik dan hidden gems, walaupun tak ramah kantong saya. Andai saya diongkosi oleh kawan pun, saya tetap merasa “nggak belong”. Awkward rasanya ikut nongkrong membawa Mio tahun 2010 ke tempat yang parkiran motornya harus turun 5 lantai , atau jika parkir pinggir jalan harus bersandingan dengan CBR keluaran terbaru.

Untuk hitungan orang yang hidup di bilangan Surabaya Pusat yang cukup padat, Surabaya Barat ini rasanya juga terlalu luas. Jika di pusat saja berkendara barang 5 atau 10 menit sudah terasa jauh, di Barat malah teras seperti cuma geser tempat. Belum akses masuk yang tak seramah masuk ke Surabaya timur, selatan, atau utara. Kadang saya harus menembus PGS dulu atau memutar di Raya Darmo, lalu melintang membelah kota lewat Jalan Mayjend Soengkono.

Dalam kesempatan saya di Surabaya Barat yang terbatas, saya menyempatkan untuk “menyesatkan” diri ketika di sana. Yakni menyusuri jalan tanpa arah dan tujuan, ya sekedar ingin tahu lebih banyak sisi kota yang baru saya jamah ini. Berkali-kali saya sengaja tidak membuka Maps. Kalau ada jalan yang tampak menarik, saya belok. Kalau mentok, ya putar balik.

Saya cuma penasaran, sebenarnya Surabaya Barat itu seperti apa kalau tidak dilihat dari brosur perumahan atau unggahan influencer kuliner.

Dalam perjalanan menyusuri Jalan Mayjend Jonosewojo hingga menembus kompleks Unesa, Saya memperhatikan sesuatu yang aneh. Jalan-jalannya (sejauh ini) mulus, taman-tamannya rapi, papan penunjuknya bersih. Tetapi semakin dalam saya masuk, semakin sedikit melihat orang berjalan kaki. Hampir semua orang keluar masuk mobil. Kalaupun ada motor, pastilah motornya tidak sebapuk motor saya.

Baca Juga:

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

Warung kaki lima yang umumnya sering saya jumpai di Surabaya Pusat pun mentok terkonsentrasi di sekitaran danau Unesa, itu pun buka ketika malam. Yang menjamur justru deretan restoran, kafe, atau lapangan padel yang bentuknya lebih cocok sebagai iklan properti Minggu pagi ketimbang jadi tempat belanja harian.

Perkampungan di Surabaya Barat

Anehnya, perkampungan tetap ada. Hanya saja, keberadaannya terselip di sudut-sudut perumahan, yang perjalanannya harus mengarungi deretan rumah-rumah megah hingga aspal mulus beralih menjadi jalan berlubang. Seolah-olah kampung itu tidak pernah dianggap menjadi bagian dari wajah Surabaya Barat.

Di Surabaya Pusat, mal berdampingan dengan pasar, deretan rumah mahal masih diselipi pedagang lumpia dan es legen. Tapi di Surabaya Barat, saya justru merasa pusat kehidupan berpindah ke gedung bertingkat dengan jurang tanpa dasar sebagai parkiran motor. Atau perumahan berkluster, yang alurnya hampir seperti labirin. Kota terasa makin rapi, tetapi juga segan untuk dimasuki oleh orang yang tidak tinggal didalamnya.

Dalam perjalanan pulang, saya kembali melewati underpass Mayjend Sungkono. Lampu merah, baliho, dan hiruk pikuk kendaraan yang saya kenal sejak kecil kembali menyambut. Rasanya seperti pulang dari luar kota. Bedanya, saya tidak benar-benar meninggalkan Surabaya. Mungkin itu bagian paling unik dari Surabaya Barat. Ia masih berada dalam wilayah administratif yang sama, tapi membuat sebagian warganya merasa sedang bertamu.

Penulis: Muhammad Iqbal Fawwazi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Tempat Bersejarah di Surabaya Barat yang Bisa Dikunjungi biar Nggak Melulu ke Mal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2026 oleh

Tags: Kafe di Surabaya Baratkuliner di Surabaya BaratSurabayaSurabaya barat
Muhammad Iqbal Fawwazi

Muhammad Iqbal Fawwazi

Seorang perantau asal Surabaya yang membawa semangat ke tanah orang. Bukan sekadar berpindah tempat, ia adalah seorang pembelajar yang haus akan pengetahuan

ArtikelTerkait

Jalan Dr Ir H Soekarno (Jalan MERR), Jalan Terpanjang di Surabaya yang Cocok untuk Merayakan Kesedihan

Jalan Dr Ir H Soekarno (Jalan MERR), Jalan Terpanjang di Surabaya yang Cocok untuk Merayakan Kesedihan

22 Januari 2024
8 Aturan Tak Tertulis Tinggal Surabaya (Unsplash)

8 Aturan Tak Tertulis di Surabaya yang Wajib Kalian Tahu Sebelum Datang ke Sana

1 Desember 2025
5 Dosa Wali Kota Surabaya yang Tercatat dalam Ingatan Warga

5 Dosa Wali Kota Surabaya yang Tercatat dalam Ingatan Warga

14 September 2024
Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi Mojok.co

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi

24 Februari 2026
Sidoarjo Menyimpan Peluang Bisnis yang Menggiurkan (Unsplash)

Sidoarjo Menyimpan Peluang Bisnis yang Menggiurkan

12 Maret 2023
3 Jenis Kuliner Surabaya yang Selalu Berpasangan, Jomblo Auto Baper! terminal mojok

3 Jenis Kuliner Surabaya yang Selalu Berpasangan, Jomblo Dilarang Baper!

17 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar Terminal

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

21 Agustus 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Modal 20 ribu rupiah, kamu bisa makan tiga kali sehari di Ngaglik, Jogjakarta

26 Agustus 2026
5 kesalahan penjual es dawet yang sulit dimaafkan, bikin rasanya kurang enak Mojok.co

5 kesalahan penjual es dawet yang sulit dimaafkan, bikin rasanya kurang enak

27 Agustus 2026
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

21 Agustus 2026
Gara-gara industri, matcha kini jadi overrated (Unsplash)

Matcha layak dicintai, hanya saja industri membuatnya jadi overrated

23 Agustus 2026
Trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen (Unsplash)

Yang perlu kamu ketahui tentang trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen

26 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.