Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri

Wicaksana Rismawardi oleh Wicaksana Rismawardi
18 Juli 2026
A A
Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri Mojok.co

Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu kebiasaan orang Jombang yang menurut saya cukup unik. Ketika ditanya berasal dari mana, sering kali mereka menjawab “Jombang” dengan ragu-ragu. 

Lalu, tanpa diminta, mereka langsung muncul kalimat lanjutan, “Dekat dengan Surabaya” atau “kota asalnya Gus Dur“. Kalimat tersebut ditambahkan karena orang Jombang tahu lawan bicaranya biasanya kebingungan kalau disebutkan jombang saja. 

Kebiasaan ini menurut saya unik. Kalau dipikir-pikir lagi, saya rasanya belum pernah mendengar orang Malang buru-buru menjelaskan kotanya dekat dengan Surabaya. Orang Kediri juga tidak merasa perlu menambahkan, “rokok Gudang Garam.” Mereka cukup percaya diri menyebutkan nama kota asalnya. 

Sementara itu, orang Jombang justru sering merasa kotanya hanya dikenal karena satu atau dua hal. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, Jombang punya banyak alasan untuk dibanggakan. Mungkin ada beberapa alasan yang mendasari fenomena ini.

Terlalu dekat dengan kota-kota yang lebih populer

Mungkin salah satu penyebabnya adalah posisi geografis dari Kabupaten Jombang itu sendiri. Di Jawa Timur ada Surabaya yang menjadi pusat bisnis dan pemerintahan Jawa Timur. Ada Malang yang identik dengan kota wisata dan pendidikan. Ada Kediri yang semakin berkembang dengan berbagai proyek infrastruktur. Belum lagi Mojokerto yang sering muncul dalam cerita sejarah Kerajaan Majapahit.

Di tengah kota-kota itu, Jombang seperti anak tengah dalam sebuah keluarga. Tidak terlalu diperhatikan, tetapi selalu ada ketika dibutuhkan. Akibatnya, orang luar sering hanya mengenal Jombang sebagai kota yang “dilewati”. Entah ketika melintas di jalan nasional, keluar-masuk tol, atau berganti kereta menuju kota lain.

Padahal, kota yang hanya dianggap sebagai tempat lewat sering kali menyimpan cerita yang justru menarik jika kita mau berhenti sejenak.

Terlalu rendah hati atau memang kurang pandai promosi?

Kalau diperhatikan, orang Jombang memang tidak terlalu suka membesar-besarkan kotanya. Lihat saja kulinernya. Banyak warung legendaris yang antreannya tidak kalah panjang dibanding tempat makan viral di kota besar seperti Lodeh Mbok Semah atau Rawon Rosobo. 

Baca Juga:

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan

Pemiliknya lebih sibuk melayani pelanggan daripada membuat konten di media sosial. Begitu juga dengan tempat-tempat yang sebenarnya layak dikunjungi. Banyak yang berkembang dari cerita mulut ke mulut, bukan dari promosi besar-besaran.

Mungkin ini juga yang membuat Jombang terasa berbeda. Kota ini tidak berusaha keras menarik perhatian. Ia berjalan dengan ritmenya sendiri.

Julukan kota santri sering menutupi wajah Jombang yang lain

Saya bangga Jombang dikenal sebagai Kota Santri. Julukan itu lahir dari sejarah panjang dan keberadaan pesantren-pesantren besar yang telah melahirkan banyak tokoh nasional. Sebut saja pendiri NU KH Hasyim Asyari & KH Wahab Hasbullah. 

Ada juga mantan presiden Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid yang sering kita sapa dengan panggilan Gus Dur. Namun, kadang-kadang julukan itu justru membuat orang berhenti mengenal Jombang lebih jauh.

