Saya punya memori yang menyenangkan soal Alun-alun Klaten. Saat masih kecil, ayah saya kerap mengajak anak-anaknya membeli jagung bakar dan naik kereta kelinci di sana. Maklum, tempat tinggal kami hanya berjarak satu kilometer saja dari Alun-alun Klaten.
Di awal 2000-an Alun-alun Klaten memang salah satu ruang publik paling populer dan diminati warga lokal (warlok). Di sana pengunjung bisa menemukan hiburan murah meriah seperti pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, mainan, hingga pernak-pernik fesyen.
Saking kuatnya kenangan itu, kini tiap kali melewati Alun-alun Klaten, rasa-rasanya saya bisa mencium kembali aroma wedang ronde hingga hangatnya uap jagung rebus. Segalanya masih terasa begitu familiar, termasuk saat melihat jogging track yang dulunya penuh tenda hik (angkringan) dan tempat duduk lesehan.
Tampilan dan suasana Alun-alun Klaten sekarang mungkin begitu berbeda dengan masa kecil saya. Namun, satu yang tetap, alun-alun ini tidak pernah berhenti menjadi pusat kehidupan warlok.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana kawasan ini hadir dan tumbuh sebagai ruang bertemunya orang-orang dari berbagai macam kalangan. Tidak peduli berapa usianya, apa pekerjaannya dan bagaimana status sosialnya.
Alun-alun Klaten berubah ruang terbuka hijau yang nyaman dan aman
Belasan tahun berlalu. Alun-alun Klaten sekarang banyak berubah dibanding yang ada dalam ingatan saya. Beberapa warlok mungkin sedih karena tidak ada lagi pedagang kaki lima di sana. Namun, sebagai gantinya, alun-alun jadi lebih rapi, bersih, dan nyaman.

Pemerintah daerah setempat menyulap kawasan ini jadi ruang terbuka hijau yang bermanfaat bagi masyarakat. Alun-alun Klaten jadi zona publik yang steril dan aman. Tidak ada asap rokok yang mengganggu, tidak ada orang-orang aneh yang berpotensi melakukan catcalling, juga tidak ada juga pengamen yang tiba-tiba datang menghampiri.
Saat berkunjung ke alun-alun di hari Selasa (19/5) kemarin misal, saya merasakan suasana yang sangat syahdu. Beberapa remaja tampak duduk santai sambil mengobrol di bawah pohon. Ada sepasang orang tua menunggu anaknya bermain di playground. Terlihat pula sekelompok anak laki-laki bermain bola di lapangan. Semuanya tampak begitu bahagia dengan aktivitas mereka masing-masing.
Sepanjang mata memandang, saya tidak lagi menemukan arus kendaraan yang semrawut dan melawan arah. Rambu-rambu lalu lintas terpasang dengan jelas. Para petugas parkir juga sangat cekatan merapikan motor-motor yang datang.
Saya senang melihat perubahan ini. Seluruh pihak, mulai dari petugas kebersihan hingga pengunjung, kompak menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan. Fasilitas alun-alun pun cukup lengkap. Ada tempat sampah (organik, non-organik, B3), toilet umum, tempat duduk santai, hingga taman bermain anak.
Tidak heran kalau sekarang ini semakin banyak orang memanfaatkan Alun-alun Klaten untuk mencari udara bersih, berolahraga, atau sekadar melepas penat di tengah-tengah hidup yang melelahkan. Saya salah satunya, di akhir pekan, sesekali saya mampir untuk cari udara segar atau jogging.

Terus berbenah jadi lebih baik
Sulit dimungkiri, sebagai warlok yang terkadang saya rindu hiburan dan pedagang kaki lima yang murah meriah. Namun, saya rasa, upaya Pemda Klaten dalam menata dan mempercantik wajah alun-alun juga perlu diapresiasi. Terlebih, ruang terbuka ini jadi lebih terasa fungsi dan manfaatnya ketika pedagang kaki lima direlokasi ke tempat yang baru.
Saya pun lega mengetahui bahwa para pedagang Alun-alun Klaten ditempatkan di Jalan Bhali yang tidak kalah strategis dan ramai pembeli. Artinya, mereka tetap bisa berjualan, dan pemda bisa terus fokus meningkatkan fasilitas di alun-alun.
Alun-alun Klaten mungkin banyak berubah dari waktu saya masih bocah. Namun, satu yang tetap, alun-alun ini masih saja ikonik dan jadi bagian hidup warlok Klaten yang sulit dipisahkan. Ke depan, ruang publik satu ini mungkin akan berubah wajah lagi. Saya harap perubahannya ke arah yang lebih baik dan mampu menjawab kebutuhan warlok.
Penulis: Farahiah Almas Madarina
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













