Sebagai warga lokal (warlok) Tulungagung, saya mau menyarankan satu hal kepada pendatang dan wisatawan. Tidak semua kuliner Tulungagung cocok di lidah kalian. Ada beberapa kuliner yang memang lebih mudah diterima lidah warlok daripada orang luar.
Saya tidak bisa mengatakan makanan-makanan ini nggak enak. Hanya saja, beberapa kuliner Tulungagung punya cita rasa yang sangat khas sehingga mungkin terasa asing di lidah pendatang maupun wisatawan. Setidaknya itulah yang saya tangkap dari cerita mereka para wisatawan dan pendatang.
#1 Rujak Sayur, kuliner Tulungagung yang terdengar aman dari namanya, tapi tidak dengan rasa dan teksturnya
Mendengar nama rujak sayur, kebanyakan orang langsung membayangkan campuran aneka sayuran segar dengan bumbu kacang seperti lotek atau pecel. Namun, ekspektasi itu buyar ketika kuliner Tulungagung satu ini tersaji di meja makan.
Sesuai dengan namanya, isi makanan satu ini memang sayuran rebus, tapi tampilannya jauh dari kata menggoda. Terlebih bagi mereka yang baru pertama kali melihatnya. Warna bumbunya pekat dan aromanya pun kuat. Banyak pendatang yang akhirnya cuma menatap makanannya beberapa menit sebelum mulai mencoba.
Suapan pertama biasanya menjadi momen yang menentukan. Rasa bumbunya unik karena perpaduan pedas, manis, gurih, dan sedikit aroma khas yang tidak semua orang langsung suka. Sayurnya juga direbus sampai benar-benar empuk sehingga teksturnya berbeda dengan salad atau lalapan yang biasa dimakan orang luar.
Buat warga Tulungagung, rasa dan tekstur itu yang dicari. Buat pendatang, belum tentu bisa langsung menikmati. Yang menarik, rujak sayur justru punya banyak penggemar setia di kalangan warga lokal. Mereka sudah akrab dengan rasanya sejak kecil sehingga makanan ini terasa seperti menu rumahan yang bikin kangen.
Akan tetapi, pendatang biasanya butuh dua atau tiga kali mencoba sebelum mulai paham letak nikmatnya. Jadi jangan buru-buru memesan kalau cuma tergoda namanya saja. Bisa jadi ekspektasi dan kenyataannya malah bertolak belakang.
#2 Sompil, kuliner yang bikin orang luar garuk-garuk kepala
Sompil adalah salah satu makanan yang sering membuat orang luar bingung sejak pertama melihatnya. Bentuknya sederhana dan tampilannya tidak terlalu mencolok. Kalau belum dijelaskan, banyak yang bahkan tidak tahu ini makanan utama atau sekadar camilan. Warga lokal menganggapnya biasa saja. Pendatang justru sibuk bertanya ini sebenarnya makanan apa.
Teksturnya menjadi tantangan terbesar. Ada sensasi kenyal yang tidak semua orang langsung nyaman saat mengunyahnya. Kuah dan bumbunya juga punya cita rasa yang sederhana, tetapi tetap khas. Justru karena terlalu sederhana itulah banyak wisatawan merasa biasa saja. Padahal warga lokal bisa menikmati semangkuk sompil dengan penuh selera.
Sompil memang bukan makanan yang dibuat untuk mengejar penampilan. Nilai utamanya ada pada tradisi dan kebiasaan masyarakat yang sudah menikmatinya sejak lama. Orang Tulungagung sering merasa makanan ini membawa nostalgia masa kecil. Pendatang belum tentu merasakan hal yang sama. Jadi tidak heran kalau setelah sekali mencoba ada yang memilih tidak memesan lagi.
#3 Punten pecel, kuliner Tulungagung favorit warlok yang banyak dihindari pendatang
Punten pecel sering dianggap sebagai salah satu menu sarapan yang wajib dicoba di Tulungagung. Namun, wajib buat warga lokal belum tentu berarti cocok buat semua orang. Bentuk puntennya yang berasal dari nasi dengan tekstur padat sering membuat pendatang kaget. Mereka mengira sedang makan lontong atau ketupat. Setelah digigit, ternyata sensasinya benar-benar berbeda.
Perpaduan punten dengan bumbu pecel juga bukan kombinasi yang umum di banyak daerah. Tekstur punten yang lembut bertemu bumbu kacang yang kental menciptakan sensasi makan yang cukup unik. Sebagian orang langsung jatuh cinta. Sebagian lagi justru merasa terlalu berat untuk sarapan. Semua kembali ke kebiasaan lidah masing-masing.
Buat warga Tulungagung, punten pecel adalah makanan yang penuh kenangan. Banyak orang tumbuh besar dengan menu ini setiap pagi sebelum berangkat sekolah atau bekerja. Karena sudah terbiasa, mereka bisa menghabiskan seporsi tanpa berpikir panjang. Pendatang biasanya membutuhkan waktu untuk memahami kenapa makanan sederhana ini begitu dicintai. Jadi jangan heran kalau respons setiap orang bisa sangat berbeda.
#4 Capar tape tidak untuk dipesan dua kali
Nama capar tape memang terdengar unik. Banyak wisatawan langsung penasaran karena mengira rasanya bakal seperti jajanan manis pada umumnya.
Kenyataannya tidak sesederhana itu. Aroma tape yang cukup kuat langsung terasa sejak makanan ini disajikan. Buat penggemar tape mungkin ini surga kecil. Buat yang tidak terbiasa, aromanya saja sudah menjadi tantangan.
Saat mulai dimakan, rasa manis khas tape langsung mendominasi. Ada sensasi fermentasi yang membuat cita rasanya berbeda dari jajanan biasa. Tidak sedikit orang yang langsung berhenti di suapan pertama karena belum terbiasa.
Capar tape memang bukan kuliner Tulungagung yang dibuat supaya semua orang langsung suka. Kuliner ini lebih cocok dinikmati oleh orang yang memang senang mencoba rasa-rasa tradisional yang khas. Kalau ekspektasinya mencari makanan yang aman di lidah, kemungkinan besar bakal kecewa.
Itulah, 4 kuliner khas Tulungagung yang tidak direkomendasikan untuk pendatang dan wisatawan. Pada akhirnya, makanan-makanan khas Tulungagung ini bukan berarti tidak enak. Justru keunikannya menjadi identitas yang membedakan daerah ini dengan daerah lain.
Hanya saja, tidak semua kuliner tradisional cocok dijadikan menu pertama bagi pendatang atau wisatawan. Lidah juga butuh waktu untuk beradaptasi. Itu hal yang sangat wajar.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 8 Kuliner Legendaris di Solo yang Sering Disebut dan Beneran Enak.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













