Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Panduan Memahami Perbedaan Olive, Popeye, dan Yogya Chicken: 3 Ayam Goreng Lokalan Jogja

Riyanto oleh Riyanto
27 April 2021
A A
Panduan Memahami Perbedaan Olive, Popeye, dan Yogya Chicken: 3 Ayam Goreng Lokalan Jogja terminal mojok.co

Panduan Memahami Perbedaan Olive, Popeye, dan Yogya Chicken: 3 Ayam Goreng Lokalan Jogja terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Dari semua jenis gerai ayam goreng krispy lokalan Jogja, jujur saya paling sering mengonsumsi Yogya Chicken, atau yang biasa disingkat menjadi Jogcik. Bukan permasalahan rasa atau apa, semata-mata karena salah satu gerainya berada begitu dekat dengan tempat kerja. Lantas, saat jam makan siang tiba, saya tinggal berjalan kaki dan memesan Paket B yang isinya Ayam Paha Atas atau Dada, plus nasi satu kepal, dan es teh.

Semua ayam goreng krispy sama saja rasanya bagi saya, dan membandingkan ketiganya hanya akan menjadi pekerjaan sia-sia. Akan tetapi, ketika saya ngobrol dengan banyak teman, ternyata mereka mengklaim bahwa Olive adalah ayam goreng krispy terbaik. Berangkat dari suara mayoritas itu, saya iseng membuat polling di Instagram tentang mana yang dipilih antara Olive, Popeye, atau Jogcik beserta alasan mereka, dan hasilnya sungguh mengejutkan saya. Olive menjadi pilihan hampir semua yang mengikuti poling. Di bawah Olive, jawabannya random, mulai dari semuanya enak, atau malah Geprek Bensu, atau malah ayam goreng gerobakan.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan fakta itu, saya iseng untuk mencoba ketiga ayam goreng krispy itu dalam sekali waktu. Sudah cukup lama juga tidak memakan ayam-ayaman. Hal ini semakin membuat mantap keinginan untuk berbuka puasa dengan ketiga jenis ayam goreng krispy lokalan Jogja itu.

#1 Popeye Express: Tepung paling manis dan out of the box

Saat saya membuka box pembungkusnya, saya mendapati satu kepal nasi, satu saus cabai, satu saus tomat, dan tentu saja yang paling utama, sepotong ayam goreng krispy. Lumayan terkejut melihat betapa tepung krispy yang menyelimuti sepotong ayam goreng itu begitu sedikit, pun warnanya cenderung gelap. Saya lupa kapan terakhir memesan ayam goreng krispy dari gerai Popeye sebelumnya, pun lupa apakah bentuknya sama seperti yang saya beli kala itu.

Untuk disebut ayam goreng krispy, Popeye memiliki banyak pekerjaan rumah dari segi ke-krispy-annya. Tepung yang sangat sedikit, pun ketika saya coba sedikit bagian tepungnya, teksturnya sangat tidak krispy dan cenderung lembek.

Out of the box, saya justru menemukan rasa manis di sela-sela rasa gurih yang ada. Entah tepung jenis apa yang digunakan untuk bahan krispy-nya, yang jelas tepung itu membuat ayam goreng Popeye menjadi kehilangan tekstur krispy-nya.

Satu hal lagi yang paling krusial adalah kerenyahan kulit. Hampir sebagian besar manusia di Indonesia menyukai kulit renyah dari ayam goreng krispy. Pasalnya, pada bagian itulah bumbu akan meresap dengan baik. Bagaimana dengan kulit di ayam goreng gerai Popeye? Sama sekali tidak bisa dikelupas, pun sama sekali tidak renyah. Ia kehilangan romantisme jika dinikmati bersama pacar. Lantaran, bagian paling romantis saat makan ayam goreng krispy bersama pacar adalah ketika saya merelakan kulit renyah untuk pasangan saya, atau justru sebaliknya.

