Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Naufalul Ihya Ulumuddin oleh Naufalul Ihya Ulumuddin
31 Juli 2026
A A
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kemarin banget, saya datang ke acara seminar literasi yang diadakan kampus swasta di Bangkalan. Sebagai pegiat literasi kecil-kecilan, saya datang dengan niat membangun relasi dengan para pegiat literasi lokal lainnya. Kebetulan pembicaranya dari duta baca nasional, Gol A Gong dan pemateri dari founder komunitas lokal (katanya).

Tapi, sepanjang acara saya justru kecewa. Lalu saya sadar kalau Bangkalan sebenarnya nggak butuh seminar literasi, apalagi jargon-jargon ndakik-ndakik nggak penting. Bangkalan lebih butuh gerakan nyata dan bukti soal literasi dari para pegiatnya.

Seminar literasi hanya berisi ajakan dan jargon kosong

Sepanjang saya ikut acara seminar literasi di Bangkalan itu, nyaris nggak pernah ada keseriusan tindak lanjut tentang literasi yang dibahas. Selalu saja dikatakan literasi itu penting. Kalau berliterasi bisa sukses mengguncang dunia. Klise banget. Selesai seminar ditutup, literasi kian dilupakan. Seakan-akan, diksinya hanya mewah di pamflet, banner dan mimbar seminar saja.

Selain itu, format seminar bikin literasi terasi memuakkan. Suasananya terlalu formal. Bahasa yang digunakan terlalu kaku dan menjemukan. Parahnya lagi, acara seminar justru menyajikan lebih banyak sambutan pejabat kampus daripada pembahasan atau bahkan aksi nyata literasi itu sendiri.

Lebih dari itu, dengan dalih literasi, seminar sering kali sepaket dengan jualan buku dan lomba berbayar berkedok gratis. Ajakan ikut nulis, yang tulisannya lolos terbit, wajib beli bukunya. Lalu semuanya menulis dan semuanya diloloskan tanpa kurasi yang jelas. Itu semua, berawal dari seminar.

Isi seminar kadang hanya menggaungkan jargon

Pada seminar yang saya ikuti kemarin, sang pemateri lokal justru lebih banyak menyelipkan jargon. Bahkan dengan bangga bilang kalau literasi Bangkalan itu hebat. Kebohongan yang dikemas dengan indah. Faktanya, literasi di Bangkalan ambyar. Akui saja.

Perpustakaan sepi. Siswa dan mahasiswa enggan beli buku. Komunitas literasi lokal juga sepi dan nggak diminati. Membaca, menulis, dan berdiskusi berbasis bacaan masih langka di Kabupaten ini.

Buktinya, dalam seminar saja, pemateri lokal dari Bangkalan juga belum jelas pernah benar-benar membaca atau menulis karya seperti apa? Faktornya memang nggak selalu karena inidividunya. Faktor sistem juga berpengaruh, misalnya harga buku yang masih tergolong mahal-mahal serta nggak ada keseriusan struktural dalam bentuk kebijakan yang benar-benar berusaha ingin menghidupkan geliat literasi di Bangkalan.

Baca Juga:

Pedoman Kuliner Warung Bebek Madura, Saya Tuliskan karena Banyak yang Tertipu Tampilan Luarnya

Desa Jangkar Bangkalan: desa paling anomali di Madura saat musim kemarau, tapi bikin desa lain cemburu

Poinnya adalah, berhenti memberi ilusi dengan baluran jargon kosong. Sampaikan saja realitas, lalu fokus pada gerakan nyata.

Lebih dari itu, alih-alih sebagai narasumber yang kredibel memberi wawasan tentang literasi, pemateri justru berbicara bak seorang motivator tanpa bukti nyata. Kalimatnya seperti lirik jadul yang diulang-ulang puluhan tahun, “literasi itu amat sangat penting”, “literasi itu bikin kita was wes weos joss”.

ADVERTISEMENT

Bacot.

Bangkalan lebih butuh gerakan nyata dan bukti

Daripada seminar nggak jelas dengan pemateri yang serba jargon ala motivator, Bangkalan lebih butuh gerakan akar rumput literasi yang nyata dan memberikan bukti. Gerakan nyata dalam arti ada aksi solidaritas kumpul bareng rutin dan membaca, bukan hanya bacot satu arah seperti seminar. Geliat semacam ini sudah banyak di Madura bagian lain seperti Sumenep dan Pamekasan. Bahkan di Sumenep sudah ada Sumenep Book Party. Komunitas Nemor juga hidup berkolaborasi dengan banyak pegiat ilmu di sana. Bangkalan? Masih sibuk seminar terus. Istilah founder Instagram literasi tanpa gerakan nyata justru kerap dijadikan portofolio ngisi seminar-seminar literasi. Sampah!

