Beberapa waktu lalu saya pernah menulis artikel berjudul “Alasan Wonogiri Masih dan Akan Selalu Jadi Ibu Kota Bakso Indonesia, Malang Minggir Dulu!“ Responsnya di luar dugaan. Kolom komentar ramai, bahkan tidak sedikit yang menyanggah pendapat saya. Ada yang bilang Wonogiri lebih identik dengan mi ayam, ada pula yang menilai Malang jauh lebih pantas menyandang predikat kota bakso.
Saya tidak ingin mengulang perdebatan itu. Sebab, belakangan muncul kabar yang menurut saya jauh lebih menarik daripada sekadar saling beradu pendapat di kolom komentar.
Wonogiri resmi mendeklarasikan diri sebagai Ibu Kota Mi Ayam Bakso. Deklarasi itu tidak berhenti pada seremoni belaka. Ada festival, ribuan porsi mi ayam bakso dibagikan kepada masyarakat, hingga upaya menjadikan kuliner sebagai bagian dari identitas daerah.
Yang membuat saya tertarik bukan semata-mata nama deklarasinya. Saya justru melihat keberanian Wonogiri mengukuhkan sesuatu yang selama ini memang sudah hidup di tengah masyarakat. Selama bertahun-tahun, para perantau Wonogiri dikenal membuka usaha mi ayam dan bakso di berbagai kota. Kini, pemerintah daerah mencoba merawat identitas itu agar tidak berhenti sebagai cerita dari mulut ke mulut.
Pada titik ini, saya merasa Malang harusnya mulai berpikir ulang atas strateginya dan melihat keberanian Pemerintah Wonogiri dalam bertindak.
Maksud saya, siapa sih yang tak kenal bakso Malang? Hampir seluruh kota di negara ini ada bakso Malang. Nama besarnya terbentuk sejak lama, imajinasi atas makanannya terbentuk sejak dahulu kala. Tapi reputasi tak selalu membawamu ke titik yang begitu jauh.
Wonogiri melakukan sesuatu, sedangkan Malang, tidak
Di tengah persaingan antardaerah yang semakin gencar membangun identitas melalui festival, agenda budaya, hingga promosi wisata, saya kira membiarkan reputasi bekerja sendiri itu sulit diterima
Wonogiri menunjukkan bahwa identitas kuliner perlu dianggap serius. Mereka memilih mengukuhkannya lewat langkah yang nyata. Mau setuju atau tidak dengan deklarasi itu, setidaknya Wonogiri berhasil membuat orang kembali membicarakan daerahnya.
Sekarang, bandingkan dengan Malang.
Nama bakso Malang memang sudah sangat kuat. Tapi, jelas, kekuatan tersebut muncul dari masyarakat yang menyebarkannya ke penjuru negara. Langkah konkretnya sih, belum ada.
Bukan berarti Malang harus ikut-ikutan membuat deklarasi hanya karena Wonogiri melakukannya. Akan tetapi, rasanya sayang jika daerah yang begitu identik dengan bakso justru terlihat terlalu nyaman mengandalkan reputasi yang sudah ada.
Dalam dunia pemasaran, nama besar saja sering kali tidak cukup. Banyak merek yang sudah terkenal tetap beriklan setiap hari. Mereka sadar bahwa dikenal masyarakat hari ini bukan jaminan akan terus diingat pada masa depan.
Belajarlah dari Kota Gaplek
Festival kuliner, penguatan identitas, hingga agenda tahunan bukan sekadar kegiatan seremonial. Semua itu bisa menjadi cara memperkenalkan budaya lokal, menggerakkan UMKM, menarik wisatawan, sekaligus memperkuat citra daerah.
Oleh karena itu, saya justru melihat deklarasi Wonogiri sebagai pengingat bagi daerah lain. Bukan hanya Malang, tetapi juga kota-kota yang selama ini memiliki kuliner ikonik. Identitas yang dibiarkan berjalan sendiri lama-kelamaan bisa kehilangan momentum, sementara daerah lain terus bergerak membangun citranya.
Saya tetap mengakui bahwa bakso Malang memiliki tempat yang sangat kuat di hati masyarakat Indonesia. Julukan itu lahir bukan tanpa alasan. Namun, justru karena namanya sudah sebesar itu, saya berharap Malang tidak hanya puas menjadi daerah yang “semua orang juga sudah tahu”.
Sebab, sejarah menunjukkan bahwa dikenal lebih dulu tidak selalu berarti akan terus menjadi yang paling diingat.
Wonogiri sudah mengambil langkah dengan mengukuhkan identitas kulinernya. Kini pertanyaannya tinggal satu: apakah Malang akan ikut menunjukkan keseriusannya menjaga nama besar kulinernya, atau tetap yakin reputasi lama sudah cukup bekerja sendiri dan membiarkan Wonogiri bertakhta lebih lama?
Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