Bagaimana dengan ayamnya? Untuk rasa daging ayamnya biasa saja. Perpaduan antara asin, gurih, dan sekali lagi manis. Iya, biasa saja, mengingat hampir semua ayam goreng krispy akan memiliki rasa daging ayam biasa saja apabila kulit luarnya telah tandas dimakan terlebih dahulu.

Baca Juga:

Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg, padahal tahu gudeg yang enak, gurih, dan murah?

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

Akan tetapi, saya memiliki variabel lain untuk menentukan apakah ayam goreng—entah krispy atau bukan—dimasak dengan baik atau tidak. Itu adalah tulang-tulangnya. Saya adalah tipe pemakan ayam goreng yang harus tandas ke tulang-tulangnya. Jarang akan ada tulang tersisa banyak jika saya sudah memakan ayam goreng. Bagi saya, ayam goreng dimasak dengan baik jika bagian tulangnya bisa renyah dan bisa dikunyah sampai tuntas. Hal ini tidak terjadi pada tulang pada ayam goreng krispy gerai Popeye. Tulang-tulangnya masih berminyak dan keras sehingga ketika selesai memakan bagian dagingnya, masih banyak tulang yang tersisa.

#2 Yogya Chicken: Es tehnya terbaik

Mungkin ini di luar konteks, tetapi saya harus menekankan bahwa es teh Yogya Chicken adalah es teh yang luar biasa enak. Tidak terlalu manis, menyegarkan, dan rasa tehnya masih kental. Barangkali yang bisa mengalahkan es teh Yogya Chicken adalah es teh yang dibuat Pak Kus, pemilik angkringan di dekat kos saya dulu semasa kuliah.

Oke, lantas bagaimana rasa ayam goreng krispy-nya? Jogjcik mengklaim sebagai pelopor ayam goreng lokal di Jogja. Entah klaim itu benar atau tidak, yang jelas ayam goreng produksi gerai mereka tidak pernah mengecewakan.

Tepung krispy-nya sempurna membungkus sepotong daging ayam, pun teksturnya benar-benar krispy, dan warnanya jauh lebih terang jika dibandingkan dengan Popeye. Cokelat terang, lebih tepatnya. Cobalah mengelupas bagian kulitnya, maka lapisan renyah itu akan terangkat dan siap dijadikan ajang rebutan bersama teman atau pasangan.

Bagaimana dengan rasanya? Yogya Chicken cenderung asin dan terasa bumbu bawangnya di bagian daging permukaan, dan semakin ke dalam cenderung semakin hambar, khas ayam goreng pada umumnya. Itulah alasan saya selalu memilih bagian dada tulang atau paha atas untuk setiap bentuk ayam goreng. Potongan ayam bagian dada yang full daging akan cenderung hambar dibandingkan dengan bagian lain yang memiliki tulang. Tulang adalah daya tarik tersendiri bagi saya, bumbu yang meresap ke tulang akan menyelamatkan daging dari rasa hambar itu.

Akan tetapi, Yogya Chicken memiliki masalahnya yang telah begitu klasik sejak dulu, yaitu rasa ayam yang apek. Selain itu, banyak bagian dalam yang masih merah, terutama di dekat-dekat tulang, dan itu lumayan fatal menurut saya. Saya tidak tahu apakah itu permasalahan penggorengan atau apa, tetapi melihat bagian daging masih merah membuat saya, tidak bisa tidak, merasa bahwa daging itu belum dimasak dengan sempurna.

#3 Olive: Kemasannya estetik

Lantaran terlalu kenyang memakan nasi ayam pada dua gerai sebelumnya, maka saya memutuskan untuk memesan Olive tanpa nasi. Pak Gojek datang membawakan pesanan saya yang ternyata dibungkus paperbag alih-alih box persegi panjang seperti Popeye dan Jogcik. Entahlah, jika saya pesan tanpa nasi dari dua gerai sebelumnya, barangkali kemasannya tak akan jauh beda.