Bangkalan lebih butuh diberi banyak bukti kalau kita sebagai pegiat literasi, utamanya yang suka ngisi seminar-seminar itu, dengan karya. Buktikan kalau kita juga seorang pembaca buku dan penulis yang tekun. Coba sesekali ceritakan buku yang sedang dibaca di media sosial atau di komunitas lokalnya. Bagikan tulisan yang baru terbit, di media online dengan kurasi, media lokal koran, atau bahkan media nasional.

Kalau tulisannya dalam bentuk buku, beri bukti kalau sedang usaha atau malah bisa terbit di penerbit yang punya kurasi, bukan terbit hanya karena bayar. Itu literasi berbasis gerakan nyata dan bukti. Bangkalan lebih butuh itu daripada seminar literasi yang pembahasannya sudah terlalu basi untuk diulang-ulang terus.

Kalau literasinya hanya dalam seminar dan jargon klise, literasi Bangkalan ya akan begini-begini terus

Eka Kurniawan di Podcast Malaka terbaru bilang, kalau penulisnya (boleh jadi pegiat literasi juga) hanya bergaul di situ-situ saja, ya diskusi dan seminarnya boleh jadi justru hanya melakukan pengulangan kesalahan yang sama.

Dalam kasus Bangkalan, kalau penulisnya masih di level terbit buku berbayar dan sudah ngaku penulis dan berlagak mengisi seminar literasi, ayolah. Itu belum cukup buat dibagikan di seminar yang lebih banyak sambutannya daripada isinya. Untuk literasi, kita bergerak dulu saja bersama tanpa saling menggurui dan berlagak si paling literat di mimbar seminar.

Kita, para pegiat literasi Bangkalan, fokus bergerak bersama dulu saja sebagai pembelajar di komunitas-komunitas lokal yang ada. Kalau belum ada, mari bentuk dan ramaikan. Sambil lalu, kita terus membaca, berbagi bacaan, dan mencoba terus menulis berkualitas dengan ukuran objektif kurasi orang lain yang lebih kredibel. Bisa melalui koran, tulisan media online, dan bahkan buku melalui penerbit mayor atau indie yang kredibel. Lupakan seminar, mari mulai benar-benar membaca, menulis, dan berliterasi.

Ini juga pengingat bagi saya, lho ya! Pengingat buat kita semua yang peduli pada literasi Bangkalan.

ADVERTISEMENT

Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Asumsi Bangkalan Madura Nggak Butuh Gramedia itu Keliru, Kabupaten ini Tetap Butuh, kok!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2026 oleh

Tags: Bangkalandiskusi buku di bangkalanliterasi di bangkalan
Naufalul Ihya Ulumuddin

Naufalul Ihya Ulumuddin

Pegiat sosiologi asal Madura. Tertarik isu pendidikan, kebijakan sosial, dan keluarga. Cita-cita tertinggi jadi anak yang berbakti dan suami ideal untuk istri.

ArtikelTerkait

4 Calon Mahasiswa yang Cocok Lanjut Kuliah di Universitas Trunojoyo Madura (UTM)

4 Calon Mahasiswa yang Cocok Lanjut Kuliah di Universitas Trunojoyo Madura (UTM)

2 Juni 2024
Alasan Belanja di Matahari Mall Tak Cocok bagi Warga Bangkalan Madura

Alasan Belanja di Matahari Mall Tak Cocok bagi Warga Bangkalan Madura

12 November 2025
5 Hal yang Akan Terjadi kalau Bangkalan Madura Punya Bioskop, Salah Satunya Nggak Perlu Menyeberang Suramadu untuk Nonton Film Terbaru

5 Hal yang Akan Terjadi kalau Bangkalan Madura Punya Bioskop, Salah Satunya Nggak Perlu Menyeberang Suramadu untuk Nonton Film Terbaru

10 April 2025
Mie Gacoan Nggak Usah Buka Cabang di Bangkalan Madura, Sudah Ada Mie NteHOT yang Siap Bikin Kalian Gulung Tikar! mie endess

Mie Gacoan Nggak Usah Buka Cabang di Bangkalan Madura, Sudah Ada Mie NteHOT yang Siap Bikin Kalian Gulung Tikar!

6 April 2024
Ilustrasi Madura Ditinggal Jawa Timur, Saatnya Jadi Provinsi Sendiri (Unsplash)

Madura Tertinggal, ketika Jawa Timur Maju Pesat Menjadi Alasan Kuat Madura Justru Harus Jadi Provinsi Sendiri

5 Januari 2024
Potret Terbaru Bukit Jaddih Bangkalan Madura: Tak Seindah Foto di Instagram

Potret Terbaru Bukit Jaddih Bangkalan Madura: Tak Seindah Foto di Instagram

21 Maret 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

16 Agustus 2026
Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga Mojok.co

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga

20 Agustus 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Ganti pemimpin Surabaya ternyata nggak makin berbenah: lahan parkir selalu saja jadi masalah pelik meski berkali-kali dikritik

15 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

19 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.