Sebagai orang Semarang yang hobi kulineran ke berbagai daerah, saya terkesan akan keluwesan lidah saya menerima rasa. Keseharian saya di Semarang lebih akrab dengan rasa manis dan gurih, tapi lidah ini mampu menoleransi banyak rasa lain.
Akan tetapi, kepercayaan diri itu runtuh seketika saat saya nekat menjajal kuliner Tegal, khususnya olahan kambingnya.
Sebenarnya, saya sudah sering dengar selentingan soal betapa sangarnya santapan dari Tegal. Saya pun bukan orang yang penakut soal makanan. Wujud makanan ekstrem seperti walang goreng khas Gunungkidul sampai balut dari Filipina pun pernah saya hadapi.
Sialnya, tantangan kuliner Tegal ternyata punya level yang jauh lebih garang dari yang saya bayangkan.
Sate daging anak kambing ternyata jadi menu sarapan di Tegal
Di Semarang, rutinitas sarapan biasanya cukup ditemani seporsi nasi ayam atau soto. Menu sarapan ini juga kerap saya temukan di daerah-daerah lain.
Akan tetapi, begitu menginjakkan kaki di Tegal, logika sarapan saya jadi jungkir balik. Belum juga tengah hari, mata saya dibuat terbelalak melihat deretan mobil yang sudah memadati parkiran sebuah restoran sate kambing.
Ini bukan halusinasi. Di Tegal, sate kambing bukan sekadar penghuni tenda pinggir jalan seperti yang biasa saya temui di Semarang. Kuliner ini justru kerap disajikan di restoran yang cukup mentereng, lengkap dengan pendingin ruangan.
Yang bikin saya makin heran, mereka menggunakan daging anak kambing. Sempat terbesit rasa emosional lantaran memikirkan bagaimana mereka harus dipisahkan dari induknya saat masih menyusu. Di sisi lain, rasa penasaran saya kalah oleh fakta bahwa para pedagang ini sudah siap melayani pelanggan sejak pukul 9 pagi.
Bagi warga lokal, menyantap daging kambing yang empuk mungkin jadi mood booster yang paling pas untuk mengawali hari. Namun, bagi saya, kebiasaan ini terasa begitu ganjil. Pasalnya, di Semarang, sate kambing hampir selalu jadi santapan yang baru muncul setelah matahari terbenam.
Kalaupun ada yang nekat berjualan untuk menu makan siang, peminatnya pun bisa dihitung jari. Bagi mayoritas warga Semarang, menyantap sate kambing sebelum petang jelas terasa terlalu berlebihan. Khususnya, untuk ukuran menu sarapan.
Kepala kambing utuh bakar, kuliner khas Tegal yang bikin saya mundur berlahan
Sate kambing muda masih bisa saya terima dengan lapang dada, lain cerita saat berhadapan dengan kepala kambing bakar utuh. Mendengar namanya saja sudah bikin nyali saya menciut. Apalagi kalau harus menatapnya langsung lalu melahapnya.
Memang, lazimnya kuliner ekstrem ini akan dicacah dan dibumbui terlebih dahulu sampai bentuk aslinya samar. Namun, di beberapa warung makan, potongan kepala kambing sering dibiarkan terpampang nyata. Jujur, visual in bikin saya teringat adegan di film-film horor sekte pemuja iblis berkepala kambing.
Saya sadar, kapasitas adaptasi lidah saya ada batasnya. Bagaimanapun, kenikmatan kuliner itu bukan cuma soal rasa yang menyentuh indra pengecap. Tapi, juga aroma yang dihirup hidung dan visual yang ditangkap mata.
Jadi, di medan pertempuran kuliner ini, saya memilih untuk angkat tangan. Mungkin saya memang belum cukup sakti untuk menaklukkan menu tersebut. Tapi, keputusan untuk mundur perlahan jauh lebih baik daripada harus dibayang-bayangi mimpi buruk di malam hari.
Petualangan menjelajahi kuliner Tegal menyadarkan saya bahwa selera memang hal yang sukar bisa dipaksakan. Setidaknya, saya sudah berani jujur dengan diri sendiri. Mencoba kuliner khas di suatu daerah bukan sekadar perkara makan, foto, lalu unggah ke media sosial.
Lebih dari itu, ini adalah bentuk refleksi bagi saya untuk tetap rendah hati. Kemudian, menerima bahwa ada kalanya kuliner bisa menjadi gegar budaya yang bikin seseorang terdiam dan akhirnya terpaksa menyerah.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