Padahal, Jombang juga memiliki kekayaan kuliner yang khas seperti Nasi Lodeh Kikil, jalur transportasi yang strategis, kawasan pedesaan yang masih asri, hingga masyarakat yang terkenal ramah, toleran, dan egaliter. Bahkan, bagi pencinta sejarah, banyak sudut kota ini yang menyimpan cerita penting tentang perjalanan bangsa.

Sayangnya, semua itu sering kalah saing oleh satu label yang sudah telanjur melekat.

Orang Jombang baru merasa bangga setelah merantau

Ini yang paling saya rasakan. Ketika masih tinggal di Jombang, saya menganggap semuanya biasa saja. Warung langganan yang memang sudah ada sejak dulu. Jalan yang dipenuhi truk tebu dan truk pasir terasa menyebalkan. Suasana kota yang tenang kadang saya anggap membosankan. Namun, setelah merantau maupun bepergian ke berbagai daerah, saya justru mulai menyadari bahwa ada banyak hal yang saya rindukan dari Jombang.

Saya rindu sarapan di warung sederhana yang rasanya konsisten selama bertahun-tahun. Rindu pula melihat hamparan sawah yang masih mudah ditemui hanya beberapa menit dari pusat kota. Saya juga rindu ritme hidup yang tidak terburu-buru. Jombang adalah gambaran slow living versi saya yang sesungguhnya.

Ternyata, yang terasa biasa ketika dimiliki sering kali berubah menjadi istimewa ketika ditinggalkan.

Mungkin sudah saatnya kita lebih sering menceritakan tentang Jombang

Kebanggaan terhadap sebuah kota tidak selalu harus diwujudkan lewat festival besar atau slogan yang unik. Kadang, cukup dengan menceritakan pengalaman makan di warung favorit, mengajak teman mampir ke tempat yang jarang diketahui wisatawan, atau menulis kisah-kisah sederhana tentang kehidupan sehari-hari di Jombang.

Karena sebuah kota tidak akan dikenal hanya dari papan penunjuk jalan atau gerbang tol. Kota akan hidup lewat cerita orang-orang yang pernah tinggal, tumbuh, dan jatuh cinta padanya.

Dan, saya rasa, Jombang masih menyimpan terlalu banyak cerita untuk terus dianggap sekadar kota persinggahan.

Penulis: Wicaksana Rismawardi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Melihat Sisi Lain Jombang yang Nggak Diketahui Orang Banyak, Saya Tulis supaya Nggak Ada Lagi yang Salah Kaprah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2026 oleh

Tags: Jombangkota santriwarga jombangwarlok
Wicaksana Rismawardi

Wicaksana Rismawardi

Suka One Piece, tapi nggak mau dipanggil wibu.

ArtikelTerkait

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort Mojok.co

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort

6 Mei 2026
Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026
4 Rekomendasi Olahan Durian Khas Jombang: Cara Lain Menikmati Endesnya Durian

4 Rekomendasi Olahan Durian Khas Jombang: Cara Lain Menikmati Endesnya Durian

22 Mei 2022
Lupakan Sejenak Mas Bechi, Ini 6 Fakta tentang Kota Jombang yang Perlu Kalian Tahu

Lupakan Sejenak Mas Bechi, Ini 6 Fakta tentang Kota Jombang yang Perlu Kalian Tahu

16 Juli 2022
Sate Kampret, Kuliner Malam Legendaris Jombang yang Namanya Bikin Salah Paham

Sate Kampret, Kuliner Malam Legendaris Jombang yang Namanya Bikin Salah Paham

12 Juli 2023
4 Pertanyaan yang Sebaiknya Jangan Ditanyakan ke Orang Jombang, Bikin Kesal! Mojok.co

4 Pertanyaan yang Sebaiknya Jangan Ditanyakan ke Orang Jombang, Bikin Kesal!

2 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

7 Agustus 2026
Kontroversi [arfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

Kontroversi parfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

4 Agustus 2026
Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering Mojok

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering rumahan

2 Agustus 2026
Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan Mojok.co

Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan

3 Agustus 2026
Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.