Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

4 Kuliner Populer Palembang yang Nggak Cocok untuk Semua Lidah

Siti Atika Azzahrah oleh Siti Atika Azzahrah
6 Juli 2026
A A
4 Kuliner Populer Palembang yang Nggak Cocok untuk Semua Lidah Mojok.co

4 Kuliner Populer Palembang yang Nggak Cocok untuk Semua Lidah (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya tumbuh besar di Lampung. Sulit dimungkiri, hal itu bikin lidah saya sulit akrab dengan kuliner Bandar Lampung daripada Palembang. Sekalipun ayah saya orang asli Palembang dan kami sering mampir ke sana, lidah ini masih sulit menerima beberapa rasa makanan Palembang. 

Awalnya, saya pikir, sama-sama tinggal di Pulau Sumatera akan membuat lidah ini mudah beradaptasi. Nyatanya salah, tidak semua kuliner Palembang saya doyan, sekalipun makanan tersebut sudah populer dan disukai banyak orang. 

ADVERTISEMENT

Beberapa makanan yang bisa diterima lidah saya cuma tekwan, pempek, dan kemplang. Selain itu, lidah saya lebih memilih menghindarinya. 

Saya nggak bilang makanan di Palembang nggak enak ya. Ini hanya soal kebiasaan dan selera. 

#1 Malbi, kuliner Palembang yang nggak cocok untuk mereka yang bukan penggemar daging sapi dan rasa manis

Siapa sih orang Sumatera Selatan yang nggak tahu malbi? Dari tampilan memang sekilas mirip rendang, tetapi kuliner Palembang ini lebih cocok disebut semur daging versi Palembang. Cita rasanya manis, gurih, dan legit berkat kecap (manis dan asin), gula merah, serta gongsengan kelapa. Enak kok, enak.

Yang jadi masalah bukan karena malbi berasa asing di lidah. Sebabnya sesederhana saya memang nggak suka daging sapi. Kalau nggak salah, kali terakhir saya makan malbi sudah lebih dari satu dekade lalu dan sejak itu pun nggak pernah merasa rindu. Terlebih, selain berbahan daging sapi, rasanya juga manis, kombinasi yang buat saya sama sekali nggak menggugah selera makan.

Lantas bagaimana dengan kalio atau rendang yang juga kekhasan Sumatera? Saya pun nggak terlalu doyan, tapi mendingan karena cita rasanya dominan pedas. Meskipun di Bandar Lampung jauh lebih mudah menemukan rendang daripada malbi (di RM Padang tentunya), dalam setahun terakhir jumlah saya makan rendang agaknya masih bisa dihitung dengan jari tangan kanan.

Sekali lagi, alasannya memang lantaran saya bukan penggemar daging-dagingan saja. Jangankan hari-hari biasa, pada momen Lebaran pun sering kali enggan saya menyantapnya. Kalau di meja makan terhidang malbi dan tempe bacem yang jelas sama-sama manis, saya akan memilih tempe yang nggak bikin enek dan jauh lebih ringan di lidah.

Baca Juga:

4 kesalahan pembeli saat menyantap cuanki yang membuat rasanya kurang nikmat 

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

#2 Martabak HAR, kuliner populer Palembang yang nggak membangkitkan selera

Saya bukan penggemar martabak, baik itu martabak manis maupun martabak telur yang dengan mudah ditemukan di berbagai sudut Kota Bandar Lampung. Bukannya di Bandar Lampung nggak ada yang enak ya. Banyak kok yang rasanya aduhai. Memang pada dasarnya bukan makanan kesukaan saja. Kalau dibelikan orang lain, bagi satu potong bolehlah.

Itu mengapa, saya penasaran dengan Martabak HAR, kuliner legendaris yang ada sejak 1947. Terlebih lagi, siraman kuah kari kentalnya itu jelas menjadi pembeda dari martabak telur yang selama ini pernah saya coba.

Barangkali memang salah saya yang berekspektasi ketinggian. Waktu akhirnya berkesempatan mencoba, sukar bagi saya untuk benar-benar mendeskripsikan rasanya. Terlalu hambar dan terlampau ramai secara bersamaan. Dibilang enak, nggak. Dibilang nggak enak, juga enak.

Sayang sekali, kuah kari bercampur potongan kentang yang berempah terlalu tebal di lidah. Cuka hitam dengan irisan cabai rawit sebenarnya cukup membantu untuk menyeimbangkan rasa, tetapi kombinasi ketiganya tetap saja nggak bikin saya tertarik untuk menghabiskan barang sepotong.

ADVERTISEMENT

#3 Mie celor, lagi-lagi saya dipatahkan oleh ekspektasi diri sendiri

Sekali waktu pulang kampung ke Kecamatan Gandus bersama Ibu, saya terus-terusan nyeletuk pengin menyantap kuliner Palembang mie celor. Soalnya, ibu saya kerap bercerita tentang Mie Celor 26 Ilir H. Syafei yang juga melegenda di Palembang selain Martabak HAR. Di kepala saya, rasanya pasti enak banget. Sayang, lokasinya sangat jauh dari rumah nenek di Palembang. 

Begitu akhirnya berkesempatan mencicipi mie celor yang dinanti-nanti, lagi-lagi saya dipatahkan oleh ekspektasi. Mie kuning yang besar dan tebal berpadu dengan kuah santan udang yang sangat pekat dan kental itu terasa amat berat di lidah. Padahal, sebelum itu saya benar-benar yakin bakal doyan.