Pada sebungkus paperbag itu terdapat satu saus tomat, satu saus cabai, dan tentunya sepotong ayam goreng krispy, yang begitu melihatnya, saya langsung kagum. Tepung krispy-nya sempurna menutupi sepotong ayam goreng tersebut, pun berwarna cokelat keemasan. Tampak sangat menggoda dari segi tampilan. Lantas, bagaimana dengan rasanya, yang konon digadang-gadang sebagai rasa ayam goreng lokalan paling enak itu?

Rasanya tidak jauh berbeda dengan Jogcik. Ia asin dan gurih. Bedanya dengan Jogcik, bumbu pada sepotong ayam goreng itu jauh lebih meresap ke dalam. Pun dagingnya sungguh juicy karena konon pendiri Olive mengatakan selalu menggunakan ayam segar yang tidak dibekukan untuk setiap porsinya.

Saya tidak menemukan bagian daging yang masih merah pada sepotong ayam goreng krispy tersebut. Ditambah, bagian tulangnya benar-benar renyah sehingga ketika saya selesai makan, hampir tidak ada tulang tersisa dari satu porsi ayam goreng tersebut.

Lantas, mana yang terbaik menurut saya? Ah, itu tidaklah penting. Saya hanya memaparkan apa yang saya lihat dan rasakan, soal pilihan itu kembali pada Anda sekalian.

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi Riyanto

BACA JUGA 4 Hal yang Jadi Pertimbangan Sebelum Beli Ayam Goreng Tepung Kaki Lima dan tulisan Riyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2021 oleh

Tags: ayam gorengJogjaKulinerOlive chickenPopeye ExpressYogya Chicken
Riyanto

Riyanto

Juru ketik di beberapa media. Orang yang susah tidur.

ArtikelTerkait

Ketimbang Kulit Ayam, Tulang Rawan Masih Selevel Lebih Enak terminal mojok.co

Kulit Ayam itu Bukan Cuma Enak, Tapi Enak Banget!

13 Agustus 2019
Titik Nol Jogja: Tempat Terbaik Wisatawan untuk Menonton Kemacetan dan Keruwetan Hidup Warga Jogja Mojok.co

Nol Kilometer Jogja: Titik Terbaik bagi Wisatawan Mengenal Kacaunya Kota Jogja

15 Februari 2024
5 Fakta Unik Terkait Kampus STPMD "APMD" Jogja, Kampusnya Calon Pejabat

5 Fakta Unik Terkait Kampus STPMD “APMD” Jogja, Kampusnya Calon Pejabat

10 September 2023
Pengantin Baru Dilarang Lewat 3 Jalan di Jogja Ini karena Bisa Celaka

Pengantin Baru Dilarang Lewat 3 Jalan di Jogja Ini karena Bisa Celaka

4 Februari 2024
makelar kontrakan jogja bapak kos terminalmojok

Semua Warga Jogja itu Ramah, kecuali Bapak Kos

4 Februari 2021
Makan Nasi Padang Pakai Sendok Itu Kurang Kerjaan terminal mojok.co

Makan Nasi Padang Pakai Sendok Itu Kurang Kerjaan

21 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang  Mojok.co

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

19 Juli 2026
Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri Mojok.co

Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri

18 Juli 2026
Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Potensi Besar, Hasil Dipertanyakan: 3 Alasan Warga Situbondo Wajib Kecewa dengan Daerahnya yang Gitu-gitu Aja

13 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026
Advan 360 Stylus: Laptop Lokal yang Bisa Jadi Tablet tapi Kurang Laris di Pasaran

Saya menyesal membeli laptop Advan, sebetulnya niat nggak sih bikin produk lokal yang bagus?

16 Juli 2026
Berhentilah Percaya Stigma Buruk Jalur Pantura Subang, Kawasan Ini Bukan Cuma soal Warung Remang-remang

Berhentilah percaya stigma buruk jalur pantura Subang, kawasan ini bukan cuma soal warung remang-remang

13 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.