Kendati aslinya saya menyukai udang, rupanya perpaduan aroma kaldu udang dan santan menjadi asing saat dicecap. Creamy dan gurihnya memang terasa, tetapi saking medoknya saya sudah keburu enek sejak suapan pertama. Sudah jelas berbeda 180 derajat dengan sensasi menyesap kuah tekwan yang bening, ringan, dan segarnya selalu bikin nambah porsi.

Saya pun nggak langsung menyerah. Soalnya, sudah lama saya pengin makan mie celor. Sambalnya pun sudah saya tambahkan dengan harapan bakal jauh lebih cocok di lidah. Nyatanya nggak terlalu menolong. Lidah saya tetap menolak untuk lanjut ke suapan berikutnya, apalagi menandaskan isi mangkuk. Lagi-lagi memang bukan jodoh.

#4 Pindang ikan patin, kuliner Palembang yang nggak saya suka

Sejujurnya, dulu saya sempat mengira bahwa pindang adalah jenis masakan berkuah yang ada di mana-mana, seperti sup. Apalagi isiannya pun variatif, mulai dari ikan patin, ayam, daging sapi, tulang sapi, dan lain-lain. Bikinnya pun nggak susah.

Baru setelah mengobrol dengan teman dari Pulau Jawa, saya mengetahui fakta bahwa definisi pindang yang kami maksud berbeda. Hidangan pindang yang selama ini saya kenal ternyata nggak umum di Indonesia dan barangkali populer di Pulau Sumatera bagian selatan saja.

Berbeda dengan malbi yang lebih lazim dijumpai pada momen Lebaran atau Martabak HAR dan mie celor yang cukup saya makan sekali dalam hidup, saya sudah terbiasa menyantap pindang di Bandar Lampung sebagai lauk harian.

Sayangnya, lidah saya hanya bisa menoleransi pindang ayam untuk dimakan berkali-kali tanpa merasa bosan ataupun mual. Pindang daging dan tulang sapi paling hanya sekali, bukan untuk diulang tiga kali sehari. Kalau pindang ikan patin? Duh, benar-benar nggak sanggup.

Ikan patin bisa dibilang salah satu ikan yang paling saya hindari. Kendati digoreng garing pun masih nggak bikin selera. Tetap amis dan bau tanah. Apalagi lembek berkuah? Lihat kulitnya saja sudah merinding dan geli.

Nah, itulah beberapa kuliner Palembang yang nggak cocok di lidah saya. Sebenarnya masih ada banyak, tapi saya capek kalau disebutkan semua. Intinya, saya tetap paling cinta pempek (apalagi telur dan adaan) serta tekwan di dunia ini. Selebihnya yah … cukup tahu saja. Toh, masih banyak orang Sumatera Selatan yang doyan. Nggak harus saya juga.

Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Kuliner Khas Tulungagung yang Disukai Warlok, tapi Kurang Cocok di Lidah Pendatang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2026 oleh

Tags: bandar lambungKulinerkuliner palembangMakananmakanan palembangpalembang
Siti Atika Azzahrah

Siti Atika Azzahrah

Lulusan Akuntansi Unila yang punya passion sebagai abang-abang fotokopian dan bercita-cita jadi peneliti laut dalam. Hobi pura-pura jual duren di Jalan Lintas Sumatera.

ArtikelTerkait

6 Kuliner Jogja yang Cocok untuk Lidah Jawa Timur terminal mojok.co

6 Kuliner Jogja yang Cocok untuk Lidah Jawa Timur

15 Desember 2021
Kue Khas Palembang yang Jarang Diketahui Orang dan Terancam Punah Terminal Mojok

Kue Khas Palembang yang Jarang Diketahui Orang dan Terancam Punah

3 Oktober 2022
Bandung di Mata Orang Palembang: Udah Mahal, Banyak "Anjing" pula

Bandung di Mata Orang Palembang: Udah Mahal, Banyak “Anjing” pula

24 Februari 2024
10 Rekomendasi Kuliner di Kampung Durian Runtuh Upin & Ipin Terminal Mojok.co

10 Rekomendasi Kuliner di Kampung Durian Runtuh Upin & Ipin

22 Maret 2022
Kol Goreng, Lalapan Nikmat yang Mengandung Bahaya

Kol Goreng, Lalapan Nikmat yang Mengandung Bahaya

5 Mei 2022
Panduan Memahami Perbedaan Olive, Popeye, dan Yogya Chicken: 3 Ayam Goreng Lokalan Jogja terminal mojok.co

Panduan Memahami Perbedaan Olive, Popeye, dan Yogya Chicken: 3 Ayam Goreng Lokalan Jogja

27 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kisah bapak saya cari kerja bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang Mojok.co

Kisah cari kerja di generasi bapak saya bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang

13 Agustus 2026
5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri, bukan di Indonesia Mojok.co

5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri karena lingkungan akademis Indonesia belum siap

14 Agustus 2026
Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Ganti pemimpin Surabaya ternyata nggak makin berbenah: lahan parkir selalu saja jadi masalah pelik meski berkali-kali dikritik

15 Agustus 2026
Pantai Alam Indah tempat wisata Tegal yang tidak spesial, cukup dikunjungi sekali saja Mojok.co

Pantai Alam Indah tempat wisata Tegal yang tidak spesial, cukup dikunjungi sekali saja

13 Agustus 2026
Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

13 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.